Kita bukan cerita yang tertulis di langit untuk abadi, tapi rasa ini akan selalu abadi untukmu.
***
Aku tidak pernah benar-benar siap pada hari ketika cinta kita harus diakhiri bukan karena habis, melainkan karena dipaksa. Tidak ada pertengkaran hebat, tidak ada pengkhianatan. Yang ada hanya keputusan-keputusan besar yang datang dari luar, mengetuk pintu dengan sopan tapi menghancurkan isi rumah.
Hari itu hujan turun dengan cara yang malas, rintiknya kecil tapi berisik di hati. Aku duduk di bangku kafe favorit kita, memandangi dua gelas kopi yang uapnya mulai menghilang. Seperti kisah kita sekarang, perlahan dingin tanpa sempat diselamatkan.
“Kita harus bicara,” katamu, dan aku tahu kalimat itu tidak pernah membawa kabar baik.
Aku menatapmu, mencoba membaca wajah yang sudah ku hafal setiap lekuknya. Kamu tersenyum, tapi senyum itu terasa seperti tempelan. Ada, tapi tak hidup.
“Aku akan dijodohkan,” ucapmu akhirnya.
Kalimat itu meluncur ringan, seolah hanya pemberitahuan tentang cuaca besok. Tapi di kepalaku, semuanya runtuh. Aku ingin tertawa, mengatakan kalau ini bukan lagi era Siti Nurbaya, mengatakan cinta saja seharusnya cukup. Tapi aku tahu dunia tidak selalu berjalan dengan logika hati.
“Kapan?” tanyaku bodoh.
“Sebulan lagi.”
Sebulan. Waktu yang terlalu singkat untuk melupakan, terlalu lama untuk pura-pura tidak merasakan apa-apa.
Aku ingin marah. Pada orang tuamu, pada tradisi, pada semesta yang tidak adil. Tapi melihat matamu yang berkaca-kaca, semua amarah itu berubah menjadi lelah. Kamu bukan memilih pergi. Kamu diseret.
“Kamu mau?” tanyaku pelan.
Kamu menggeleng, cepat, seperti takut jawabannya akan terdengar keras. “Aku nggak punya pilihan.”
Kalimat itu lebih menyakitkan daripada pengakuan tidak cinta.
Sejak hari itu, kita memang masih bertemu. Ironis, ya? Kita sama-sama tahu akhir cerita sudah ditentukan, tapi tetap memilih berjalan ke sana bersama. Mungkin karena kita ini dua insan yang pengecut. Atau mungkin karena kita cuma ingin mengumpulkan sebanyak mungkin kenangan sebelum semuanya dicabut paksa.
Kita masih menonton film tanpa benar-benar menonton, tertawa di bagian yang tidak lucu, dan saling menggenggam tangan lebih erat dari biasanya. Setiap sentuhan terasa seperti hitungan mundur. Setiap detik menjadi terlalu berharga dan terlalu menyakitkan.
Di kepalaku, aku sering bertanya, 'kalau cinta ini nyata, kenapa tidak cukup kuat melawan semuanya?' Tapi kenyataan tidak sesederhana kalimat motivasi di media sosial. Ada keluarga, ada kewajiban, ada rasa takut mengecewakan orang-orang yang membesarkanmu.
Aku mulai belajar mencintaimu dengan cara yang berbeda, bukan dengan harapan memiliki, tapi dengan keberanian untuk melepaskan. Sakit, tap iharus ku hadapi dengan cara apa pun.
Hari perpisahan ternyata datang lebih cepat, tanpa aba-aba dramatis. Tidak ada hujan deras. Tidak ada musik sedih. Langit cerah, terlalu cerah untuk sebuah akhir yang memilukan.
“Kita berhenti di sini,” katamu di depan rumah.
Aku mengangguk. Kalau aku bicara, aku tahu aku akan memohon. Dan aku tidak ingin mengingat diriku sebagai seseorang yang memaksa orang yang ku cintai untuk memilih antara aku dan hidupnya.
Aku memelukmu. Lama. Seolah ingin menghafal ukuran tubuhmu, detak jantungmu, dan rasa aman yang sebentar lagi akan hilang.
“Maaf,” bisikmu.
“Jangan minta maaf karena mencintaiku,” jawabku, meski suaraku bergetar.
Kamu pergi tanpa menoleh. Mungkin kalau kamu menoleh, kita berdua tidak akan cukup kuat untuk benar-benar berpisah.
Hari-hari setelahnya terasa aneh. Aku masih ingin mengirim pesan, masih ingin bercerita tentang hal-hal kecil yang dulu hanya milik kita. Tapi aku belajar menahan diri. Mencintai tidak selalu berarti hadir. Kadang justru berarti mundur.
Aku tidak membencimu. Aku juga tidak membenci orang yang akan bersamamu nanti. Yang kubenci hanyalah kenyataan bahwa ada cinta yang tidak pernah diberi kesempatan untuk tumbuh dewasa.
Sekarang, ketika mengingatmu, rasanya tidak lagi perih, lebih seperti luka yang sudah mengering tapi meninggalkan bekas. Aku masih percaya cinta kita nyata, meski usianya singkat. Dan mungkin, itu cukup.
Karena tidak semua cinta ditakdirkan untuk dimiliki. Ada yang hanya singgah, mengajarkan kita cara mencintai dengan utuh, lalu pergi sebelum kita siap.
Dan aku akan selalu mengingatmu sebagai seseorang yang ku cintai sepenuh hati, meski semesta memutuskan kisah kami harus berakhir lebih awal.
Aku cinta kamu, tapi aku harus melepasmu.