facebook

Strategi Mengelola Keuangan di Perantauan Bagi Milenial

Fitri Noor Hidayah
Strategi Mengelola Keuangan di Perantauan Bagi Milenial
Ilustrasi uang (Shutterstock)

Merantau kini sudah menjadi hal yang lumrah dialami sebagian besar kaum milenial. Mulai ketika lulus SMA/SMK, milenial dihadapkan pada pilihan seperti hendak kuliah di mana atau bekerja di mana.

Sebagian besar pilihan-pilihan tersebut pasti ada minusnya, misalnya lokasi kuliah yang diinginkan atau pekerjaan yang diidamkan tidak berada di dalam kota sehingga mau tidak mau harus merantau pergi dari tanah kelahiran.

Milenial yang biasanya berada di lingkungan keluarga dan rumah yang nyaman karena diurus bersama keluarga terpaksa pindah dan harus mengurus dirinya sendiri mulai dari bangun tidur hingga terlelap di malam hari. Semua serba sendiri dan harus bisa mandiri termasuk mengelola keuangan.

Pada mulanya milenial bisa saja mengalami kesulitan dalam mengelola diri dan keuangan pada awal merantau, misalnya skip sarapan karena jadwal kerja atau kuliah pagi.

Atau sudah merasa tidak membeli banyak barang tapi uang kiriman sudah menipis di pertengahan bulan. Maka dari itu, mari simak beberapa strategi mengelola keuangan bagi para perantau berikut ini.

1. Rutin mencatat uang masuk dan keluar

Coba buat pembukuan sederhana mengenai uang masuk (penerimaan) dan uang keluar (pengeluaran) bulanan secara rutin. Catat pengeluaran yang dilakukan dan amati mana saja pos-pos pengeluaran yang menjadi kebutuhan pokok, kebutuhan tambahan, keinginan, dan keinginan yang tidak terlalu penting.

Beri prioritas utama pada kebutuhan, dan coba kurangi pengeluaran untuk keinginan. Kurangi ya, bukan hilangkan. Kita boleh berhemat tapi jangan lupa membahagiakan diri sendiri dengan sesekali memenuhi keinginan kita. Ingat, sesekali. Jangan sering-sering.

2. Memasak sendiri

Memasak adalah salah satu modal utama bertahan hidup di manapun berada. Tidak perlu memasak yang “wah”, cukup masak sesuatu yang bergizi, mudah dibuat, sekaligus menjadi makanan yang mudah diterima lidah kalian. Selain relatif lebih murah, kita juga bisa mengontrol gizi dan nutrisi dari makanan yang masuk ke tubuh kita.

3. Melirik investasi sesuai budget

Bagi mahasiswa, investasi termudah dan terjangkau yang bisa dilakukan adalah menabung, membeli saham, dan membeli reksadana. Mahasiswa dapat secara rutin menabung di bank konvensional terdaftar yang bonafide. Selain itu, beberapa perusahaan sekuritas sudah mulai sering memasuki kampus-kampus dan menawarkan berbagai pilihan investasi yang terjangkau bagi mahasiswa.

Mahasiswa cukup mendaftar pada perusahaan sekuritas tersebut, kemudian mengikuti petunjuk dari perusahaan untuk memulai membeli saham dan reksadana. Biasanya ada diskon khusus bagi mahasiswa sehingga deposit awal jumlahnya tidak terlalu besar. Pastikan juga perusahaan sekuritas ini sudah terdaftar di otoritas pemerintah kita yaitu OJK (Otoritas Jasa Keuangan).

Pun bagi fresh graduate atau pekerja bisa juga menabung, membeli saham, dan membeli reksadana. Jika modal dirasa sudah banyak dan lebih memilih investasi dalam bentuk asset seperti tanah dan apartemen juga tidak masalah. Pastikan tanah dan apartemen yang hendak dibeli ini free and clear alias terbebas dari gugatan dan masalah hukum lainnya. Bisa juga membeli emas pegadaian atau emas antam.

Keduanya memiliki sertifikat serta keuntungan dan kekurangan masing-masing. Untuk obligasi, kita dapat memperolehnya melalui pembelian seri SUN atau SUKUK yang biasanya diterbitkan oleh pemerintah RI. Investasi ini sangat bermanfaat bagi kita, entah dalam 5 tahun maupun 10 tahun mendatang

4. Lakukan autodebit ke rekening khusus

Deposito biasanya memberi keuntungan berupa bunga atau bagi hasil yang biasanya lebih besar daripada tabungan biasa. Selain itu, deposito akan mencegah kita berperilaku konsumtif dan menghambur-hamburkan uang tabungan karena ketidakmudahannya untuk ditarik.

Beberapa bank sudah menerapkan sistem autodebet dari rekening biasa ke rekening khusus deposito yang akan dipindahbukukan dari rekening biasa ke rekening khusus setiap bulannya.

Mekanisme ini memaksa kita untuk “mengerem” pengeluaran tidak perlu karena secara otomatis sebagian uang masuk akan berpindah ke rekening lain dan sulit untuk ditarik kembali.

5. Membeli barang-barang second, tidak harus baru selagi bagus

Kita tidak harus selalu membeli barang-barang yang baru dari toko atau pabrik terdekat. Bisa juga kita beli second dari teman, mencari di beberapa toko online, maupun di toko khusus barang second. Barang second yang sudah dipakai pengguna lama biasanya dijual dengan harga yang jauh lebih murah dibandingkan dengan harga pembelian awal di toko, apalagi jika ada embel-embel “dijual cepat”. Pastikan juga barang second yang dibeli adalah worthed alias kualitas masih bagus dan harga sesuai.

6. Batasi diri dalam penggunaan kartu kredit dan debit saat membayar

Merantau di kota besar biasanya dimudahkan dengan sistem pembayaran menggunakan kartu debit dan kartu kredit. Secara psikologis, penggunaan kedua kartu ini membuat kita seolah-olah tidak mengeluarkan uang dari dompet sehingga “tidak terasa” ternyata pengeluaran kita sudah banyak sekali di awal bulan.

Batasi penggunaan kedua kartu ini dan cobalah untuk menggunakan cash untuk bertransaksi, kecuali penggunaan kartu debit atau kredit dirasa lebih menguntungkan karena adanya promo. Penggunaan cash membuat diri menjadi sadar bahwa ternyata sudah banyak uang yang dikeluarkan.

7. Cari penghasilan tambahan jika memungkinkan

Jika merasa punya banyak waktu luang, alih-alih dihabiskan untuk rebahan, coba gunakan untuk melakukan hal-hal produktif yang menghasilkan pundi-pundi rupiah.

Berbagai alternative bisa kita lakukan, misalnya dengan “nyambi” jadi driver, menjadi guru les privat, atau online shop. Sesuaikan dengan jadwal wajib, jangan sampai jadwal utama kita, misalnya kuliah atau bekerja terhalang karena pekerjaan sampingan ini.

Semoga bermanfaat dan tetap semangat!

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak