Semua berawal dari rasa gatal yang samar di bawah pergelangan tangan kiri Satria. Awalnya, ia mengira itu hanya alergi debu atau bekas gigitan serangga kecil akibat terlalu lama membersihkan loteng rumah tua peninggalan kakeknya.
Namun, saat ia menggaruknya di bawah lampu meja yang terang, ia melihat sesuatu yang tak masuk akal. Sebuah ujung benang berwarna merah darah menyembul dari salah satu pori-porinya. Rasa tidak enak yang aneh muncul. Bingung.
Benang itu halus, lebih tipis dari benang jahit, namun warnanya begitu menyala seolah-olah baru saja direndam dalam darah segar. Satria mencoba menariknya. Ia mengira itu mungkin hanya serat pakaian yang tidak sengaja tertanam di kulitnya yang luka.
Namun, saat ia menarik ujung itu, rasa sakit yang tajam seperti sayatan silet dari arah dalam menjalar hingga ke bahu dan menembus ke sumsum tulangnya. Tubuhnya sempat tersentak rasa kaget. Aneh pikirnya.
Benang itu tidak putus. Justru, ia memanjang seiring tarikan Satria yang gemetar. Sepuluh sentimeter, lima puluh sentimeter, hingga satu meter benang merah kini menjuntai dari lengannya. Luka di pori-porinya tidak mengeluarkan darah merah kental, melainkan terus memuntahkan serat merah ini.
Pada saat yang sama, sebuah suara aneh terdengar. Itu bukan suara dari dalam kepalanya, melainkan suara yang berasal dari balik dinding beton kamarnya yang dilapisi wallpaper tua berpola bunga kusam. Keanehan bertambah.
Sebuah jeritan pendek. Sayu, parau, dan penuh penderitaan. Satria membeku. Ia tinggal sendiri di rumah besar ini, dan tetangga terdekat berjarak cukup jauh untuk bisa mendengar jeritannya. Ada yang salah.
Satria mencoba mengabaikannya. Ia mengambil gunting, berniat memutus benang sialan itu. Namun, setiap kali mata gunting mendekati benang, rasa sakit di dadanya menghebat, seolah-olah jantungnya sendiri yang akan terpotong jika benang itu putus.
Rasa sakit yang bercampur perasaan tak enak membuatnya kembali menarik benang itu. Kali ini lebih panjang. Sambil meringis menahan perih di lengannya yang kini mulai robek, ia menggulung benang merah itu di telapak tangannya. Semakin banyak benang yang keluar dari tubuhnya, semakin keras pula suara di balik dinding itu meronta. Wajahnya tiba-tiba menatap dinding.
"Tolong... lepaskan... atau berikan seluruhnya..."
Suara itu kini jelas. Itu suara seorang wanita. Suara yang terdengar seolah tenggorokannya tersumbat oleh sesuatu yang kering. Satria berjalan mendekati dinding ruang tamu. Benang merah di tangannya kini sudah sepanjang sepuluh meter, meliuk-liuk di lantai seperti ular kecil yang lapar.
Keanehan semakin menjadi ketika ia menyadari bahwa benang itu tidak menumpuk, melainkan merayap masuk ke celah kecil di antara lantai kayu dan dinding beton. Benang itu ditarik oleh sesuatu dari dalam sana.
Dengan keberanian yang lahir dari keputusasaan, Satria mulai menarik benang itu dengan ritme yang lebih cepat. Sret. Sret. Sret. Suara benang yang keluar dari bawah kulitnya terdengar mengerikan, seperti suara daging yang terkoyak perlahan. Dari balik dinding, jeritan itu berubah menjadi raungan penuh amarah. Dinding itu mulai bergetar. Retakan halus muncul di permukaannya, menjalar seperti jaring laba-laba.
Satria tidak bisa berhenti. Tangannya seolah memiliki kemauan sendiri. Kulit pergelangan tangannya kini sudah robek lebar, memperlihatkan jaringan otot yang anehnya mulai berubah menjadi serat-serat merah. Ia tidak lagi melihat daging dan tulang, melainkan jalinan benang yang rumit di bawah kulitnya sendiri.
"Siapa kau?!" teriak Satria dengan suara pecah.
Dinding itu meledak kecil. Serpihan semen dan kayu beterbangan. Di balik dinding yang runtuh itu, tidak ada ruang kosong atau pipa air. Yang ada hanyalah kegelapan yang pekat, dan di tengah kegelapan itu, duduk sebuah sosok yang membuat kewarasan Satria runtuh seketika.
Itu adalah seorang wanita tanpa kulit. Seluruh tubuhnya terdiri dari jalinan benang merah yang sama dengan yang keluar dari tangan Satria. Wajahnya adalah gumpalan benang yang membentuk kontur mata dan mulut yang menganga lebar. Benang yang keluar dari lengan Satria ternyata menyambung langsung ke bagian tengah dada sosok itu.
"Kau... kau berikan tubuhmu," bisik sosok itu.
Suaranya bergema di seluruh ruangan. Satria mencoba mundur, namun benang itu kini menjerat lengannya dengan kuat, menariknya masuk ke dalam lubang dinding. Tubuhnya tak mampu melawan dorongan itu. Ketakutan.
Sebuah gelombang kecil seolah mengalir dalam benang. Dalam ingatannya, ia melihat sebuah kejadian yang mengerikan. Dahulu, kakeknya adalah seorang penjahit yang tersohor karena jahitan jasnya yang tidak pernah rusak.
Semua pejabat menyukai pakaiannya. Namanya disanjung dan hasil jahitannya berharga sangat mahal. Namun, semua itu lahir dari benang terkutuk pemberian iblis. Sampai benang itu mengeluarkan kutukannya yang sangat buruk.
Setiap inci benang yang ditariknya merupakan bagian dari esensi fisik pemiliknya dan orang sekitarnya harus jadi tumbal. Ia melihat tubuhnya mulai mengempis. Ia tidak lagi merasa perih, melainkan mati rasa yang dingin. Sosok wanita di balik dinding mulai bangkit.
Saat benang itu terus ditarik masuk ke dalam tubuhnya, ia mulai mendapatkan kulit. Perlahan, wajahnya menjadi cantik, matanya tumbuh, dan suaranya menjadi jernih. Sebaliknya, Satria kehilangan segalanya. Kulitnya mengelupas, menunjukkan jalinan benang yang menyusun keberadaannya.
Di saat-saat terakhir kesadarannya, Satria melihat sosok wanita itu kini berdiri tegak sebagai manusia utuh. Wanita itu mengambil sebuah jarum perak besar dari sela batu bata. Dengan gerakan yang anggun, ia mulai menjahit kembali retakan di dinding tersebut menggunakan sisa-sisa benang merah dari tubuh Satria yang kini hanya berupa onggokan serat.
"Terima kasih, Satria. Giliranmu sekarang untuk menjaga rumah ini," ucap wanita itu dengan senyum yang sangat manis, senyum yang pernah ia lihat di foto lama neneknya.
Satria ingin berteriak, namun mulutnya kini hanya mengeluarkan hembusan angin yang terjebak di sela-sela bata. Pandangannya menjadi gelap saat batu bata terakhir dipasang kembali. Ia kini berada di dalam kegelapan yang abadi, menjadi bagian dari struktur rumah.
Berbulan-bulan berlalu dalam pengapnya beton dan bata. Hingga suatu hari, getaran langkah kaki kembali terdengar. Seorang penghuni baru, seorang pemuda, berdiri tepat di depan dinding tempat Satria dikubur. Satria merasakan insting lapar yang tak tertahankan. Sebagai gumpalan benang, satu-satunya cara baginya untuk kembali "utuh" adalah dengan menukar tempatnya. Beringas.
Ia mulai mengarahkan ujung benang merahnya. Dengan presisi yang mematikan, ia mendorong ujung seratnya menembus celah pori-pori dinding, menunggu sampai pemuda itu menyandarkan tangannya. Seolah melahap.
"Aduh, kenapa gatal sekali ya?" Suara pemuda itu terdengar dari luar.
Di balik dinding, Satria tersenyum dalam kegelapan. Ia telah menemukan ujung benang barunya. Ia mulai mengait ke dalam daging pemuda itu, bersiap untuk menarik kembali kehidupannya yang hilang, apa pun harganya. Siklus jahitan berdarah itu pun kembali dimulai.