Viral kasus tumbler telah menjadi sorotan dalam beberapa hari terakhir. Kasus ini bermula saat ada salah satu penumpang kereta api mengaku kehilangan tumbler karena tertinggal di gerbong wanita.
Saat melaporkannya, petugas KAI memberi tahu kalau cool bag dan tumbler tersebut telah diamankan petugas. Namun saat si penumpang hendak mengambil kembali barangnya, ternyata tumbler tersebut sudah tidak ada dan hanya menyisakan cool bag-nya saja.
Sontak Anita, nama penumpang tersebut, menghubungi petugas KAI yang bersangkutan. Obrolan daring keduanya lalu beredar di dunia maya dan sempat diduga adanya pemecatan. Meski ternyata tidak sampai dipecat, tapi sikap Anita dan kasus viral ini tentu membuat warganet geram.
Para warganet menilai, tidak seharusnya keteledoran kita membuat kerugian bagi orang lain. Apalagi sampai membuat orang lain kehilangan pekerjaan di zaman yang ekonominya semakin sulit seperti sekarang.
Simpati dan empati pun berdatangan bagi petugas KAI tersebut. Begitu juga dengan cibiran dan kritikan akan sikap Anita dan suaminya yang ikut membela kesalahan istrinya dalam kasus ini.
Kasus viral yang menyebabkan seseorang kehilangan pekerjaan seperti ini tentu bukan yang pertama. Di zaman digital dan media sosial seperti sekarang, apa pun mudah sekali menjadi viral. Hal-hal kecil bahkan dari warga biasa bisa langsung menyebar dan diketahui satu negara, bahkan dunia.
Sehingga kita tentu harus lebih bijak dalam bermedia sosial. Sebelumnya juga ada kasus viral host live TikTok Sometinc yang juga nyaris kehilangan pekerjaan karena sesuatu yang bukan kesalahannya.
Keviralan memang bak pisau bermata dua. Di satu sisi banyak yang tertolong karena kasus yang dialaminya viral dan dikawal warganet. Namun di sisi lain, sesuatu yang viral juga bisa mengancam orang lain, seperti di kasus tumbler ini.
Dulu, mungkin kita tidak akan pernah menyangkan kalau segala gerak-gerik kita akan terekam secara digital. Kemudian bisa mempengaruhi nasib dan pekerjaan. Walau nyatanya gembar-gembor tentang jejak digital bisa mempengaruhi penilaian HRD saat wawancar kerja, nyatanya aspek jejak digital itu kini semakin luas. Bahkan saat kita tidak melakukan kesalahan, keviralan akan sesuatu bisa ikut mengancam.
Namun di sisi lain, kita memang tidak boleh mudah terpancing untuk mengunggah atau berkomentar apa pun di media sosial. Sebelum melakukan sesuatu, coba pikir dengan kepala dingin, apa dampak dari postingan ini? Apakah akan merugikan diri sendiri dan orang lain?
Hidup memang susah, dan hari ini semakin banyak tantangan. Makanya tak heran kalau banyak orang mudah tersulut untuk tidak berpikir panjang. Apalagi buntut dari kejadian ini justru membuat Anita dipecat dari pekerjaannya.
Namun, jangan normalisasi untuk mudah menyalahkan orang lain dan mencari kambing hitam. Apalagi kalau sampai membully.
Media sosial memang kejam. Namun, kita bisa kok tetap beramah-tamah dan memutus rantai bullying cyber jika dimulai dari diri sendiri. Selanjutnya ajaklah orang lain untuk lebih empati agar kasus viral tumbler kerera api ini tidak terjadi lagi di kemudian hari.