CERPEN: Perjamuan di Meja Pengkhianatan

M. Reza Sulaiman | Sherly Azizah
CERPEN: Perjamuan di Meja Pengkhianatan
Perjamuan di Meja Pengkhianatan (Nano Banana/Gemini AI)

“Dulu kau ingin membakarku hidup-hidup di depan gerbang parlemen, sekarang kau malah menuangkan wine ke gelasku. Dunia ini lucu, atau kau yang sedang melawak, Arya?”

Suara itu berat dan berwibawa, datang dari seorang pria paruh baya bernama Jenderal (Purn.) Surya. Ia adalah simbol kekuasaan lama yang dulu paling dibenci oleh gerakan pelajar. Di hadapannya, duduk Arya, mantan ketua senat mahasiswa paling radikal, yang lima tahun lalu memimpin aksi “Gulingkan Sang Jenderal.”

Malam ini, di restoran rooftop yang seluruh lantainya telah disewa secara pribadi, tidak ada gas air mata. Yang ada hanyalah aroma steak wagyu dan melodi piano yang melankolis.

“Waktu mengubah cara kita melihat musuh, Jenderal,” Arya menjawab dengan tenang, meski hatinya terasa seperti diremas. “Dulu aku pikir kau adalah tembok yang harus diruntuhkan. Sekarang aku sadar, kau adalah pondasi yang harus kupakai jika aku ingin membangun gedungku sendiri.”

“Pilihan kata yang cantik untuk menutupi rasa malu karena sudah menyatu dengan kondisiku,” Surya mendengus, lalu menyesap minumannya. “Rakyatmu di bawah sana masih saling maki di media sosial, membela namamu dan mengutuk namaku. Mereka tidak tahu kalau kita sedang merencanakan pembagian kursi menteri untuk lima tahun ke depan.”

Arya tidak menjawab. Di saku jas mahalnya, ponselnya bergetar tanpa henti. Ribuan notifikasi datang dari kawan-kawan seperjuangannya dulu, yang merasa dikhianati setelah melihat foto Arya bersalaman dengan Surya beredar di berita sore tadi.

“Kenapa kau memilihku, Jenderal? Ada banyak politisi senior yang antre untuk menjilat kakimu,” tanya Arya, mencoba mengalihkan rasa bersalahnya.

Surya meletakkan pisaunya, matanya menatap tajam ke arah Arya. “Karena kau punya satu hal yang tidak mereka miliki: Kepercayaan anak muda. Aku butuh wajah idealismemu untuk menutupi dosa-dosa masa laluku. Kau adalah detergent politikku, Arya. Kau mencuciku menjadi bersih di mata generasi baru, dan sebagai imbalannya, aku memberi kunci menuju brankas negara.”

Suasana tiba-tiba dingin. Arya merasa seperti sedang melakukan perjanjian dengan iblis. Namun, ketegangan yang sebenarnya baru dimulai ketika seorang pelayan datang membawa nampan berisi sebuah amplop perak.

“Buka,” perintah Surya singkat.

Arya membuka amplop itu. Isinya adalah daftar nama aktivis yang akan ditangkap besok pagi atas tuduhan makar. Di urutan pertama, tertulis nama Laras—kekasih Arya, satu-satunya orang yang masih bertahan di jalanan dan menolak berkompromi.

“Apa maksudnya ini?!” Arya berdiri, kursinya terjungkal ke belakang.

“Itu adalah mahar yang harus kau bayar,” Surya menjawab tanpa menoleh. “Besok, kau yang akan membacakan konferensi pers bahwa penangkapan ini demi stabilitas nasional. Kau harus membuktikan bahwa kau sudah benar-benar menjadi bagian dari kami. Korbankan Laras, dan jabatan Menteri Pemuda ada di tanganmu.”

“Kau gila! Aku tidak akan melakukannya!”

“Oh, kau akan melakukannya, Arya,” Surya mengeluarkan sebuah tablet kecil.

Di layar itu terlihat video tersembunyi saat Arya menerima koper berisi uang tunai untuk memasok logistik demonstrasi palsu tahun lalu yang sengaja diciptakan untuk menjatuhkan saingan Surya. “Jika daftar nama itu tidak dieksekusi, maka video ini yang akan keluar. Pilihlah, kau menjadi menteri, atau kau menjadi penghuni sel tepat di sebelah Laras dengan cap penipu rakyat?”

Arya merasa dunianya runtuh. Ia melihat ke bawah, ke arah jalanan Jakarta yang macet. Di sana, ia melihat kerumunan orang yang masih mengenakan kaus dengan wajahnya, berteriak menuntut keadilan. Mereka tidak tahu bahwa pahlawan mereka sedang bernapas secara moral di lantai atas sebuah gedung mewah.

Tiba-tiba, lampu restoran berkedip. Suara sirene polisi terdengar tepat di bawah gedung.

