5 Fakta Menarik Tarsius, Si Mata Besar Penjaga Hutan Sulawesi

M. Reza Sulaiman | Eka Saputra
5 Fakta Menarik Tarsius, Si Mata Besar Penjaga Hutan Sulawesi
Foto Tarsius (Wikimedia Commons/Hardi A. Gani)

Di balik lebatnya hutan Sulawesi, hidup seekor primata kecil yang kerap luput dari perhatian manusia. Ukurannya mungil, gerakannya lincah, dan matanya membulat besar seolah selalu terjaga. Dialah tarsius, salah satu primata paling unik di dunia sekaligus satwa endemik Indonesia yang kini terancam keberadaannya.

Meski sering dijuluki sebagai "monyet terkecil di dunia", tarsius sebenarnya bukan monyet. Ia termasuk kelompok primata purba dengan karakteristik yang sangat berbeda dari primata lain. Hingga saat ini, para peneliti mencatat setidaknya sembilan spesies tarsius di dunia. Dua di antaranya hidup di Filipina, sementara tujuh spesies lainnya tersebar di Sulawesi, termasuk di Kepulauan Selayar.

Tubuh Mini dengan Kemampuan Lompatan Luar Biasa

Ukuran tubuh tarsius terbilang sangat kecil. Panjang badannya rata-rata hanya 10–15 sentimeter dengan berat sekitar 80 gram. Namun, jangan tertipu oleh tubuhnya yang mini. Dengan kaki belakang yang panjang dan kuat, tarsius mampu melompat hingga tiga meter dari satu pohon ke pohon lain untuk berpindah atau menangkap mangsa.

Ekor tarsius juga cukup panjang dan ramping, hampir dua kali panjang tubuhnya. Ekor ini tidak berbulu lebat, hanya terdapat sedikit rambut di bagian ujung yang berfungsi sebagai penyeimbang saat ia melompat di antara dahan-dahan pohon.

Mata Besar dan Kepala yang Bisa Berputar

Salah satu ciri paling mencolok dari tarsius adalah matanya yang sangat besar, bahkan ukurannya lebih besar dibandingkan volume otaknya. Mata besar ini bukan tanpa alasan. Tarsius adalah hewan nokturnal, aktif berburu pada malam hari, sehingga penglihatan tajam menjadi modal utama untuk bertahan hidup dalam gelap.

Keunikan lainnya terletak pada struktur kepalanya. Tarsius mampu memutar kepala hingga 180 derajat ke kiri dan kanan, mirip burung hantu. Kemampuan ini membantunya mengamati lingkungan sekitar tanpa harus menggerakkan tubuh sehingga lebih efektif saat mengintai mangsa.

Telinganya pun tidak kalah istimewa. Tarsius dapat menggerakkan telinga secara mandiri untuk menangkap suara sekecil apa pun, terutama suara serangga yang menjadi makanan utamanya.

Pemburu Malam yang Gesit

Saat malam tiba, tarsius mulai beraksi. Hewan ini termasuk karnivora sejati, sesuatu yang jarang ditemukan pada primata. Menu favoritnya adalah serangga seperti jangkrik dan kecoak. Namun, dalam kondisi tertentu, tarsius juga memangsa reptil kecil, burung, hingga kelelawar.

Dengan refleks cepat dan lompatan presisi, tarsius mampu menangkap mangsanya dalam hitungan detik. Cakar kecil pada jari kedua dan ketiga membantunya mencengkeram mangsa dengan kuat.

Hidup Sepenuhnya di Atas Pohon

Hampir seluruh hidup tarsius dihabiskan di atas pohon. Ia tidur, mencari makan, bahkan melahirkan sambil bergantung pada batang atau dahan pohon. Tarsius tidak bisa berjalan di tanah. Jika terpaksa turun, ia hanya akan melompat-lompat untuk kembali ke pohon terdekat.

Untuk menandai wilayah kekuasaannya, tarsius menggunakan urine sebagai penanda teritorial. Cara ini membantu mereka mengenali batas wilayah sekaligus menghindari konflik dengan kelompok lain.

Habitat dan Persebaran di Sulawesi

Di Sulawesi, tarsius dapat ditemukan di berbagai wilayah seperti Siau, Sangihe, Peleng, dan Selayar. Beberapa kawasan konservasi yang dikenal sebagai habitat tarsius antara lain Taman Nasional Bantimurung dan Hutan Lindung Tangkoko di Bitung, Sulawesi Utara.

Di Kepulauan Selayar sendiri, tarsius masih dapat dijumpai di kawasan pantai timur, seperti Pantai Bonetappalang dan Pantai Pinang. Dengan bantuan pemandu lokal yang berpengalaman, pengunjung memiliki peluang untuk menyaksikan langsung primata mungil ini di habitat aslinya.

Ancaman dan Penurunan Populasi

Sayangnya, keberadaan tarsius kini semakin mengkhawatirkan. Populasinya diperkirakan hanya tersisa sekitar 1.800 individu, jumlah yang menurun drastis dibandingkan satu dekade lalu. Penyebab utama penurunan ini adalah kerusakan hutan, alih fungsi lahan, serta aktivitas manusia yang mengganggu habitat alami mereka.

Karena itu, tarsius telah ditetapkan sebagai satwa dilindungi di Indonesia. Upaya pelestarian dan kesadaran masyarakat menjadi kunci utama agar primata unik ini tidak hanya tinggal dalam cerita atau foto dokumentasi.

Tarsius bukan sekadar primata kecil bermata besar. Ia adalah bagian penting dari ekosistem hutan Sulawesi sekaligus warisan hayati Indonesia yang tak ternilai. Melindungi tarsius berarti menjaga keseimbangan alam dan memastikan bahwa generasi mendatang masih bisa mengenal makhluk mungil penjaga malam ini secara langsung, bukan hanya dari buku atau layar gawai.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak