facebook

Lebih Memilih Memelihara Anjing Ketimbang Punya Anak, Apakah Termasuk Egois?

Novan Harya Salaka
Lebih Memilih Memelihara Anjing Ketimbang Punya Anak, Apakah Termasuk Egois?
Ilustrasi Memelihara Anjing (Unsplash/Tamas Pap)

Paus Francis, baru-baru ini menyulut reaksi negatif dari pers dan media sosial terkait pernyataan kontroversialnya. Asal usul dari pernyataannya adalah adanya penurunan angka kelahiran di banyak negara Barat yang menurut survey, disebabkan oleh banyaknya keluarga yang memilih untuk tidak punya anak.

Tidak sampai di situ, beberapa riset juga menyatakan bahwa perempuan milenial cenderung memilih punya peliharaan anjing atau kucing daripada punya anak. Kecenderungan seperti ini, menurut Paus Francis, merupakan suatu bentuk tindakan yang egois.

Pernyataan ini disampaikannya dalam sebuah acara di Vatikan, Roma, ketika mendiskusikan soal parenting. Ia menyebut bahwa sikap tidak menginginkan anak adalah suatu bentuk keegoisan. Terkadang, beberapa memiliki seorang anak, namun menggantinya dengan peliharaan kucing dan anjing.

Ini bukan pertama kalinya Paus Francis mengutuk orang yang memilih hewan peliharaan daripada seorang anak. Pada 2014, dalam sebuah wawancara, sang Paus ditanyai apakah ia percaya bahwa masyarakat lebih menghargai hewan peliharaan ketimbang anak manusia. Ia menjawab bahwa ini adalah kenyataan yang merefleksikan degenerasi budaya. Menurutnya, membangun hubungan emosional dengan binatang lebih mudah dan dapat diatur, sementara memiliki anak adalah sesuatu yang kompleks.

Sejarah yang Rumit

Gereja Katolik dan perspektifnya terhadap binatang memiliki jejak historis yang tak akur. Kebangkitan Kristiani mengantarkan pada kepercayaan bahwa binatang seperti anjing tak layak mendapat perlakuan istimewa dan tak akan masuk surga. Ajaran Kristiani tradisional menyebutkan bahwa anjing dan hewan lain tidak memiliki kecerdasan dan kesadaran, sama seperti batu atau tumbuhan. 

Dalam bahasa Latin, kata anima merupakan akar dari animal (bahasa Inggris untuk binatang) yang berarti “jiwa.” Padahal, berdasarkan doktrin religius pada saat itu, setiap makhluk yang memiliki kesadaran juga memiliki jiwa serta mampu merasakan cinta dan oleh karenanya, harus diperlakukan secara manusiawi. Ide bahwa binatang memiliki jiwa tidak bisa diterima oleh gereja Kristen saat itu.

Bertahun-tahun kemudian, pihak gereja mencari pembenaran atas klaimnya dengan mengambil gagasan para filsuf dan ilmuwan saat itu, termasuk Rene Descartes. Descartes mendeskripsikan binatang selayaknya sebuah mesin yang diisi dengan elemen-elemen biologis.

Respons Keras

Terkait dengan pernyataan Paus Francis, media sosial kemudian dibanjiri dengan komentar yang mayoritas mengutuk perspektif sang Paus. Salah satu yang paling banyak diutarakan adalah kenyataan bahwa para pendeta Katolik, biarawati, dan Paus sendiri, yang dengan sengaja mengambil keputusan tidak memiliki anak sangat kontradiktif dengan pernyataan yang dibuatnya.

Kritikan lain menyorot saran sang Paus untuk mengadopsi anak bagi mereka yang tidak sanggup memilikinya. Saran ini dinilai problematis lantaran mayoritas agen penyedia anak-anak adopsi dari gereja Katolik menerapkan larangan bagi keluarga non-tradisional (keluarga LGBT) untuk mengadopsi anak. Oleh karenanya, hewan peliharaan jadi satu-satunya pilihan bagi mereka yang hendak memenuhi kebutuhan psikologisnya.

Dalam Psychology Today, Stanley Coren, seorang profesor psikologi di Universitas British Columbia, menyayangkan sikap sang Paus. Lebih tepatnya, ia menyayangkan asumsi sang Paus bahwasannya cinta itu terbatas kuantitas. Bahwa mencurahkan cinta pada makhluk seperti anjing, dapat mengurangi rasa cinta manusia pada sesamanya.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak