Era baru sepak bola tanah air di bawah asuhan John Herdman membawa angin segar sekaligus filosofi yang mendalam. Pelatih asal Kanada ini menekankan bahwa aspek keberagaman di dalam skuad bukan sekadar formalitas, melainkan elemen kunci yang akan mengubah Timnas Indonesia menjadi unit tempur yang solid.
Ia yakin bahwa perpaduan berbagai latar belakang pemain akan menjadi kekuatan utama dalam menghadapi persaingan global yang kian kompetitif.
Saat ini, Herdman sedang disibukkan dengan agenda memantau talenta-talenta berbakat di ajang Super League 2025/2026. Langkah itu diambil sebelum ia bertolak ke Eropa untuk menemui para pemain diaspora. Misinya sangat spesifik dan ambisius: membangun kerangka tim yang tangguh guna mengamankan tiket menuju Piala Dunia 2030.
Dalam memimpin Skuad Garuda, Herdman secara tegas menolak adanya dikotomi atau pemisahan antara pemain lokal dan pemain keturunan. Baginya, label tersebut tidak relevan karena setiap Warga Negara Indonesia (WNI) memiliki hak yang setara untuk mengenakan jersi Merah Putih di lapangan hijau.
"Saya tidak melihat paspor, saya melihat orang, dan saya merasa keragaman adalah kekuatan terbesar kita," ujar Herdman melalui kanal YouTube Timnas Indonesia pada Senin (2/2/2026). Pernyataan ini menegaskan komitmennya untuk membangun tim berdasarkan kualitas dan integritas, bukan asal-usul geografis.
Menurut mantan juru taktik timnas Kanada tersebut, kekuatan kolektif lahir dari proses saling memahami. Perbedaan latar belakang antara pemain yang tumbuh di dalam negeri dengan mereka yang berkarier di luar negeri (diaspora) justru dianggap sebagai kekayaan taktik dan mental yang bisa memperkaya variasi permainan tim.
Herdman berupaya melebur semua perbedaan tersebut menjadi satu kekuatan yang fokus pada tujuan tunggal, yakni mengalahkan lawan. Ia sangat menyadari bahwa keberagaman bisa menjadi tantangan jika terjadi friksi internal, namun dengan manajemen yang tepat, hal ini justru akan menjadi pembeda di atas lapangan.
"Keragaman adalah senjata utama timnas. Nilai mereka, kekuatan mereka, jadi ini tentang kita melawan mereka (tim lawan) bukan melawan kita sendiri," tambah Herdman, merujuk suara.com pada Senin (2/2/2026).
Lebih jauh, ia ingin memastikan bahwa energi para pemain tersalurkan sepenuhnya untuk menghadapi musuh, bukan habis karena konflik di dalam tim.
Strategi Rotasi dan Agenda Padat di Tahun 2026
Memasuki tahun 2026, tantangan yang dihadapi Timnas Indonesia tidaklah ringan. Skuad senior dan usia muda dijadwalkan menghadapi kalender FIFA yang sangat padat, termasuk FIFA Series pada 23-31 Maret di Gelora Bung Karno (GBK) serta berbagai laga uji coba internasional di bulan Juni, September, dan November.
Selain agenda resmi FIFA, Timnas juga harus bersiap menghadapi gelaran regional ASEAN Cup atau Piala AFF yang dijadwalkan pada medio Juli hingga Oktober. Jadwal yang rapat ini menuntut Herdman untuk memiliki basis pemain yang luas dan melakukan manajemen rotasi yang cerdas guna menghindari kelelahan serta risiko cedera.
Situasi semakin menantang karena Timnas harus kehilangan empat pilar penting, yakni Thom Haye, Shayne Pattynama, Asnawi Mangkualam, dan Marselino Ferdinan akibat sanksi FIFA yang dijatuhkan pada November 2025. Kondisi tersebut memaksa Herdman untuk lebih jeli dalam mengintegrasikan talenta muda, termasuk para alumni Piala Dunia U-17 2025.
Herdman secara perlahan mulai menerapkan filosofi permainannya yang mengandalkan formasi 3-4-2-1 dengan skema pressing tinggi. Untuk menyukseskan taktik ini, ia menjalin koordinasi erat dengan PSSI guna mengharmonisasikan program tim nasional dengan kompetisi domestik agar kondisi fisik pemain tetap terjaga.
Dukungan masif dari 280 juta rakyat Indonesia juga menjadi perhatian khusus bagi Herdman. Baginya, antusiasme suporter adalah modal sosial yang luar biasa besar untuk membangkitkan mentalitas tim setelah kegagalan pada kualifikasi sebelumnya.
"Dengan 280 juta orang di belakang kami, kita memiliki peluang sangat besar, namun kami harus merangkulnya secara kolektif," imbuhnya.
Herdman memandang bahwa dukungan rakyat bukan sekadar sorakan di tribun, melainkan bagian integral dari perjalanan menuju prestasi dunia.
Menutup keterangannya, Herdman berjanji akan menggunakan kepemimpinannya untuk menyatukan seluruh potensi yang ada, baik dari segi teknis maupun sosiologis.
Ia menutup, "Kepemimpinan saya akan membantu mereka memilih kekuatan."
Dengan kontrak jangka panjang hingga tahun 2030, John Herdman memiliki waktu yang cukup untuk menanamkan pondasi kuat. Sinergi antara pemain lokal, pemain abroad, dan dukungan publik diharapkan mampu membawa Indonesia naik peringkat dalam ranking FIFA serta mewujudkan mimpi besar tampil di panggung Piala Dunia.