Melihat Pocong Melompat-lompat

Hayuning Ratri Hapsari | Risen Dhawuh Abdullah
Melihat Pocong Melompat-lompat
Ilustrasi Cerpen Melihat Pocong Melompat-Lompat (pexels.com)

Bapakku bercerita kepadaku mengenai pengalamannya di masa remaja, baru saja. Supaya kalian juga tahu, akan kuceritakan ulang kisahnya pada kalian.

Suatu ketika bapakku pulang dari mengaji bersama kakaknya dan sampai di sebuah perempatan berhenti. Di sana samar-samar kakaknya—budheku—melihat seseorang terbaring tepat di tengah perempatan. Orang yang terbaring itu, seorang laki-laki. Bapakku tentu saja bertanya-tanya karena budheku menyuruhnya untuk berhenti.

“Lihat itu, itu manusia kan?” tanya budheku.

Bapak memfokuskan mata. Dan ternyata manusia. Bapakku kaget sekaligus merinding. Sedangkan budheku malah seperti orang yang biasa saja, maksudnya mendapati manusia yang terbaring di tengah perempatan bukan menjadi sesuatu yang aneh.

Cepat-cepat budhe dan bapakku berlari. Namun, anehnya langkah mereka tidak kunjung sampai pada orang itu. Budheku tersengal-sengal napasnya. Bapakku sangat kembang-kempis paru-parunya.

“Kita sedang dikerjai rupanya,” kata budheku. Saat mengucapkan kalimat itu, tidak ada segores pun ketakutan yang hinggap padanya.

“Dikerjai? Lebih baik kita balik arah saja, Mbak.”

Sementara orang yang terbaring itu masih berada di tempatnya. Tiba-tiba hujan deras. Budheku dan bapakku langsung berteduh. Kebetulan di dekat mereka ada kios kosong.

“Bagaimana itu mbak, apa kita lapor Pak RT saja?”

“Sudah kubilang, kita sedang dikerjai. Tidak perlu lapor. Itu orang jadi-jadian.”

“Hantu?”

Budheku tidak menjawab. Bapakku ketakutan dan berusaha mengalihkan pandangannya dari arah tengah perempatan. Bapakku terkaget saat budheku menyuruhnya untuk menoleh ke orang yang terbaring itu.

“Kau melihat?”

“Melihat tentu saja,” kata bapakku. “Jangan berusaha menakut-nakuti dengan pertanyaan yang sudah jelas-jelas ada jawabannya.”

Bapakku sedikit kesal.

“Bukan itu. Bukan orang yang terbaring.”

“Lalu apa, Mbak?”

Bapakku terpaksa melihat ke arah tengah perempatan.

“Ada pocong. Dua. Mereka sedang melompat-lompat, mengitari orang itu.”

“Jangan menakut-nakutiku.”

“Aku tidak sedang membuatmu takut, meskipun aku tahu kamu penakut.”

“Ayo balik, cari jalan lain, Mbak.”

“Sama saja. Cari jalan lain, tetap akan bertemu dengan hal yang sama,” kata budheku seolah ia pengalaman.

Budheku memang terkenal sering dihantui oleh penampakan-penampakan makhluk halus. Melihat yang baru saja, wajar saja jika ia tidak gentar.

“Aku tidak tahan, Mbak.”

“Kubilang tetap di sini. Melihat sampai selesai.”

Bapakku tidak kuat. Ia berlari tanpa teriakan. Namun, dari larinya sangat menggambarkan bahwa ia sedang ketakutan. Budheku masih diam di tempat. Saat mereka sudah dipertemukan kembali di rumah, bapakku bercerita kepada budheku, bahwa apa yang dibilang oleh budheku adalah benar.

“Saat kita menghindar, mereka justru penasaran,” kata budheku. Kata-kata budheku malah menambah rasa takut yang menyelimuti ayah.

“Kalau aku balik ke tempat Mbak, menunggu. Lucu juga,” kata bapakku. “Makanya itu, akhirnya aku berusaha menahan sekuat tenaga rasa takut.”

“Sebenarnya jika kita menatapnya, akan hilang sendiri. Jadi tidak perlu takut.”

Budheku mengatakan kepada bapak, ia bisa berkata seperti itu karena sudah pengalaman, sebagaimana yang kukatakan. Dulu, budhe juga takut. Namun, menuruti rasa takut hanya akan membuat seseorang terhambat. Bayangkan saja, sebelum bersama bapakku, budheku berangkat pulang mengaji sendirian. Jika ia menuruti rasa takut, ia belum dan mungkin tidak akan bisa mengaji.

Jadi, begitulah pengalaman bapakku di masa remajanya saat ia dihantui penampakan. Meski sekarang ia tidak takut lagi, tetapi kenangan itu terkadang membuat bulu kuduk merinding. Aku sendiri, hingga umurku menginjak dua puluh lima tahun, belum pernah mengalami pengalaman yang mistis. Entah apapun bentuknya.

Apakah kalian punya pengalaman mistis, sama seperti bapakku?

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak