alexametrics

Salah Paham

Funcrev Id
Salah Paham
Ilustrasi kelas. [Unsplash]

Tak seperti suasana sebelumnya, tempat baru Wina bangun tidur yang sekarang justru berisik karena kendaraan terbang daripada kokokan ayam. Ayah Wina dipindahtugaskan ke kota, bagaimana pun juga ia harus ikut karena tidak ada keluarga yang membersamainya tinggal di tempat sebelumnya.

Hari ini adalah hari pertama Wina di sekolah barunya. Berangkat menggunakan transportasi umum, Wina sudah siap sejak pukul enam tadi pagi. Ia sengaja berangkat pagi agar tidak tertinggal transportasi umum darat, yang udara lebih mahal. Wina berhenti di halte sekolah. Belum merasakan suasana belajarnya saja ia sudah mengagumi tempat belajar barunya sejak pertama kali melihat. Gedungnya menjulang tinggi terlihat dari jarak seratus meter.

Wina tidak pernah menyangka akan bersekolah di bangunan pencakar langit di sebuah kota. Menginjakkan kaki di jalan masuk menuju pintu utama saja Wina seakan sudah menjadi orang paling terpelajar. Setelah melakukan scan wajah sebagai bukti absensi, ia langsung pergi menuju klinik kesehatan untuk melakukan cek kesehatan, hal ini wajib tertulis dengan tinta merah di buku panduan sekolah. 

Di tahun 2100 ini rasanya sudah tidak ada lagi alasan pulang cepat karena sakit. Kalau memang beneran sakit ya langsung pulang. Pokoknya berbeda banget dengan cerita bapaknya dulu. Usai melakukan cek kesehatan dengan dokter khusus sekolah, ia langsung mencari letak ruang kelas barunya.

"Wow, ku kira paling pagi datangnya," ucap Wina kaget ketika melihat sudah hampir setengah kelasnya terisi.

Kepalanya menoleh kanan kiri mencari bangku kosong yang kira-kira bisa ia duduki.

"Pilih saja mana yang kamu mau, kita tidak pernah mempermasalahkan tempat duduk," ucap anak laki-laki di bangku paling pojok. Rambutnya merah gondrong dengan sedikit tato di bagian lehernya, anak liberal banget.

Awalnya merasa aneh, karena Wina sama sekali belum pernah melihat siswa berpenampilan demikian di sekolah, apalagi sampai bertato, sama sekali tidak ada di desa.

Tak seperti yang ia bayangkan ketika hendak menjadi siswa baru. Dirinya bahkan seperti tidak ada yang mempedulikan kehadirannya. 

"Kenapa aku tidak ditanya? Kamu anak baru ya? Apa kek," pikir Wina.

Semua siswa yang sudah hadir di kelas tersebut justru tetap sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Masih dalam kebingungan, seorang anak laki-laki di samping Wina mencolek bahunya. Sontak Wina kaget dan melotot.

"Tenang aja, aku juga beru pindah ke sekolah ini kemarin, disini emang agak aneh, oya mereka juga gak peduli dengan anak baru. Mereka tidak peduli status sosial, mau baru atau lama, mereka anggap semua sama di lingkungan yang sama," bisik seorang anak laki-laki yang mencolek tadi, sepertinya omongan dia benar.

"Oh, gitu ya, makasih ya," jawab Wina singkat.

Selang beberapa waktu kemudian, bel berbunyi. Seluruh siswa tampaknya sudah masuk dalam kelas. Hanya ada beberapa yang kosong. Mungkin tidak lolos cek kesehatan, pikir Wira.

Seorang guru perempuan dengan setelan super rapi masuk ke dalam kelas. Tidak menyuruh Wina untuk memperkenalkan diri. Guru tersebut justru hanya menunjuk dan menyebut namanya saja, sudah.

Wina yang merasa sedikit aneh kemudian menengok ke anak laki-laki yang memberi tahunya soal sekolah tadi. Anak laki-laki tersebut hanya membalas senyum. Mungkin dia juga masih adaptasi, pikir Wina.

Sesuai jadwal yang telah dibagikan, setiap mata pelajaran akan berlangsung selama 45 menit. Tapi belum juga genap 15 menit, si guru tadi sudah menghentikan pembelajaran. 

"Saya harap semua sudah paham, hari ini saya lagi mood swing banget, daripada nanti saya kena mental illnes lebih baik kalian pelajari sendiri," ucap guru tadi.

"Bu saya yang nomor lima belum paham," tanya Wina kepada guru tadi.

"Aduh, bukannya ibu sudah jelaskan, ibu lagi mood swing, pelajari saja sendiri, nanti ibu tambah bete lagi, kalau gak paham juga, berarti target pembelajarannya bukan kamu, coba educate your self deh" ungkap guru tersebut. 

"Lah, tapi bu," bantah Wina.

"Eh, Lo kok gak peduli banget sih sama kesehatan mental seseorang, itu kan ibunya udah bilang lagi mood swing, peka dong," ucap seorang anak perempuan di ruangan tersebut.

"Ya tapikan..." ucap Wina terpotong, setelah anak laki-laki yang memberitahunya keanehan tadi menepuk pundaknya.

Bukan aneh lagi, saat ini Wina merasa benar-benar sangat aneh. Kok bisa ada sekolah seperti ini, pikir Wina. Selang beberapa waktu, seorang guru laki-laki masuk ke dalam kelas. Badannya tegap, Wina hampir lupa kalau di jadwal sekarang adalah olahraga.

"Hari ini semua akan langsung menuju kolam renang, kita berlatih disana, lima menit dari sekarang," ucap guru laki-laki berbadan tegap itu.

Tidak sampai lima menit seluruh siswa telah sampai di kolam renang.

"Baik laki-laki maupun perempuan, kalian harus renang bolak-balik sebanyak 100 kali," perintah guru laki-laki tadi, katanya sih namanya pak Marchel.

"Yang perempuan juga 100 kali pak? Gak dibedakan," ucap Wina, dirinya meminta sedikit keringanan karena belum pernah berenang sebanyak itu.

"Eh, kamu murid baru ya, kita di sini itu berpegang teguh sama gender equality, jadi gak ada pembedaan laki-laki atau perempuan, semua sama!" seorang anak perempuan menjelaskan kepada Wina.

"Tapi apa harus gitu kan, penerapannya," tanya Wina.

"Sudah langsung aja gak usah banyak tanya bikin mood berubah aja," ucap Pak Marchel.

Satu per satu anak berenang, kebetulan kolamnya sangat luas, semua bisa masuk sekaligus.

Wina kelelahan, belum pernah Ia selelah ini. Ia juga masih bertanya kenapa olahraga justru diletakkan di tengah pelajaran lainnya. Semua siswa masih berada di pinggir kolam, sembari mendengarkan penjelasan dari guru olahraga tadi.

Mata Wina tiba-tiba terbelalak kaget, saat ia menoleh kebelakang di mana ada dua siswa justru tengah bermesraan. Melihat hal tersebut, Wina langsung melaporkan hal tersebut.

"Pak apakah itu tidak dipermasalahkan di sekolah ini," ucap Wina menunjuk ke arah dua siswa tersebut.

"Biarkan saja mereka sedang mengekspresikan mereka, kita tidak boleh menggangu kebebasan mereka," ucap guru olahraga yang benar-benar membuat Wina ternganga.

"What," Wina menanggapi jawaban yang ia rasa sangat aneh tersebut.

Seusai semua pelajaran usai, semua siswa diwajibkan untuk melakukan pendekatan spiritual di tempat yang telah disediakan untuk masing-masing agama. Wina, duduk di samping anak laki-laki yang memberi tahu soal keanehan di sekolah tadi. 

Di samping Wina tampak seorang anak perempuan yang membawa enam sekaligus kitab suci di tangannya. 

"Itu titipannya banyak banget," ucap Wina.

"Oh, kenalin aku Michela, panggil apa aja bisa, ini bukan titipan, aku sebenarnya ateis, tapi penganut multikulturalisme, jadi ku pelajari semuanya," jawab anak perempuan tersebut.

"Hah? Kok bisa gitu ya?" Wina ternganga.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak