Aku jatuh cinta pada sahabatku dengan cara paling sunyi: pura-pura tidak apa-apa.
***
Namanya Arga. Kami bersahabat sejak semester awal kuliah, sejak tugas kelompok pertama yang berakhir dengan kopi dingin dan tawa panjang di pojok kantin. Sejak saat itu, kebersamaan kami seperti kebiasaan yang tidak pernah dipertanyakan. Duduk bersebelahan di kelas, berbagi playlist, saling mengeluh tentang hidup yang terasa terlalu cepat berjalan.
Orang-orang sering mengira kami pacaran. Aku selalu tertawa mendengarnya, Arga akan menggeleng sambil berkata, “Kami cuma sahabat.” Kata cuma itu selalu ia ucapkan dengan ringan, seolah tidak ada kemungkinan lain di dunia ini. Dan aku? Aku mengangguk, padahal ada sesuatu di dadaku yang terasa mengempis.
Aku tahu sejak kapan perasaan ini berubah. Mungkin sejak Arga mulai menungguku pulang saat hujan deras, tanpa diminta. Atau ketika ia mengingat detail-detail kecil tentangku, kopi tanpa gula, lagu favoritku di saat hujan, hingga caraku selalu cemas sebelum presentasi. Hal-hal yang terlalu personal untuk sekadar sahabat, tapi terlalu abu-abu untuk disebut cinta.
Aku memilih diam.
Cinta diam-diam ini memaksaku menekan rasa, menatanya rapi agar tidak tumpah, agar tidak merusak apa yang sudah ada. Aku belajar tersenyum saat Arga bercerita tentang perempuan yang sedang ia dekati. Namanya Nara. Katanya, Nara baik dan menyenangkan. Aku mengangguk, mendengarkan dengan saksama, meski jantungku seperti diremas perlahan.
“Doain ya,” kata Arga suatu sore.
Aku mengangguk lagi. “Pasti.”
Aku sahabat yang baik. Setidaknya aku berusaha.
Hari-hari berjalan seperti biasa. Kami tetap makan siang bersama, tetap bercanda, tetap saling mengandalkan. Tidak ada yang berubah, kecuali aku yang harus belajar bernapas di antara rasa cemburu yang tidak boleh terlihat. Aku takut kehilangan Arga lebih dari takut menyatakan perasaanku.
Karena bagaimana jika aku jujur, dan ia menjauh?B agaimana jika persahabatan ini pecah hanya karena perasaanku yang sepihak? Aku memilih diam. Lagi.
Suatu malam, Arga datang ke kosku tanpa kabar. Matanya merah, langkahnya berat. Ia duduk di lantai, bersandar di dinding, dan untuk pertama kalinya aku melihatnya rapuh.
“Nara bilang kami sebaiknya cukup berteman,” katanya pelan.
Aku duduk di sampingnya. Tidak mengatakan apa pun. Tidak ada kalimat yang terasa pantas saat itu.
“Aneh ya,” lanjutnya, “padahal aku ngerasa sudah melakukan yang terbaik.”
Aku ingin memeluknya. Ingin mengatakan bahwa ia pantas dicintai dengan lebih utuh. Ingin mengatakan bahwa ada seseorang di dekatnya yang selalu melihatnya, bahkan saat ia tidak melihat dirinya sendiri. Tapi aku tetap diam.
Malam itu, Arga tertidur dengan kepalanya bersandar di bahuku. Aku membiarkannya. Aku menatap langit-langit kamar sambil bertanya pada diri sendiri: sampai kapan aku sanggup mencintai dengan cara seperti ini?
***
Beberapa minggu setelahnya, hubungan kami terasa berbeda. Arga lebih sering diam, lebih sering menatap kosong. Aku tetap ada, seperti biasa. Sahabat yang setia, pendengar yang baik. Tapi hatiku mulai lelah.
Suatu sore, di bangku taman kampus yang sama seperti dulu, Arga berkata, “Kamu pernah nggak sih, suka sama seseorang tapi nggak berani bilang?”
Jantungku berdetak terlalu keras.
“Pernah,” jawabku singkat.
“Kenapa nggak bilang?”
Aku tersenyum kecil. “Takut.”
“Takut apa?”
“Takut kehilangan.”
Arga terdiam lama. Angin menggerakkan daun-daun kering di sekitar kami.
“Kalau aku,” katanya akhirnya, “takut terlambat.”
Aku menoleh padanya. Untuk pertama kalinya, tatapan kami tidak buru-buru berpaling. Ada sesuatu di sana, ragu, jujur, dan rapuh.
“Kadang,” lanjutnya pelan, “orang yang kita cari itu sudah ada dari awal. Tapi kita terlalu sibuk melihat ke arah lain.”
Dunia seolah berhenti sejenak.
Aku ingin bertanya. Ingin memastikan. Tapi suara itu tersangkut di tenggorokanku. Aku terlalu lama hidup dalam diam, sampai lupa bagaimana caranya berbicara.
Arga tersenyum tipis. “Kamu tahu, kamu orang paling penting dalam hidupku.”
Kalimat itu terdengar hangat sekaligus menakutkan.
“Sebagai sahabat,” tambahnya cepat.
Oh.
Aku mengangguk. Lagi.
***
Cinta diam-diam memang seperti itu. Tidak selalu berakhir bahagia, tidak selalu berujung pengakuan. Kadang ia hanya tinggal sebagai rasa yang tidak pernah diberi nama, tapi tumbuh setia di sudut hati.
Aku tetap menjadi sahabat Arga. Tetap tertawa, tetap mendengarkan, tetap ada. Aku belajar bahwa tidak semua cinta harus dimiliki. Ada yang cukup disimpan, dijaga agar tidak melukai siapa pun.
Dan mungkin, suatu hari nanti, jika keberanian itu datang, entah dari aku atau darinya, cinta ini akan menemukan suaranya.
Untuk sekarang, aku mencintainya dalam diam. Dengan cara paling setia yang aku tahu.