"Nine Liars" adalah novel kelima dalam seri Truly Devious karya Maureen Johnson, namun novel ini dapat dibaca secara mandiri karena menawarkan kasus baru dan lokasi yang berbeda. Kali ini, tokoh utama Stevie Bell tidak lagi berada di Ellingham Academy, tetapi menghadapi kasus misteri yang membawanya ke Inggris.
Cerita dimulai saat Stevie dan teman-temannya mengunjungi London dalam program pertukaran pelajar. Namun, kunjungan itu menjadi lebih dari sekadar wisata budaya ketika Izzy, sepupu David, meminta bantuan Stevie untuk menyelidiki pembunuhan lama yang belum terpecahkan, kasus dari tahun 1995 yang melibatkan sekelompok sahabat universitas yang menyebut diri mereka "The Nine."
Dua anggota dari kelompok itu, Rosie dan Sebastian, ditemukan terbunuh di rumah pedesaan saat liburan. Keduanya dibunuh dengan cara brutal menggunakan kapak taman, dan meskipun pembunuhan itu menggemparkan, kasus tersebut tidak pernah terselesaikan.
Stevie, dengan kepekaan detektif khasnya, tertarik oleh kerumitan kasus ini. Baginya, teka-teki pembunuhan adalah cara untuk mengalihkan diri dari kecemasan dan ketidakpastian hidupnya. Maka dimulailah penyelidikan tidak resmi yang membawa Stevie ke dalam jaringan rahasia, kebohongan, dan masa lalu yang kelam.
Maureen Johnson sekali lagi menunjukkan keahliannya dalam menciptakan atmosfer misterius yang penuh detail. Latar pedesaan Inggris, rumah tua, dan aura intelektual para tersangka menciptakan nuansa ala Agatha Christie, namun tetap dibumbui dengan gaya remaja kontemporer khas Johnson.
Salah satu kekuatan novel ini terletak pada struktur naratif ganda, Johnson menyeimbangkan cerita masa kini dengan kilas balik ke tahun 1995, saat The Nine masih kuliah dan membentuk dinamika persahabatan yang rumit. Ini memberi pembaca sudut pandang unik terhadap setiap tersangka dan motif tersembunyi mereka.
Karakter Stevie tetap menjadi daya tarik utama. Cerdas, skeptis, dan introvert, ia menjadi detektif remaja yang kompleks dan relatable. Namun dalam "Nine Liars", kita juga melihat sisi rapuh Stevie, terutama dalam hubungannya dengan David dan ketidakpastian masa depannya.
David, yang biasanya menjadi karakter pendukung, mulai menunjukkan ketidakharmonisan dengan Stevie. Hubungan mereka menjadi salah satu subplot emosional novel ini, mencerminkan perubahan dan pertumbuhan personal yang dialami karakter remaja ketika mereka mendekati akhir masa SMA.
Di sisi lain, The Nine, kelompok teman lama yang kini menjadi tersangka ditulis dengan karakterisasi yang kuat. Setiap anggota memiliki motif potensial, latar belakang misterius, dan dinamika antaranggota yang sarat akan konflik. Persahabatan mereka penuh dengan rahasia, kesetiaan, dan pengkhianatan.
Stevie harus memilah antara kebohongan masa lalu dan fakta yang tersamar oleh waktu. Ketegangan meningkat ketika ia mulai menyadari bahwa seseorang di antara The Nine mungkin tidak pernah ingin kebenaran terungkap dan bersedia melakukan apa pun untuk menjaganya.
Misteri yang dibangun Johnson bukan hanya soal “siapa pembunuhnya,” tetapi juga tentang bagaimana kebohongan kecil bisa menumpuk menjadi tragedi besar. Tema kepercayaan, ilusi masa muda, dan keretakan dalam persahabatan lama sangat terasa kuat dalam cerita ini.
Penulisan Johnson tetap cepat, tajam, dan penuh humor. Meskipun membahas pembunuhan, novelnya tidak pernah terasa terlalu gelap atau menakutkan. Sebaliknya, ia mengandalkan atmosfer, dialog cerdas, dan karakter yang dinamis untuk membangun ketegangan.
Namun, pacing novel ini agak lambat di bagian tengah, terutama karena ada banyak narasi yang fokus pada hubungan antarkarakter dan perenungan pribadi Stevie. Tapi bagi penggemar misteri karakter driven, ini justru menjadi nilai tambah.
Secara keseluruhan, "Nine Liars" adalah novel yang kuat dalam jajaran novel misteri remaja kontemporer. Novel ini memiliki gabungan misteri klasik, dinamika sosial yang tajam, dan protagonis yang penuh dengan lapisan.
Identitas Buku
Judul: Nine Liars
Penulis: Maureen Johnson
Penerbit: Katherine Tegen Books
Tanggal Terbit: 27 Desember 2022
Tebal: 445 Halaman
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Membedah Sisi Gelap Keadilan Manusia di Ulasan Novel The Hellbound
-
Novel Pukul Setengah Lima, Mencari Pintu Keluar dari Realitas Kehidupan
-
Ulasan Buku Empowered Me, Menjadi Ibu Berdaya Tanpa Kehilangan Identitas
-
Ulasan Novel The Bride Test, Ketulusan Mencintai dalam Ketidaksempurnaan
-
Ulasan Novel Si Putih: Saat Teknologi Menjadi Ancaman dan Kesetiaan Diuji
Artikel Terkait
-
Konspirasi Lucu Ikan yang Penuh Edukasi di Buku Don't Trust Fish
-
Review Novel The Day We Met The Queen, Harapan Seorang Anak Pengungsi ke Ratu Inggris
-
Menyingkap Kisah Kelam dalam Buku The Paris Apartment Karya Lucy Foley
-
Menyongsong Transformasi Perpustakaan Berbasis Kecerdasan Buatan
-
Ulasan Novel Some Shall Break: Melacak Jejak Pembunuh Berantai dan Luka Lama
Ulasan
-
Memahami Manusia Lewat Biologi di Buku Behave karya Robert Sapolsky
-
Ulasan Buku The Magic of Thinking Big: Motivasi yang Tak Lekang oleh Zaman
-
Ulasan Buku Zona Produktif Ibu Rumah Tangga: Berdaya Meski di Rumah Saja
-
Ulasan Buku I Do: Kiat Memutus Luka Batin Warisan Leluhur dalam Pernikahan
-
Review Film In Your Dreams: Imajinasi Netflix yang Penuh Keajaiban
Terkini
-
Jurnalisme di Era Sosial Media Apakah Masih Relevan?
-
Mengumpulkan Kembali Puing-puing Sisa Kehancuran, Pasca Banjir Aceh
-
Banjir Bandang Sumatra: Dari Langkah Cepat Hingga Refleksi Jangka Panjang
-
Meski Bencana Banjir di Aceh dan Sumatra Sudah Surut, Tugas Kita Belum Usai
-
3 Film Korea Tayang Januari 2026, Comeback Han So Hee hingga Choi Ji Woo