Sebuah kafe di Bali belakangan menjadi sorotan publik setelah menjual minuman matcha dengan kemasan menyerupai kantong infus. Lengkap dengan tulisan dextrose monohydrate, tampilan ini sontak viral di media sosial dan memicu perdebatan soal etika serta keamanan pangan.
Pihak penjual mengklaim kemasan tersebut bukan limbah medis dan dibuat khusus dari bahan food grade. Meski begitu, bagi sebagian konsumen, klaim semata belum cukup. Pasalnya, kemasan yang menyerupai alat medis memiliki makna simbolik tersendiri dan selama ini identik dengan standar tinggi serta potensi limbah berbahaya. Di sinilah urgensi edukasi soal keamanan kemasan pangan menjadi penting.
Kenapa Kemasan Minuman Harus Food Grade?
Dalam industri makanan dan minuman, istilah food grade merujuk pada bahan yang aman bersentuhan langsung dengan produk konsumsi. Bahan ini tidak bereaksi secara kimia, tidak mengubah rasa maupun aroma, serta tidak melepaskan zat berbahaya ke dalam makanan atau minuman.
Ciri bahan food grade antara lain stabil, tidak berbau, tidak mudah terdegradasi, serta telah melalui uji migrasi zat kimia. Pengujian ini krusial karena paparan senyawa dari kemasan dapat berdampak pada kesehatan jika terjadi secara terus-menerus.
Di Indonesia, standar keamanan kemasan pangan mengacu pada ketentuan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) serta Standar Nasional Indonesia (SNI). Kemasan yang aman biasanya disertai penanda khusus seperti simbol cup and fork, food safe, atau sertifikasi resmi. Tanpa transparansi sertifikasi, konsumen tidak memiliki cara untuk memverifikasi klaim keamanan yang disampaikan produsen.
Kemasan Unik Bukan Hal Baru, Tapi Tetap Ada Batas

Strategi menggunakan kemasan unik sebenarnya sudah lama diterapkan dalam industri food and beverage. Desain yang tidak biasa sering dimanfaatkan untuk membangun identitas merek dan menarik perhatian pasar, dan hal ini sah selama tidak melanggar prinsip keamanan pangan.
Kemasan menyerupai infus yang digunakan pada minuman matcha tersebut diklaim sebagai kemasan custom berbahan plastik fleksibel baru. Secara fungsi, kemasan ini memang hanya berperan sebagai wadah minuman, sementara desain medisnya dimaksudkan untuk menciptakan diferensiasi visual dan efek viral.
Namun, kreativitas desain tidak menghapus kewajiban produsen untuk memastikan keamanan material. Bentuk boleh inovatif, tetapi bahan dan peruntukannya harus tetap sesuai standar pangan.
Kenapa Publik Merasa Khawatir?
Kekhawatiran masyarakat muncul karena tampilan kemasan sangat mirip dengan kantong infus medis, bahkan menampilkan elemen visual yang menyerupai produk kesehatan. Kondisi ini memicu dugaan bahwa kemasan tersebut meniru atau mendekati kemasan medis asli.
Kekhawatiran ini dinilai wajar karena kemasan medis dan kemasan pangan berada di bawah regulasi yang berbeda dan memiliki tujuan penggunaan yang tidak sama. Ketika batas visualnya menjadi kabur, konsumen berhak mempertanyakan keamanan produk yang mereka konsumsi.
Isu ini juga diperkuat setelah perusahaan farmasi Otsuka menegaskan bahwa kemasan infus yang viral tersebut bukan merupakan produk resmi mereka. Klarifikasi ini semakin menegaskan pentingnya kejelasan asal-usul dan peruntukan kemasan yang digunakan.
Kenapa Plastik Infus Tidak Sama dengan Kemasan Minuman?
Jika kemasan yang digunakan merupakan limbah medis, risikonya jelas sangat serius. Limbah medis berpotensi mengandung mikroorganisme patogen dan residu obat berbahaya. Berbagai kajian kesehatan menunjukkan bahwa alat medis sekali pakai tidak boleh digunakan ulang tanpa prosedur sterilisasi yang ketat.
Bahkan jika kemasan tersebut merupakan plastik baru yang diproduksi untuk kebutuhan medis, tetap ada perbedaan mendasar. Plastik infus dirancang untuk penggunaan klinis dengan standar medis, bukan untuk konsumsi oral. Material ini tidak diuji dengan standar migrasi zat kimia pangan sebagaimana kemasan minuman.
Penelitian di bidang toksikologi pangan menegaskan bahwa bahan non-pangan tidak dapat diasumsikan aman hanya karena digunakan dalam konteks medis. Artinya, penggunaan plastik di luar peruntukannya tetap menyimpan potensi risiko kesehatan.
Menarik Saja Tidak Cukup, Keamanan Tetap Jadi Prioritas
Klaim bahwa kemasan bersifat food grade dan bukan limbah medis memang penting, tetapi seharusnya disertai bukti sertifikasi dan transparansi peruntukan bahan. Tanpa itu, konsumen hanya diminta percaya pada pernyataan sepihak.
Tren kemasan unik akan terus berkembang seiring kreativitas pelaku usaha. Namun, inovasi visual seharusnya berjalan seiring dengan tanggung jawab terhadap keamanan pangan dan perlindungan konsumen. Produk yang viral bukan hanya perlu menarik secara estetika, tetapi juga aman dan jelas secara regulasi.