Suara dari Loteng

Bimo Aria Fundrika | Khoirul Umar
Suara dari Loteng
ilustrasi loteng (unsplash)

Aku tidak pernah percaya dengan cerita hantu atau hal-hal mistis. Aku selalu menganggap itu cuma imajinasi orang atau berita yang dibesar-besarkan. Tapi setelah apa yang terjadi di rumah nenekku, aku mulai ragu.

Nenekku tinggal di rumah tua yang cukup besar di pinggir kota kecil. Rumah itu sudah ada sejak aku lahir, dan sebagian besar temboknya terbuat dari kayu tua yang berderit setiap kali angin malam bertiup.

Aku sering datang ke sana, terutama saat libur sekolah. Biasanya, rumah itu terasa hangat karena nenek selalu menyalakan lampu di ruang tamu dan memasak makanan enak.

Tapi malam itu berbeda.

Aku datang sekitar jam enam sore. Nenek sedang menyiapkan makan malam, dan aku membantu menata piring di meja. Semuanya tampak normal sampai lampu di loteng tiba-tiba berkedip beberapa kali.

Loteng itu sudah lama tidak dipakai, hanya untuk menyimpan barang-barang lama. Aku pikir itu cuma listrik mati sebentar, jadi aku tidak terlalu memikirkannya.

Setelah makan malam, aku menonton televisi di ruang tamu, sementara nenek pergi ke dapur untuk membersihkan piring. Aku mulai mendengar suara aneh. Awalnya seperti desahan, seperti seseorang sedang menarik napas berat di atas loteng. Aku menoleh ke tangga yang menuju loteng, tapi tidak ada siapa-siapa.

“Ah, pasti aku salah dengar,” pikirku.

Tapi suara itu datang lagi, lebih jelas dan lebih dekat. Rasanya seperti langkah kaki tipis yang berjalan dari satu sisi loteng ke sisi lain. Aku berdiri perlahan, mencoba melihat dari bawah tangga, tapi tangga gelap dan tidak terlihat apa-apa.

Aku memberanikan diri naik sedikit ke tangga. Setiap langkah kayu tangga itu berderit, dan seketika suara itu berhenti. Aku menahan napas, tapi tidak ada apa-apa di atas. Loteng hanya dipenuhi kotak-kotak tua dan bau kayu yang lembap. Aku menoleh, dan tiba-tiba lampu loteng menyala sendiri.

Aku kaget. Jantungku berdetak cepat. “Nenek, ada yang aneh di loteng!” teriakku. Tapi nenek tidak muncul. Hanya suara angin yang masuk dari jendela loteng yang sedikit terbuka.

Aku mencoba menenangkan diri. “Mungkin ini cuma angin,” kataku pelan pada diriku sendiri. Tapi ketika aku membungkuk untuk memeriksa salah satu kotak tua, aku melihat sesuatu yang membuat bulu kudukku berdiri.

Di atas kotak, ada buku harian tua. Sampulnya berdebu, dan tampaknya sudah lama tidak dibuka. Aku membuka halaman pertama, dan tulisan tangan itu familiar tapi juga aneh. Itu tulisan nenek, tapi aku tidak pernah melihatnya menulis sesuatu seperti ini:

“Jika kau membaca ini, jangan buka pintu loteng tengah malam. Mereka menunggu.”
Aku terkesiap. Kata-kata itu terdengar seperti peringatan, tapi aku tidak mengerti maksudnya. Aku menutup buku itu dan memutuskan turun lagi. Tapi ketika aku menoleh ke pintu loteng, aku melihat bayangan samar berdiri di sudut ruangan. Bayangan itu tinggi, tanpa wajah, dan hanya menatap ke arahku.

Aku membeku. Tidak ada suara, tidak ada gerakan lain. Hanya bayangan itu. Hatinya seperti dihimpit, dan aku merasa seperti semua energi tubuhku habis. Aku ingin berlari, tapi kakiku terasa berat.

Bayangan itu perlahan menghilang, seperti asap yang tersedot ke dinding. Aku menutup pintu loteng dengan cepat dan menunduk, mencoba menenangkan diri. Ketika aku menoleh lagi, lampu di loteng mati sendiri.

Aku lari ke ruang tamu, dan nenek muncul dari dapur. Aku hampir menangis saat menceritakan semuanya. Nenek mendengarkan dengan wajah tenang, tapi matanya terlihat sedih.

“Ah… kau sudah melihatnya juga,” kata nenek pelan. “Rumah ini memang tua. Banyak yang tidak kau lihat, dan beberapa hal tidak boleh diganggu. Loteng itu… bukan tempat biasa. Ada sejarah lama yang tidak boleh dibuka.”

Aku hanya mengangguk, masih mencoba menenangkan diri. Malam itu, aku tidur di ruang tamu, dekat nenek. Aku tidak berani naik ke loteng lagi.

Beberapa hari setelah itu, aku mencoba membaca buku harian itu lagi, tapi halaman yang berisi peringatan itu hilang. Seolah-olah tidak pernah ada. Aku bertanya kepada nenek, tapi dia hanya tersenyum dan berkata, “Beberapa hal memang lebih baik tetap menjadi misteri.”

Sejak malam itu, aku selalu merasa ada sesuatu yang menatap dari loteng setiap kali aku berada di rumah nenek. Aku tidak tahu apakah itu hantu, roh, atau hanya bayangan akibat lampu tua, tapi aku tidak berani mencari tahu lagi. Aku sadar, ada beberapa hal yang memang tidak bisa dijelaskan dengan logika.

Dan meski aku tidak percaya hantu sebelumnya, sekarang aku yakin satu hal: ada misteri di rumah nenekku yang tidak bisa kulihat dengan mata biasa.

Setiap kali aku mendengar derit kayu di malam hari, aku selalu mengingat peringatan buku harian itu. Dan aku tahu, mungkin suatu saat aku akan mendengar suara itu lagi. Suara dari loteng.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak