Sudah lebih dari setengah jam, Har mengamati selembar uang di tangannya. Uang itu licin, mengilap, bersih dari noda ataupun coretan, dan tanpa lipatan sedikit pun. Bahkan saat Har mendekatkan uang itu ke hidung, aroma khas uang baru meruap jelas.
"Masih bau bank," desis Har pelan.
Selembar uang seratus ribu itu Har peroleh dari hasil memulung barang-barang bekas dan menjualnya ke Wak Syarif, pengepul rongsok di kampungnya. Sebagian uang hasil penjualan lalu Har simpan di tabungan pengajian yang ia ikuti tiap sore di rumah Ustaz Nugraha.
Tiga hari lalu sang ustaz membagikan tabungan para anak didiknya, karena Ramadhan sudah di ambang mata dan mereka akan libur panjang dari kegiatan mengaji, sampai nanti pengajian dibuka kembali seusai lebaran.
Baru sekali ini bocah sepuluh tahun itu memegang uang seratus ribu. Sebuah nominal yang bahkan tak pernah mampir di mimpinya yang paling sederhana sekalipun. Kehidupan Har jauh dari berkecukupan, jadi ia tak pernah punya keinginan macam-macam.
Ketika selembar uang seratus ribu, miliknya sendiri yang masih baru dan licin, ada di jepitan jari-jarinya, Har menjadi bingung. Apa yang harus ia lakukan dengan uang itu. Kebingungan yang akhirnya membuat Har, selama tiga hari ini, hanya menyimpan uang itu di antara halaman buku tulis untuk mencegahnya rusak atau lecek.
"Duitnya diliatin terus."
Satu suara dari balik punggungnya membuat Har mengangkat wajah. Didapatinya raut wajah Pri yang sedikit basah bekas sapuan air wudu. Sahabatnya itu mengeluarkan Al-qur'an dari dalam tas kain bertali serut.
"Ngaji dulu, yuk! Gantian sana ambil air wudu," ajak Pri. Lantas tanpa menunggu jawaban Har, bocah kurus berkulit sawo matang itu sudah menyender ke sudut favoritnya dan memulai tilawah.
Har menyelipkan kembali uang seratus ribunya di antara halaman buku, mengembalikannya ke dalam tas. Sejak pengajian tutup selama bulan Ramadhan, ia dan Pri mengganti waktu mengaji mereka yang biasanya diadakan di rumah Ustaz Nugraha, dengan mengaji di sebuah dangau di antara hamparan sawah-sawah yang padinya mulai menguning.
Tak sepetak pun sawah di sana milik keluarga Har ataupun Pri, tapi mereka senang menghabiskan waktu di sana. Udara segar di tengah terik siang, menjaga keduanya dari rasa lelah ataupun haus dan lapar yang membuat mereka lebih nikmat menjalani puasa.
Mungkin nanti setelah mengaji, aku jauh lebih tenang dan bisa tahu harus melakukan apa dengan uang ini, pikir Har. Ia pun segera beranjak ke kali kecil untuk mengambil air wudu.
***
"Kasih ibumu aja, buat berobat," cetus Pri, setelah ia dan Har selesai mengaji. Har ikut tiduran di sebelah Pri sambil menopang kepalanya dengan kedua lengan, sementara Pri mengganjal kepalanya dengan kain sarung. Mata bulatnya membuka tutup, digoda semilir angin yang juga membelai kedua mata Har.
"Tiap minggu, kan, sudah ada dokter puskesmas yang datang periksa ibu. Kasih obat gratis juga."
Memang sudah setengah tahun ini, ibunda Har menderita lumpuh dari pinggang ke bawah. Entah apa penyebabnya. Tiap malam, Har atau bapak akan mengurut kaki ibunya dengan minyak bawang, berharap kesembuhan akan segera datang.
"Ya sudah, kasihkan bapakmu saja. Buat beli rokok kek, sandal baru kek."
Har menerawang, teringat bapaknya yang cuma seorang buruh serabutan dan nyaris tak pernah punya uang. Terkadang para juragan di desanya memakai tenaga sang bapak untuk membersihkan kandang ternak, memperbaiki alat-alat pertanian, atau membuat pagar di ladang-ladang.
Bila datang musim panen, bapaknya akan diperbantukan di sawah atau perkebunan. Hasilnya tentu tak seberapa. Seringkali upah yang diterima malah bukan berupa uang, tapi sayur-mayur dan buah-buahan hasil panen. Semua pemberian itu selalu bapak syukuri sepenuh hati.
"Bapakku enggak ngerokok, belum butuh sandal baru juga. Sandal yang lama masih bagus, soalnya cuma dipakai pas lebaran. Lagian bapak pasti marah kalau aku ngasih uang ke beliau. 'Bapak masih bisa cari uang sendiri. Kamu simpan saja uangmu, Har.' Pasti bapak ngomong begitu."
"Iih ... repot amat, sih." Pri berseru gemas sambil bergerak bangkit. "Buat aku aja, deh," katanya lagi sambil pura-pura hendak meraih tas Har yang tergeletak di atas kepala mereka bersisian dengan tasnya sendiri.
"Enak aja." Har buru-buru ikutan bangkit, menepis tangan Pri sebelum berhasil menjangkau tasnya. Lalu mereka berdua tertawa-tawa. Lama sekali.
"Kalau kamu bingung, coba kamu salat terus berdoa. Minta tolong sama Allah mau diapakan uangmu itu. Biar benar-benar tepat mau digunakan untuk apa dan kamunya juga nggak nyesel," ucap Pri perlahan usai tawa mereka reda. Har berpikir sebentar lantas mengangguk-angguk, membenarkan perkataan sahabatnya itu.
"Nanti kalau Allah udah kasih jawaban, beritahu ibu bapakmu, Har, biar kamu dapet restu mereka."
Har kembali mengangguk.
"Bisa jadi juga nanti Allah kasih jalan keluarnya lewat mereka."
Pri menguap, lalu kembali merebahkan tubuhnya di atas lantai papan beralas tikar anyaman yang koyak di beberapa tempat.
"Makasih ya, Pri," ucap Har lirih sambil menyentuh kaki sahabatnya. Balasan Pri hanya berupa gumaman tak jelas. Dengkur lelaki kecil itu tak lama mulai terdengar membuat Har tersenyum. Ia berjanji dalam hati akan segera melaksanakan apa yang sudah Pri sarankan tadi.
***
Dua hari kemudian tampak kesibukan di teras samping musala. Tampak beberapa orang perempuan tua dan muda sedang menuangkan cairan gula merah ke deretan piring-piring plastik berisikan bubur sumsum. Har, Pri, dan teman-temannya serta beberapa orang dewasa mulai memenuhi musala.
Senja sudah turun. Sebentar lagi magrib tiba. Takjil di hari pertama puasa Ramadhan kali ini terasa lebih istimewa bagi Har, karena ia ikut ambil bagian dengan memberikan uang seratus ribunya untuk dibelikan bahan baku takjil. Har mendekap dadanya penuh suka cita. Bibirnya lirih mengucap takbir seiring azan yang mulai memanggil orang-orang untuk salat.
Allaahu akbar ... Allaahu akbar.
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS