Krisis Ketahanan Emosional Remaja: Pelajaran di Balik Kasus Pengeroyokan Guru SMK

M. Reza Sulaiman | Fauzah Hs
Krisis Ketahanan Emosional Remaja: Pelajaran di Balik Kasus Pengeroyokan Guru SMK
Ilustrasi kekerasan. (Pixabay/kalhh)

Sobat Yoursay, tragedi pengeroyokan guru di sebuah SMK di Tanjung Jabung Timur meninggalkan satu tanda tanya besar di benak kita: mengapa teguran kini sering kali dibalas dengan kekerasan?

Padahal, guru tersebut hanya mengingatkan muridnya yang berkata kasar tanpa adanya provokasi fisik maupun makian balasan. Insiden ini membuktikan bahwa kita tidak lagi sekadar bicara soal pelanggaran tata tertib sekolah, melainkan tentang sesuatu yang lebih serius, yaitu runtuhnya ketahanan emosional generasi muda.

Kita hidup pada zaman ketika perasaan menjadi pusat segalanya. Tersinggung sedikit dianggap trauma, ditegur dianggap direndahkan, dan dikritik dianggap dibenci. Remaja, yang secara psikologis memang masih mencari identitas dan validasi, tumbuh dalam iklim emosional yang rapuh. Teguran yang dulu dianggap biasa, kini mudah dibaca sebagai ancaman terhadap harga diri.

Padahal, Sobat Yoursay, sekolah tidak mungkin berjalan tanpa teguran. Sebab, pendidikan tanpa koreksi sama saja dengan membiarkan kesalahan tumbuh tanpa arah.

Agus Saputra, guru yang menjadi korban pengeroyokan, menyebut tidak ada niat menghina atau mengejek. Teguran yang disampaikan bersifat umum, sebagai dorongan agar siswa mematuhi aturan. Namun, di sinilah masalahnya. Apa yang dimaksud guru sebagai nasihat bisa diterjemahkan murid sebagai serangan personal. Guru tidak sepenuhnya salah, tetapi murid tidak memiliki cukup bekal untuk mengelola rasa tidak nyaman.

Daya tahan emosional atau emotional resilience adalah kemampuan seseorang untuk menerima tekanan, kritik, dan ketidaknyamanan tanpa langsung meledak. Sayangnya, kemampuan ini jarang benar-benar diajarkan. Di rumah, banyak anak dibesarkan dengan dua pola ekstrem: antara dimarahi habis-habisan atau dilindungi secara berlebihan. Yang satu membuat anak terbiasa dengan kekerasan, yang lain membuat anak alergi terhadap koreksi. Keduanya sama-sama bukan pilihan yang tepat.

Sobat Yoursay mungkin pernah melihat atau bahkan mengalaminya sendiri. Anak yang tidak pernah dibiasakan mendengar kata “tidak” akan kaget saat dunia menolaknya. Teguran guru yang seharusnya menjadi latihan menghadapi realitas, justru dianggap penghinaan. Apalagi pada usia remaja, bagian otak yang mengatur emosi berkembang lebih cepat dibanding bagian yang mengatur logika dan kontrol diri. Kombinasi ini membuat konflik kecil mudah membesar.

Kita juga tidak bisa menutup mata pada pengaruh lingkungan digital. Media sosial penuh dengan contoh pelampiasan emosi instan. Marah direkam, konflik diviralkan, dan respons paling keras sering mendapat sorakan. Dalam ekosistem seperti ini, remaja belajar bahwa emosi adalah senjata, bukan sesuatu yang perlu dikelola.

Hal yang sering luput, Sobat Yoursay, adalah bagaimana sekolah jarang memberi ruang aman untuk belajar "gagal" secara emosional. Kita sibuk mengukur nilai akademik, tetapi lupa mengukur kemampuan anak menerima kritik. Pendidikan karakter sering berhenti pada pidato upacara. Tidak ada latihan konkret tentang bagaimana cara menenangkan diri saat tersinggung, bagaimana menanggapi teguran tanpa merasa direndahkan, atau bagaimana menyampaikan keberatan tanpa kekerasan.

Akibatnya, guru berada di posisi yang semakin sulit. Mereka dituntut tegas, tetapi tidak boleh melukai perasaan. Diminta mendisiplinkan, tetapi diharapkan selalu lembut. Satu kalimat yang salah intonasi bisa dianggap penghinaan. Dalam kondisi seperti ini, wibawa guru runtuh karena ruang emosional murid terlalu sempit untuk menampung ketidaknyamanan.

Kasus di Jambi memperlihatkan betapa rapuhnya ruang kelas kita. Teguran berubah menjadi konflik, konflik berubah menjadi kekerasan. Setelah itu, mediasi dilakukan, aktivitas belajar kembali kondusif, lalu kita lanjut hidup seperti biasa sampai kasus serupa muncul lagi di tempat lain.

Sobat Yoursay, barangkali inilah saatnya kita beralih dari sekadar mencari siapa yang bersalah dan mulai merenungkan apa yang selama ini luput kita ajarkan. Kita seolah-olah lupa mendidik generasi muda bahwa rasa tidak nyaman adalah bagian dari proses pendewasaan. Bahwa sebuah teguran bukanlah bentuk penghinaan, dan meskipun marah adalah perasaan yang manusiawi, melukai orang lain sama sekali tidak memiliki pembenaran.

Membangun daya tahan emosional memang bukan hal mudah. Ia butuh teladan dari orang dewasa, konsistensi dari sekolah, dan dukungan dari keluarga. Anak perlu dilatih menghadapi konflik kecil agar tidak meledak di konflik besar. Guru perlu dilindungi agar bisa mendidik tanpa rasa takut. Masyarakat juga perlu berhenti menormalisasi reaksi berlebihan atas setiap ketidaknyamanan.

Kasus pengeroyokan ini menunjukkan bahwa kita gagal mengajarkan pengelolaan emosi pada anak didik kita. Bayangkan, jika untuk sebuah teguran saja mereka merespons dengan serangan, kita patut cemas: bagaimana mereka akan berhadapan dengan kerasnya dunia luar yang tidak akan selalu bersikap manis kepada mereka?

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak