Review Film 'Kembang Api': Melampaui Waktu dengan Komedi dan Refleksi Diri

Candra Kartiko | Ellen Yohana
Review Film 'Kembang Api': Melampaui Waktu dengan Komedi dan Refleksi Diri
Poster Film Kembang Api (Instagram/@hanggini)

Film "Kembang Api" merupakan sebuah karya dari Falcon Pictures yang disutradarai oleh Herwin Novianto, dan menghadirkan sejumlah bintang kenamaan, seperti Donny Damara, Ringgo Agus Rahman, Marsha Timothy, dan Hanggini.

Cerita film ini melibatkan empat tokoh yang memiliki niat untuk mengakhiri hidup mereka dengan menggunakan kembang api. Namun, rencana mereka mengalami kejanggalan ketika mereka terjebak dalam sebuah lingkaran waktu, dan dari sinilah konflik utama dalam film ini bermula. Dalam upaya mereka untuk memahami fenomena aneh ini, masing-masing karakter terpaksa melakukan introspeksi diri sambil berhadapan dengan diri mereka sendiri.

BACA JUGA: Review Drama Korea '18 Again', Meraih Mimpi di Kehidupan Masa Lalu

"Kembang Api" memiliki akar inspirasi dari film Jepang berjudul "3ft Ball and Soul" yang dirilis pada tahun 2017. Meskipun mengusung tema yang serupa, keduanya berhasil mengguncang hati penonton dengan pendekatan yang sederhana.

Di tengah sebuah ruangan, empat individu yang berbeda latar belakang—Fahmi, Sukma, Raga, dan Anggun—berkumpul dengan satu tujuan tragis, yaitu bunuh diri melalui ledakan bola besar. Fahmi, sebagai perencana utama, mengajak ketiganya untuk mengakhiri hidup dengan cara yang "menyala," sesuai dengan tulisan di bola besar yang berbunyi "urip iku rup" atau hidup harus menyala. Sayangnya, rencana tersebut tidak berjalan sesuai harapan, dan sebaliknya, mereka terperangkap dalam lingkaran waktu yang menjadi fokus utama konflik dalam film.

Berbeda dengan pendekatan konvensional yang hanya memusatkan cerita pada satu karakter, "Kembang Api" memberikan ruang bagi penonton untuk meresapi permasalahan empat karakter utama secara mendalam dan runtut. Melalui pengembangan karakter yang kuat, penonton diberikan pemahaman yang lebih baik terkait alasan masing-masing karakter ingin mengakhiri hidup. Lingkaran waktu dalam cerita dijadikan sebagai sarana refleksi bagi karakter-karakter ini, mempertanyakan dan merenungkan keputusan mereka untuk mengakhiri hidup.

BACA JUGA: Film Sokola Rimba, Sebuah Refleksi Sekaligus Evaluasi di Hari Guru Nasional

Namun, yang membuat "Kembang Api" menonjol adalah fokus penceritaannya yang berbeda. Selain mengeksplorasi konsep lingkaran waktu, film ini juga memasukkan elemen komedi yang dibangun melalui argumen dan perdebatan antar karakter terkait masalah-masalah mereka. Isu-isu seperti trauma, kehilangan orang terkasih, dan bullying memberikan kedalaman pada pesan moral film ini, menjadikannya lebih dari sekadar cerita dramatis.

Penting untuk dicatat bahwa film ini tidak hanya mengandalkan konsep dan cerita, tetapi juga pada penampilan para pemerannya. Donny Damara dan Ringgo Agus Rahman memberikan pengantar narasi yang kuat, sementara Marsha Timothy dan Hanggini, meski mungkin dihadapkan pada naskah yang tidak sepenuhnya mendukung, berhasil menciptakan karakter-karakter yang kuat dan menggugah. Hanggini, sebagai representasi remaja milenial, tampil mencuri perhatian melalui dialognya yang berbobot.

Secara keseluruhan, meskipun "Kembang Api" tergolong sebagai film yang sederhana, kesederhanaan tersebut justru menjadi kekuatan utamanya. Film ini tidak terlihat "miskin," tetapi sebaliknya, elemen-elemen sederhana di dalamnya memberikan kemudahan bagi penonton untuk memahami dan meresapi pesan yang ingin disampaikan. Segala nuansa emosional, dari kesedihan hingga tawa, tersampaikan dengan baik, menjadikan durasi film yang tidak terasa membosankan. Dengan demikian, "Kembang Api" berhasil menjadi sebuah karya yang memukau melalui keseimbangan cerita, karakter, dan ekspresi emosional.

Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak