CERPEN: Sepenggal Kenangan Menggelitik di Senin Sore

M. Reza Sulaiman | Imas Hanifah N
CERPEN: Sepenggal Kenangan Menggelitik di Senin Sore
Ilustrasi jaket denim. (Pixabay/Ashleaf)

Senin sore kali ini rasanya malas sekali. Setelah seharian kembali masuk kerja, di pikiranku hanya ingin rebahan saja. Di luar jendela, bisa kusaksikan langit berwarna abu-abu yang samar—jenis cuaca yang akan membuat siapa pun bimbang antara ingin produktif atau tidur.

Namun, akhirnya aku pun memilih jalan tengah: mencoba merapikan lemari lama yang pintunya sudah susah ditutup. Kebetulan dua hari lagi, lemari baru yang aku beli secara online akan segera datang.

Di tumpukan paling bawah, aku menemukan sebuah jaket denim yang warnanya sudah agak memudar. Jaket ini dulunya seperti seragam wajibku ketika masih bekerja di pasar. Aku membelinya seharga seratus enam puluh ribu rupiah yang dibayar dengan mencicil tiga kali. Entah kenapa, tetapi rasanya aku ingin tertawa mengingat jaketku ini.

Kalau diibaratkan seperti teman lama, ia mungkin adalah teman yang paling menderita karena harus menjadi benda yang menemani pasang surut kehidupan yang kujalani. Misalnya, saat aku kehujanan, saat tidak sengaja aku menumpahkan kuah bakso, atau saat aku curhat soal percintaanku yang amburadul kepada rekan kerjaku saat itu. Jaketku ini mungkin juga mendengarnya, namun ia tidak bisa protes.

Aku merogoh saku kanan pada jaket tersebut. Tanganku menemukan sekeping koin lima ratus rupiah keluaran lama yang warnanya kuning itu, dan sebuah kertas yang berisi catatan. Catatan entah apa, karena aku tidak bisa membacanya; tulisannya sudah terlalu pudar.

Beralih ke saku kiri, aku menemukan gantungan kunci berbentuk kerang. Gantungan kunci ini juga kondisinya tidak terlalu bagus. Melihatnya kembali, tiba-tiba saja sebuah memori lucu berkelebat. Aku ingat gantungan kunci ini adalah pemberian dari seseorang yang pernah aku taksir. Walaupun itu adalah cinta bertepuk sebelah tangan, memori tersebut membuatku sangat ingin tertawa, mengingat bagaimana aku begitu berbunga-bunga hanya karena sebuah gantungan kunci.

“Nih, ada oleh-oleh. Aku habis dari Pangandaran,” katanya pada saat itu. Ia adalah pegawai toko sebelah.

Menerima gantungan yang ia berikan, aku ingat sekali rasanya senang, tetapi malu. Wajahku memerah dan aku berusaha untuk tidak gugup saat hendak mengucapkan terima kasih. Namun, apa mau dikata. Namanya gugup, tidak kenal waktu dan tempat. Aku malah menjawab, “Waalaikumsalam, Aa.”

Alih-alih berterima kasih, aku malah menjawab salam. Sungguh konyol. Namun, kenangan memang tinggal kenangan. Setelah hari itu, tidak ada perkembangan. Kami hanya teman biasa. Lebih tepatnya, ia menganggapku teman biasa dan aku pun tak berani melanggar batasan yang sudah ditetapkan olehnya.

Aku kembali memandangi jaket tua di tanganku. Tidak tahu harus kuapakan. Selain modelnya sudah ketinggalan zaman dan warnanya sudah pudar, sepertinya ukurannya juga sudah tidak muat. Aku mencoba mematut diri di depan cermin dengan mengenakan jaket itu lagi. Sayangnya, betul-betul sudah kekecilan. Aih, memang sudah tidak bisa dipakai.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak