Udara di sini tidak pernah benar-benar bergerak. Ia hanya mengental, memerangkap aroma kematian organik yang membusuk, gas metana yang menyengat, dan sisa-sisa kehidupan kota yang dibuang tanpa ampun. Sampah.
Di kejauhan, siluet gedung-gedung kaca berkilau di bawah senja. Namun di sini, di bawah kaki Laras, dunia hanyalah gundukan plastik, logam, dan sisa makanan yang telah kehilangan bentuk aslinya. Semua yang tak berarti.
Laras menyebutnya "Bukit Harapan." Sebuah ironi yang pahit, namun baginya, tumpukan sampah setinggi tiga puluh meter ini adalah satu-satunya alasan adiknya, Gilang, bisa tetap bersekolah. Sore itu, langit berwarna jingga tembaga, serupa warna karat pada kaleng-kaleng soda yang berserakan.
Laras mengayunkan gancunya, sebatang besi dengan ujung melengkung yang telah menjadi perpanjangan tangannya selama sepuluh tahun. Setiap tusukan pada gunungan sampah adalah sebuah pertaruhan. Terkadang ia menemukan botol plastik yang masih bernilai, terkadang ia hanya menemukan bangkai tikus yang sudah mengering. Sangat busuk.
"Mbak, lihat!" seru Gilang dari jarak beberapa meter.
Anak laki-laki berusia sepuluh tahun itu mengangkat sebuah boneka beruang yang kehilangan satu matanya dan bulunya sudah berubah warna menjadi kelabu berminyak. Laras ingin menegur dengan suara serak agar Gilang tidak memeluk barang kotor itu.
Tenggorokannya selalu terasa seperti berpasir, efek dari menghirup debu sampah selama bertahun-tahun. Terpaksa ia menghentikan niatnya menegur. Laras menatap adiknya dengan rasa nyeri yang menghujam dada. Gilang seharusnya berada di taman bermain, bukan di atas kawah busuk ini. Di bawah kaki mereka, tanah tidak pernah stabil.
Sampah-sampah ini bergeser, bernapas, dan terkadang menelan siapa saja yang lengah. Laras teringat Pak Darmo, tetangga mereka di bedeng ujung, yang hilang tertimbun longsoran sampah dua tahun lalu. Jasadnya baru ditemukan tiga hari kemudian, sudah menyatu dengan limbah yang ia kais setiap hari.
Sinar matahari mulai redup, digantikan oleh lampu-lampu sorot dari truk-truk sampah yang terus berdatangan. Suara deru mesin ekskavator di kejauhan terdengar seperti erangan monster kelaparan. Di sinilah Laras sering merasa bahwa manusia tak lebih dari sekadar angka. Bagi orang-orang di balik gedung kaca sana, Laras dan ribuan orang di sini adalah bagian dari ekosistem pembuangan, mesin pengolah organik yang tidak perlu diberi upah layak.
Laras berhenti sejenak, menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan yang legam. Ia menemukan sebuah majalah mode yang robek. Di sampulnya, seorang wanita cantik mengenakan gaun sutra berwarna putih salju, tersenyum ke arah kamera. Laras menyentuh gambar itu.
Kontrasnya sungguh menyakitkan. Tangan Laras penuh luka kecil yang menghitam, kuku-kukunya pecah, dan aroma sampah seolah sudah meresap hingga ke pori-pori tulang. Air mata sesekali mengalir di pelupuk matanya.
"Kenapa Mbak menangis?" tanya Gilang dengan wajah bingung.
"Tidak, Gilang. Ini mata Mbak kena asap," balas Laras sambil tersenyum.
Ia membohongi adiknya, dan ia membohongi dirinya sendiri. Ia menangis bukan karena kelelahan fisik, melainkan karena rasa takut yang mencekam, ketakutan bahwa Gilang akan berakhir sepertinya.
Bahwa cita-cita Gilang untuk menjadi dokter hanya akan terkubur di bawah lapisan plastik ini, menjadi fosil dari sebuah mimpi yang tidak pernah sempat bernapas. Malam jatuh dengan cepat. Lampu-lampu minyak mulai menyala di deretan bedeng yang berhimpitan di kaki bukit sampah.
Laras dan Gilang berjalan pulang, memanggul hasil buruan mereka hari ini. Berat karung itu terasa seperti beban seluruh dunia di pundak Laras. Sesampainya di rumah kayu yang beralaskan tanah, Laras menghitung kepingan uang logam dan beberapa lembar uang kertas yang lusuh.
"Cukup untuk membayar ujianmu besok, Lang," bisiknya.
Gilang tersenyum lebar, menunjukkan gigi-giginya yang putih di tengah wajah yang coreng-moreng. Anak itu berkata bahwa jika ia menjadi dokter nanti, ia akan membangun rumah yang baunya seperti sabun, bukan bau busuk ini. Laras terdiam.
Kalimat sederhana itu adalah belati yang manis. Ia memeluk adiknya erat-erat. Di luar, angin membawa aroma busuk yang lebih tajam dari biasanya, tanda bahwa hujan akan segera turun. Dan di padang sampah ini, hujan bukan hanya membawa air, tapi juga ancaman penyakit dan longsor yang mengintai.
Namun, di tengah lautan limbah yang tampaknya tak berujung, di bawah atap seng yang bocor, Laras menyadari satu hal. Sampah mungkin telah merampas masa mudanya, merampas kesehatannya, dan merampas martabatnya di mata dunia.
Namun, sampah tidak bisa merampas cinta yang ia miliki untuk adiknya. Ia adalah penyaring di tempat pembuangan akhir ini. Ia menyaring penderitaan agar Gilang mendapatkan harapan. Ia menenun kabut di atas bukit busuk ini, berharap suatu hari nanti adiknya bisa terbang keluar dari sini tanpa menyisakan sedikit pun bau sampah di bajunya.
Laras memejamkan mata, membiarkan kebisingan mesin-mesin pengolah sampah menjadi pengantar tidurnya. Besok, saat matahari terbit, ia akan kembali ke puncak bukit itu. Menjadi prajurit di medan perang yang terlupakan, demi satu-satunya kehidupan yang masih layak diperjuangkan. Bertahan.