Ku termenung pada belenggu kenyataan, dalam hemburan perbedaan yang tidak merasakan kedamaian dan ketenangan.
Ku memulai pada diriku melihat kenyataan, entah mataku yang buram melihat rumah pancasila dalam keadaan sedang diobok-obok oleh oknum yang tidak bertanggungjawab.
Mereka hanya bisa tertawa, sementara rakyat yang menjadi korban.
Semangat pancasila kini hanya menjadi pajangan, walaupun cita-cita revolusi belum usai.
Entah bagaimana kesedihan para pejuang pendahulu bangsa ini, melihat anak cucunya yang mabuk dalam arus zaman dan saling bertengkar satu sama lain.
Ku buka lembaran-lembaran murnihnya cita-cita bangsa ini, tetapi pancarannya hilang ditelan bumi.
Apakah kerinduanku untuk kedamaian masih ada?
Apakah ada generasi berani menggali cita-cita bangsa yang ditelan bumi?
Apakah rinduku ini bukan hanya impian disiang hari?
Biarlah waktu yang menjawabnya!
Karena Indonesiaku, tempat aku mengarungi kehidupan di negeri yang kara raya ini.
Biarlah rinduku ini, terkubur dalam bayangan bersama keindahanmu Indonesiaku.
Baca Juga
Artikel Terkait
Sastra
Terkini
-
Tim Produksi Roshidere Tunda Jadwal Tayang Season 2 ke 2027, Ini Alasannya
-
Cinema oleh Woodz: Kenangan Kisah Cinta Masa Lalu yang Bikin Gagal Move On
-
Hidangan Imlek Penuh Makna: 5 Makanan Khas yang Identik dengan Imlek
-
Kerumunan Terakhir: Ketika Harga Diri Runtuh di Hadapan Penghakiman Netizen
-
Apri/Lanny Main Rangkap di China Masters 2026, Strategi atau Eksperimen?