Siapa yang bermimpi untuk berlibur atau bahkan pindah ke luar negeri? Banyak orang yang ingin berlibur ke luar negeri dengan tujuan tertentu, ada yang ingin melihat sisi lain dunia, ada juga yang ingin bekerja di luar negeri.
Orang-orang sering sekali mengira bahwa pergi ke luar negeri adalah suatu pencapaian besar, namun dibaliknya banyak hal yang belum diketahui sebelumnya.
Perbedaan zona waktu, budaya, perilaku, serta lingkungan banyak membuat orang merasakan culture shock saat berada di negara lain. Hal ini tentu saja memerlukan adaptasi serta sikap toleransi yang tinggi karena kata pepatah, dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung.
Kita harus memahami perbedaan yang terjadi terutama dalam segi bahasa yang seringkali membuat kita kesulitan untuk berkomunikasi. Tak jarang sebagian orang memilih untuk mempelajari terlebih dahulu bahasa negara tujuan agar tidak terjadi kesalahpahaman berkomunikasi dengan masyarakat lokal disana.
Selain bahasa, ada 3 hal lain yang bisa membuatmu mengalami culture shock. Mari simak ke-3 nya!
1. Berjalan kaki
Tahukah kamu bahwa ada sebuah survei yang dilakukan oleh platform Focus2move yang mengungkap data bahwa Indonesia memiliki tingkat penjualan kendaraan bermotor tertinggi di Asia Tenggara pada tahun 2017 lalu. Akses pembelian kendaraan di Indonesia yang cukup mudah membuat masyarakat Indonesia memilih untuk memakai kendaraan dibanding berjalan kaki untuk menuju tempat tujuan.
Tak usah jauh-jauh ke benua Amerika, negara di Asia Tenggara saja seperti Malaysia dan Singapura memiliki akses pedestrian yang ramah terhadap pejalan kaki dan integrasi antar angkutan umum yang membuat mereka lebih banyak berjalan kaki dibanding mengendarai kendaraan pribadi.
Banyak orang Indonesia yang mengeluhkan budaya berjalan kaki kemana-mana saat berada di luar negeri karena budaya masyarakat yang tidak membiasakan berjalan kaki untuk menempuh perjalanan.
2. Self Service
Pernahkah kamu melihat tulisan self service saat berada di luar negeri? Ya, berbeda dengan Indonesia, kebanyakan restoran di luar negeri menjalankan usaha dengan sistem self service untuk efisiensi pegawai dan waktu.
Tak jarang, mereka juga mengharuskan para pembeli atau pengunjung untuk mengembalikan piring atau alat makan ke tempat pembersihan sendiri.
Banyak orang Indonesia yang terlalu menyepelekan pekerjaan waiters atau cleaner di sebuah restoran sehingga tidak berusaha membereskan bekas makannya sendiri.
3. Cepat dan efisien
Teknologi yang berkembang di luar negeri juga akan membuatmu culture shock. Kita ambil contoh negara Singapura, beberapa fasilitas umum seperti eskalator memiliki kecepatan gerak yang tinggi karena masyarakatnya yang cenderung bergerak dengan cepat.
Begitu pula dengan kota kota industri di Eropa seperti Berlin atau Paris. Teknologi yang mereka gunakan juga tepat guna sehingga memudahkan semua akses yang digunakan oleh masyarakat.
Tak jarang, perkembangan ini membuat kita bingung dalam memanfaatkannya karena belum terbiasa dengan sebuah kecanggihan.
Tak ada salahnya untuk mengeksplor diri saat berada di luar negeri. Pengalamanmu untuk mencoba hal baru akan mengantarkanmu ke hal baik lainnya. Semangat!