Senin pagi (12/1/2026), Jakarta kembali diguyur hujan sejak subuh. Langit abu-abu menggantung rendah, seolah-olah memberikan isyarat bahwa awal pekan ini tidak akan berjalan ringan. Bagi banyak warga Ibu Kota, hujan bukan sekadar perubahan cuaca, melainkan ujian kesabaran yang datang bersamaan dengan padatnya aktivitas dan lalu lintas.
Saya mengawali perjalanan pagi itu dari dalam bus kota. Dari balik jendela yang dipenuhi titik-titik air hujan, pemandangan Jakarta tampak buram, tetapi tetap terasa akrab. Deretan kendaraan pribadi bergerak perlahan di atas aspal yang basah. Lampu rem menyala silih berganti, membentuk garis merah panjang yang menandai kemacetan kian mengular. Jalanan seolah-olah kehilangan ritmenya, tersendat oleh hujan dan volume kendaraan yang tidak pernah surut.
Duduk di dalam bus memang terasa lebih nyaman dibandingkan harus mengendarai sepeda motor di tengah hujan. Namun, rasa cemas tetap muncul ketika jarum jam bergerak lebih cepat daripada laju kendaraan. Waktu tempuh yang biasanya singkat, pagi itu terasa hampir dua kali lipat. Setiap kali kendaraan berhenti mendadak atau melewati genangan air, hal itu menjadi pengingat bahwa perjalanan menuju tempat kerja tidak selalu bisa diprediksi.
Dalam kondisi seperti ini, pikiran saya melayang pada kelompok masyarakat lain yang menghadapi tantangan lebih besar. Penyandang disabilitas, lansia, atau orang tua yang membawa kereta bayi tentu harus berjuang ekstra. Trotoar yang licin, akses transportasi yang belum sepenuhnya ramah, serta cuaca yang tidak bersahabat menjadikan perjalanan pagi sebagai perjuangan tersendiri. Hujan seakan-akan memperjelas betapa pentingnya fasilitas publik yang inklusif dan aman bagi semua.
Hujan memang sering dianggap sebagai penghambat aktivitas, tetapi di balik itu ada pesan penting tentang keselamatan. Jalan yang licin, jarak pandang yang terbatas, dan emosi yang mudah terpancing karena terlambat, semuanya menuntut kewaspadaan lebih. Menjaga jarak aman, mengendalikan kecepatan, serta mempersiapkan perlengkapan sederhana seperti payung atau jas hujan menjadi hal yang tidak boleh diabaikan.
Meskipun ritme pagi berjalan lebih lambat dari biasanya, hujan mengajarkan kita untuk sejenak menurunkan tempo. Bahwa sampai ke tujuan dengan selamat jauh lebih penting daripada tiba dengan tergesa-gesa. Di tengah hujan dan kemacetan Jakarta, keselamatan tetaplah tujuan utama, dan kesabaran adalah bekal terbaik untuk menembusnya.