Lelaki Misterius dan Kain Putih Bertinta Merah

Bimo Aria Fundrika | Tika Maya Sari
Lelaki Misterius dan Kain Putih Bertinta Merah
ilustrasi cerpen Lelaki Misterius dsn Kain Putih Bertinta Merah (Unsplash/Maddy Baker)

Cerita ini kudengar dari Ibu, yang konon dialami oleh Bapak di masa bujangnya pada tahun 90an. Tentang kehadiran lelaki misterius, yang tiba-tiba datang dan menghilang, serta meninggalkan selembar kain lebar bertinta merah….

Darah kah?

Begini kronologinya…

“Nasib mujur! Kita kaya, Ri!” pekik Santoso, alias Gepeng.

Bahri tertawa. “Mimpi apa kamu semalam?”

Gepeng tertawa nyaring. Lelaki muda berambut gondrong itu sesekali menari di samping Bahri yang sedang menyetir truk tebu.

Nasib mujur tampaknya sedang berpihak pada mereka. Seharian ini, mereka sukses mengangkut berton-ton tebu, dan bolak balik dari perkebunan ke pabrik gula di kota.

Darah muda mereka bergejolak dalam bekerja. Dari tengah malam, mereka sudah merecoki Pakdhe Banteng, yang notabene-nya adalah salah satu pekerja panen tebu. Bersama beberapa orang pekerja lain, mereka sudah membabat tebu bahkan sebelum fajar menyingsing.

“Kualitas tebu tahun ini gila! Sebagus itu, Ri,” kata Gepeng. “Apa buat ngapel saja ya?”

“Halah! Gayamu macam punya pacar saja!” celetuk Bahri. “Tiap hari cuman ke kebun tebu, ke pabrik gula, atau ngerecoki Pakdhe Banteng saja kok!”

“Lho, kok sewot?” Gepeng tertawa. “Yo ayo cari pacar ke kota.”

Bahri menggeleng. “Wajah kita masih kayak lutung habis main di hutan kok mau cari pacar ke kota!”

Gepeng tertawa ngakak, sebelum menyulut rokok filter terbaik dari kota. Sebuah simbol bahwa panen tebu kali ini bagus dan berkualitas tinggi.

Bagi pekerja panen tebu, mereka mendapat bayaran mingguan. Semakin bagus kualitas tebu, bayaran mereka bakal tinggi. Dari situlah, mereka membelikan rokok filter terbaik untuk supir truk yang bayarannya sebulan sekali. Begitupun kalau hasil panen kurang baik atau bahkan buruk, maka rokok yang diberikan pada supir ya tipe rokok kretek biasa. Atau bahkan nggak sama sekali.

Jujur, aku bingung kok bisa tradisi ini muncul. Oke, balik ke cerita utama.

“Besok jalan lagi kita?” tanya Gepeng.

Bahri mengangguk. “Besok ke kabupaten B. Hari ini kita nginap di rumah Pakdhe Banteng gimana?”

“Ide bagus!”

Bahri dan Gepeng sejatinya adalah teman semasa sekolah SD. Rumah mereka pun sekampung di kabupaten T. Dan, sudah sejak lama mereka bersahabat, baik dalam hal pekerjaan sebagai supir dan kernet truk tebu, atau menjahili Pakdhe Banteng yang terkenal akan mulut latahnya.

Mereka berdua juga jarang pulang ke rumah masing-masing. Lebih sering tidur di teras rumah salah satu pekerja panen tebu, atau tidur di dalam truk di entah kabupaten mana. Yah, namanya anak muda yang suka mengeksplor dunia.

Untuk mandi, mereka kerap mandi di sungai, atau parit sawah. Betul-betul jiwa petualang sejati yang nggak takut apapun.

“Lho, Ri. Truk-nya kenapa?” tanya Gepeng heran. Pasalnya, suara mesin terdengar lebih berat. “Bukannya sudah kosong, ya?”

Bahri melirik spion kanan kiri cepat. Dia mencoba mengoper ke gigi rendah. “Tiba-tiba begini.”

Truk yang semula normal, kini justru terasa seperti bermuatan berat. Mesin terdengar kesakitan. Padahal, posisinya sudah kosong karena barusan bongkar di pabrik gula.

Tiba-tiba,

“Assalamualaikum…”

Gepeng menjingkat saat mendengar suara berat lelaki yang sepertinya paruh baya entah dari mana. Dia nyaris mengumpat. Namun, mengingat lokasi mereka saat ini sedang ada di jalur tembusan yang full sawah dan perkebunan menjelang maghrib, Gepeng membungkam mulutnya rapat-rapat.

“Wa-waalaikum salam…” Bahri menelan ludah ngeri. “Maaf, Anda ini siapa ya?”

“Saya ada di atas truk. Saya izin menumpang.”

Bahri dan Gepeng berpandangan. Bahri kemudian mencoba menggali informasi. “Uhm, Pak…anu, bagaimana kalau menumpang masuk di dalam truk saja? Kalau di atas situ apa nggak ngeri jatuh?”

“Nggak apa-apa. Saya disini saja.”

Bahri kembali mengawasi spion dengan cepat. Sedangkan Gepeng melongokkan kepalanya, siapa tahu ada begal atau orang aneh yang bersembunyi di dekat ban atau bergelantungan di kolong truk.

“Uhm, kalau boleh tahu, Bapak hendak kemana? Mungkin saya bisa mengantar?” tanya Bahri lagi.

“Cukup sampai depan saja.”

Bahri terus melajukan truk dengan pelan. Ampun. Padahal sedang kosong, tapi seakan bermuatan berton-ton. Berat betul. Ditambah lagi, hawa dingin menjalari tengkuknya.

Situasi mencekam itu berlangsung hingga truk menempuh jarak lima ratus meteran. Baik Bahri, Gepeng, dan suara lelaki misterius itu nggak terdengar. Mereka betul-betul diam, hanya detak jantung yang menderu bersama truk yang berjalan.

“Terima kasih sebelumnya, saya izin pergi. Assalamualaikum.”

“Lho, Pak? Pak? Waalaikum salam..”

Beberapa kali mencoba memanggil suara lelaki tadi. Namun, nggak ada jawaban. Alhasil, Bahri menghentikan laju truk dan segera mengecek badan truk bersama Gepeng. Baik ke dalam bak, kolong ban, hingga ke atas kepala truk. Nihil. Nggak ada manusia lain selain mereka. Kecuali adanya selembar kain putih yang tergeletak di atas kepala truk.

Bahri mengambilnya, hanya untuk mendapatkan tremor di sekujur tubuh.

"Ri, apaan itu?!" pekik Gepeng dari samping.

Bahri menunjukkannya pada Gepeng. Kain itu berwarna putih kusam, dengan tepian yang tersobek nggak rapi. Benang-benangnya tampak amburadul. Dan gong-nya, ada aksara arab tanpa harokat alias arab gundul bertinta merah disana.

Darahkah? Entahlah....

Tanpa ba bi bu, Bahri langsung melemparkannya ke kumpulan rumput gajah di tepi jalan, sebelum melajukan truk dengan kecepatan penuh.Nggak ada lagi truk yang terasa seperti bermuatan berat. Mereka melaju, meninggalkan entah apaan tadi itu.

“Tadi tulisannya apa, Ri?” tanya Gepeng yang pucat pasi. Napasnya ngos-ngosan. “Bacanya apaan?”

“Nggak tahu, pokoknya kita kabur dulu!”

Sampai sekarang pun, Bapak masih nggak mengetahui isi teks beraksara arab gundul tersebut....

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak