Hari Anak Nasional, Lantas Bagaimana Nasib Anak Bangsa Kita?

Munirah | Budi
Hari Anak Nasional, Lantas Bagaimana Nasib Anak Bangsa Kita?
Ilustrasi Anak-Anak Negeri. (Pixabay)

Tepat hari Jumat, tanggal 23 Juli 2021 diperingati sebagai Hari Anak Nasional. Penetapan Hari Anak Nasional mengalami perjalanan yang cukup panjang. Seperti yang dialisir dari suara.com, bahwa dalam sejarahnya Hari Anak Nasional tergurat sejak berdirinya Kongres Wanita Indonesia (Kowani) yang diresmikan pada tahun 1946.

Pada sidang Kowani tahun 1951, ada beberapa keputusan yang disepakati, salah satunya Penetapan Hari Kanak-Kanak Nasional. Awalnya Hari Anak ditetapkan pada tanggal 6 Juni yang bertepatan dengan Hari Anak Internasional, kebetulan juga bertepatan hari Lahir bapak Soekarno Presiden pertama Indonesia. Namun, tanggal tersebut justru mengalami perubahan saat Orde Lama lengser dari kekuasaannya.

Hingga beralihnya ke zama Orde Baru, Presiden ke-2 Indonesia Jenderal Soeharto mengeluarkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 44 Tahun 1984. Di mana telah mengeluarkan keputusan, bahwa Hari Anak Nasional diperingati setiap tanggal 23 Juli.

Entah, apa alasannya kenapa mesti merubah tanggal peringatan Hari Anak Nasional itu. Dan juga landasan yang kuat seperti apa sehingga dapat merubahnya, padahal sebelum itu sudah ditetapkan oleh Presiden terdahulu.

Walaupun, sampai sekarang masih mengundang tanya atas perubahan itu, namun peringatan Hari Anak sangatlah perlu. Hal tersebut guna untuk dapat melihat secara objektif masalah dan hak-hak anak yang belum terpenuhi.

Dengan adanya peringatan Hari Anak Nasional, dapatlah menjadi terpaan agar dapat mengangkat hak-hak anak, mengembangkan potensi anak, menghilangkan bentuk diskriminasi dan kekerasan terhadap anak, serta mendorongnya agar dapat mengenal jati dirinya sebagai makhluk sosial dan warga negara Indonesia. Sehingga sangat perlu untuk mampu merasakan simpati pada setiap anak.

Secara formalitas, mungkin bisa dibilang bahwa hak anak sudah terpenuhi, mengingat kesehatan dan pendidikan sudah marak disosialisasikan secara umum dan di ranah publik malah.

Namun, apabila kita pandang dari jauh, maka tidak akan mengejutkan apabila kita menemukan pemberlakuan hak-hak anak tidak merata. Contoh misalnya, masih banyak anak yang terbengkala dalam hal menempuh pendidikan, terkhusus juga anak sangat terbatas untuk memperoleh akses kesehatan yang baik.

Lantas, apakah guna selalu mengumandangkan selamat Hari Anak Nasional, jika di negeri ini belum bisa merata mengenai pendidikan dan kesehatan pada anak? Itu sangatlah lucu dan terkesan dientengkan.

Pada kenyataannya, anak orang kaya dan orang miskin sering kali tidak mendapatkan layanan kesehatan yang sama, terjadi perbedaan kelas. Jadi analisisnya seperti ini: kalau anak orang kaya, semenjak masih berada dalam kandungan sudah mendapatkan layanan kesehatan yang baik, ibunya dapat mengontrol anaknya secara rutin di tenaga medis semenjak masih mengandung, anak dapat mengonsumsi susu yang berkualitas, serta berada pada lingkungan yang bersih dan sehat seperti adanya jambang bersih dan bebas dari penyakit.

Lalu, bagaimana dengan anak yang terlahir dari keluarga miskin, apakah mereka juga mendapatkan fasilitas seperti anak orang kaya?, jawabannya tentu sulit untuk dijawab, mari bercermin saja.

Mungkin mereka akan sangat terbatas untuk mendapatkan kesehatan anak yang layak, konsumsi susunya pun berada pada level sederhana, dan tempat tinggalnya pun dapat dibilang jauh dari kata layak, semoga saja di negeri tidak ada lagi anak yang tinggal di jalan atau kolom jembatan. Tapi, lagi-lagi entahlah.

Nah, itu semua disebabkan karena apa? Jawabannya tak lain adalah persoalan ekonomi dan kedudukan sosial, persoalan antara hidup dan mati. Karena dengan ekonomi dan kedudukan, orang kaya mampu memperoleh layanan yang layak seperti di atas, sedangkan kalau orang miskin tentu harus berjuang secara mati-matian.

Tentu begitu juga dengan pendidikan, anak orang kaya akan lebih mudah mendapatkan akses sekolah yang baik ketimbang anak orang miskin. Misalnya, fasilitas anak dari seorang Bupati dan anak petani, tentu dapat kita saksikan perbedaan yang sangat jauh secara kasat mata di negeri ini.

Sehingga saat mereka besar nanti, maka akan sangat berpengaruh pada karirnya, anak orang kaya dapat melanjutkan pendidikan yang setinggi-tingginya dengan mudah, tetapi kalau anak orang miskin tidaklah demikian. Selain karena akses yang tidak mendukung, anak pun kadang dihadapkan pada persoalan kompleks dan dituntut agar dapat membantu prekonomian orang tuanya, walaupun berumuran masih sangat dini dan berada pada masa menempuh pendidikan.

Dari problem-problem tersebut, mesti dapatlah menjadi terpaan oleh pemerintah selaku pelayan rakyat. Momen Hari Anak Nasional dapatlah menjadi bahan evaluasi yang serius, bukan hanya menjadikannya sebagai simbolis saja. Catatan penting, masih banyak terjadi ketimpangan hak-hak anak bangsa, sejak dulu sampai sekarang, keadilan dan kesejahteraan belum sepenuhnya bisa diselesaikan. Bahkan, yang kaya semakin kaya, dan yang miskin semakin miskin. Itulah yang terjadi, repot deh.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak