FOMO yang Menggerakkan: Mulai dari Ikut Tren Jadi Rutinitas Hidup Sehat Anak Muda

Sekar Anindyah Lamase | Leonardus Aji Wibowo
FOMO yang Menggerakkan: Mulai dari Ikut Tren Jadi Rutinitas Hidup Sehat Anak Muda
Kolase foto Dr. Tirta ikut meramaikan tren lari bareng (kiri) dan Komunitas Lari PlayOn (kanan) (Instagram/dr.tirta, playon_jogja)

Fenomena Fear of Missing Out atau FOMO kini tidak lagi identik dengan gaya hidup konsumtif, tetapi justru mendorong lahirnya tren hidup sehat di kalangan anak muda. Olahraga lari, bersepeda, hingga padel berkembang bukan hanya sebagai aktivitas fisik, tetapi juga sebagai simbol gaya hidup baru generasi muda.

Kementerian Kesehatan melalui Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan menilai bahwa fenomena FOMO telah menjadikan olahraga lari sebagai aktivitas yang menyenangkan dan mudah diterima masyarakat. Dalam kajian tersebut disebutkan bahwa dorongan sosial dan rasa ingin ikut tren membuat masyarakat lebih termotivasi untuk bergerak aktif secara fisik.

Perubahan ini terlihat jelas di kota-kota besar, termasuk Yogyakarta, yang kini dipenuhi komunitas-komunitas lari yang berkembang secara organik. Salah satunya adalah komunitas PlayOn Jogja, yang dikenal sebagai ruang lari kolektif yang terbuka bagi pemula maupun pelari berpengalaman.

Melalui akun Instagram resminya @playon_jogja, komunitas ini rutin membagikan aktivitas lari bersama, ajakan olahraga, hingga dokumentasi kegiatan komunitas. Kehadiran ruang sosial semacam ini membuat olahraga tidak lagi terasa individual, tetapi menjadi aktivitas kolektif yang membangun relasi dan solidaritas.

Fenomena FOMO olahraga juga semakin kuat karena dorongan dari figur publik dan artis yang ikut mempopulerkan gaya hidup aktif. Sosok seperti dr Tirta, misalnya, kerap membagikan aktivitas lari dan olahraga di akun Instagram pribadinya, yang kemudian menjadi referensi gaya hidup sehat bagi pengikutnya.

Paparan aktivitas olahraga dari figur publik menciptakan normalisasi gaya hidup aktif di media sosial. Olahraga tidak lagi dipandang sebagai kewajiban medis semata, tetapi sebagai identitas sosial yang positif dan relevan dengan gaya hidup anak muda.

Selain figur publik, teknologi digital juga berperan besar dalam membentuk budaya ini. Aplikasi seperti Strava membuat aktivitas lari terasa lebih menarik karena pengguna bisa mencatat jarak, waktu, dan progres olahraga secara digital.

Fitur berbagi aktivitas ke media sosial membuat olahraga menjadi pengalaman yang interaktif dan menyenangkan. Aktivitas fisik tidak hanya berhenti di ruang personal, tetapi menjadi konten sosial yang membangun motivasi kolektif.

Kementerian Kesehatan menilai bahwa tren ini memiliki dampak positif terhadap pola hidup masyarakat, karena olahraga menjadi bagian dari rutinitas, bukan sekadar tren sesaat. FOMO yang sebelumnya sering dipersepsikan negatif justru berubah menjadi dorongan sosial yang produktif.

Transformasi makna FOMO ini menunjukkan bahwa tekanan sosial tidak selalu berujung pada perilaku konsumtif. Dalam konteks olahraga, FOMO justru mendorong terciptanya kebiasaan sehat yang berkelanjutan.

Fenomena ini memperlihatkan bahwa anak muda tidak hanya mencari eksistensi di media sosial, tetapi juga pengalaman hidup yang bermakna. Olahraga menjadi medium untuk membangun identitas, kesehatan, dan relasi sosial secara bersamaan.

Komunitas seperti PlayOn Jogja, figur publik seperti dr Tirta, serta teknologi digital seperti Strava membentuk ekosistem baru gaya hidup sehat. Semua elemen tersebut saling terhubung dalam membangun budaya hidup aktif berbasis komunitas.

Tren ini menandai pergeseran besar dalam pola hidup generasi muda Indonesia. Dari sekadar ikut tren, FOMO kini berubah menjadi gerakan sosial yang membentuk rutinitas hidup sehat jangka panjang.

CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak