Sore itu, hujan baru saja reda. Awan hitam masih menggantung kelabu di langit SMA Negeri Wijayakusuma, sekolah yang dikenal sangat disiplin soal waktu.
Bel masuk, bel istirahat, hingga bel pulang tidak pernah berbunyi lebih ataupun kurang satu menit pun.
Namun, yang tidak diketahui murid-murid, tempat itu menyimpan cerita aneh. Tak ada yang benar-benar tahu apa, siapa, dan mengapa, tetapi terkadang bel sekolah berbunyi sekali lagi setelah pukul empat sore.
Padahal, sekolah sudah kosong. Hingga kini, tak ada yang berani menunggu untuk mencari tahu.
Di ruang perpustakaan, Rina, siswi kelas 12, sedang menyelesaikan tugas akhirnya.
Dua temannya pamit lebih dulu karena sudah selesai lebih cepat. Rina memilih melanjutkan pekerjaannya hingga tuntas agar tidak perlu bolak-balik ke perpustakaan mencari buku penunjang.
Waktu berlalu cepat. Jam dinding menunjukkan pukul 16.30. Rina bangkit dari kursinya, meregangkan badan, lalu mulai memasukkan buku-buku ke dalam tas.
Suasana sekolah sangat sunyi. Hanya suara tetesan air hujan di kaca jendela dan denting jam yang terdengar jelas.
Saat Rina menarik resleting tasnya, tiba-tiba bel sekolah berbunyi.
Teeet! Teeet!
Ia terlonjak kaget. Dadanya terasa berdebar.
“Bukankah bel pulang sudah berbunyi jam dua tadi? Lalu siapa yang menyalakannya sekarang?” gumamnya pelan.
Karena penasaran, Rina melangkah keluar dari perpustakaan mencari sumber suara. Lampu di lorong mulai redup, sebagian bahkan sudah padam. Udara terasa dingin dan lembap, membuat suasana semakin menekan.
Langkahnya terhenti ketika matanya tertuju pada sebuah catatan jadwal kegiatan yang lusuh dan menguning, tertempel di papan pengumuman lama. Di sudutnya tertulis tanggal: 3 November 1999.
Kening Rina mengernyit.
“Bukankah sekolah ini baru berdiri tahun 2002?” batinnya.
“Mungkin arsip lama yang belum dibersihkan,” ia mencoba menenangkan diri.
Namun, suasana lorong kian mencekam. Lampu berkelap-kelip membuat langkahnya terasa berat.
Teeeeet! Teeeeeet!
Bel berbunyi lagi, kali ini lebih lama dan nyaring.
“Ada siapa di sana? Pak? Ada orang?” panggil Rina, berharap penjaga sekolah masih ada.
Tak ada jawaban. Suaranya justru bergema aneh, seolah dipantulkan kembali oleh lorong kosong.
Ia mencoba menelepon orang tuanya. Sial, tidak ada sinyal.
Saat menoleh ke luar jendela, ruang satpam terlihat gelap dan kosong.
Rina melangkah menuju kantor guru, berharap ada guru yang belum pulang. Namun, di depan pintu, langkahnya terhenti.
Seorang laki-laki berseragam putih abu-abu berdiri membelakangi Rina di bawah lampu yang berkelap-kelip. Rambutnya pendek, tubuhnya kaku.
“Hei, kamu juga belum pulang?” tanya Rina.
Tak ada jawaban.
Ia melangkah mendekat. Anehnya, semakin dekat ia berjalan, sosok itu justru semakin menjauh, memudar seperti kabut.
Teeet! Teeet! Teeet!
Lampu mati.
Gelap total.
Rina mendengar suara langkah kaki berderap cepat di koridor, seperti banyak sepatu berlari bersamaan.
Duk duk duk duk!
Suara itu makin mendekat, disertai tawa riuh dan teriakan siswa.
Rina menoleh cepat. Tak ada siapa pun. Lorong itu kosong.
Bulu kuduknya meremang. Ia menutup telinganya sambil menangis.
“Berhenti! Berhenti!” teriaknya.
Tiba-tiba, keheningan menelan segalanya.
Saat Rina membuka mata, cahaya terang memenuhi ruangan. Sekolah tampak hidup. Siswa-siswi berlarian, tertawa, dan bercanda. Guru-guru terlihat di ruangannya masing-masing.
Papan pengumuman kini bersih, bertuliskan: Apel Pagi, Senin, 2 November 1999.
Rina terpaku.
“Di mana aku?” bisiknya.
Jam dinding menunjukkan pukul 14.00.
Bel pulang berbunyi. Siswa berhamburan keluar kelas. Namun, tak lama kemudian, teriakan panik terdengar dari arah aula.
“Tolong! Ada yang tersetrum di ruang bel!”
Rina mengikuti kerumunan. Di tengah keramaian, seorang siswa laki-laki berseragam putih abu-abu berdiri kaku, tangannya memegang kabel listrik beruap.
Wajah itu.
Itu wajah yang sama dengan sosok di kantor tadi.
Rina berlari menjauh. Napasnya tersengal. Dunia mendadak gelap.
Saat sadar, ia terbaring di UKS. Kepala sekolah dan penjaga sekolah menatapnya cemas.
“Nak, kamu kenapa? Kamu ditemukan pingsan di lorong sekolah,” kata kepala sekolah.
Rina gemetar. Tangannya dingin.
Ia membuka telapak tangannya. Sebuah potongan logam kecil bertuliskan BEL GEDUNG UTAMA 1999 tergeletak di sana.
Sejak hari itu, Rina selalu pulang secepat mungkin setiap bel sekolah berbunyi. Meski tak pernah lagi diganggu, rasa ngeri itu tak pernah benar-benar pergi.