“Sepertinya kau tidak punya banyak waktu untuk berpikir,” Surya berdiri, merapikan jasnya. “Aparat sudah siap bergerak. Pilih sekarang, tanda tangani surat pernyataan ini sebagai saksi kunci, atau hancur bersamaku.”

Arya mengambil pena di atas meja. Tangannya gemetar hebat. Ia menatap wajah Surya yang tampak begitu tenang, seolah semua ini hanyalah permainan catur biasa. Namun, di tengah tekanan itu, Arya melihat pantulan cahaya dari jendela kaca di belakang Surya. Ada sebuah titik merah kecil—laser dari senjata jarak jauh yang diarahkan tepat ke jantung sang Jenderal.

Arya menyadari sesuatu yang mengerikan. Bukan hanya dirinya yang dijebak. Surya pun sedang menjadi sasaran. Ada faksi lain yang lebih kuat di dalam koalisi itu yang ingin melenyapkan sang Jenderal dan melimpahkan kesalahannya kepada Arya.

“Jenderal, merunduk!” teriak Arya spontan.

DORRR!

Kaca restoran pecah berantakan. Namun, bukan Surya yang terkena peluru, melainkan gelas anggur di tangan Surya yang hancur berkeping-keping. Itu adalah tembakan peringatan.

Tiba-tiba, pintu lift terbuka. Sekelompok orang bersenjata lengkap dengan pakaian hitam tanpa identitas masuk. Mereka tidak menangkap Arya, justru mereka menodongkan senjata ke arah Surya.

“Jenderal Surya,” salah satu dari mereka berbicara dengan suara mekanis dari balik topeng. “Mandat Anda sudah dicabut oleh ‘Dewan Pusat’. Anda dianggap terlalu banyak membawa risiko karena skandal lama yang mulai tercium. Dan kau, Arya... selamat. Kau baru saja naik pangkat secara instan.”

Arya bingung. “Maksudnya?”

“Jenderal Surya akan ‘menghilang’ malam ini karena diculik oleh kelompok radikal yang—menurut berita yang akan kami rilis nanti, dipimpin oleh kekasihmu, Laras. Dan kau, Arya, sebagai mantan aktivis yang sudah bertransformasi, akan muncul sebagai pahlawan yang mencoba menyelamatkannya namun gagal. Rakyat akan menangis, dan kau akan mendapatkan simpati seluruh negeri.”

Arya menatap Surya yang kini wajahnya pucat pasi, lalu menatap para pria bersenjata itu. Ini adalah intrik di dalam intrik. Koalisi kepentingan telah berubah menjadi mesin pemotong daging yang saling memangsa.

“Aku tidak mau bagian dari ini!” Arya berteriak.

“Kau sudah di dalam, Arya. Tidak ada pintu keluar dari lingkaran ini,” salah satu pria itu mendekati Arya dan menyelipkan pistol ke tangannya. “Sekarang, tembak kakinya. Buat ini terlihat seperti perlawanan yang heroik. Lakukan, atau Laras akan mati dalam ‘kontak senjata’ malam ini.”

Arya memegang pistol itu. Beratnya seperti memikul beban seluruh rakyat yang dikhianatinya. Ia menatap Surya yang kini tergeletak di depannya—pria yang tadi begitu berkuasa, kini hanya seekor tikus yang ketakutan.

Di kejauhan, suara helikopter mulai terdengar mendekat. Arya menatap kamera CCTV di sudut ruangan yang masih menyala. Ia tahu, apa pun yang ia lakukan malam ini, dunianya sudah berakhir.

Arya perlahan mengangkat pistolnya. Bukan ke arah kaki Surya, melainkan ke arah kepalanya sendiri.

“Kalian ingin pahlawan?” bisik Arya dengan air mata yang mengalir di pipinya. “Kalian tidak akan mendapatkan apa-apa.”

Jari Arya mulai menarik pelatuk. Namun, tepat pada detik itu, sebuah pesan masuk ke layar jam tangan. Pesan dari Laras.

“Arya, jangan lakukan apa pun. Kami sudah di dalam server gedung. Kami sedang menyebarkan ini secara langsung ke seluruh dunia. Jangan mati sebagai tumbal. Hiduplah sebagai saksi.”

Arya terhenti. Para pria bersenjata itu tiba-tiba panik melihat ponsel mereka masing-masing.

“Sial! Matikan koneksinya! Semuanya bocor!”

Di tengah kekacauan itu, Arya melihat ke arah kamera CCTV. Ia tersenyum getir. Ia menyadari bahwa di panggung politik ini, selalu ada mata ketiga yang menonton.

Koalisi yang dibangun di atas kepentingan pribadi tidak akan pernah menjadi pondasi yang kokoh. Ketika idealisme ditukarkan dengan kursi kekuasaan, seseorang tidak hanya kehilangan integritasnya, tetapi juga kehilangan kendali atas hidupnya sendiri. Dalam politik, musuh yang paling berbahaya bukanlah dia yang berada di seberang jalan, melainkan dia yang duduk di satu meja bersamamu.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak