facebook

Mengulik Moral Kemanusiaan dalam Film Raya and The Last Dragon

Mohammad Azharudin
Mengulik Moral Kemanusiaan dalam Film Raya and The Last Dragon
Raya and The Last Dragon (imdb)

Seusai mengakuisisi Pixar, Disney Princess menjadi lebih heterogen. Raya merupakan salah satu Disney Princess yang muncul selepas momentum akuisisi tersebut. melalui film “Raya and The Last Dragon”, Disney tak lagi menarasikan perempuan sebagai sosok yang lemah dan sangat membutuhkan sandaran seorang pangeran. Dalam film tersebut, sang tokoh utama (Raya) justru digambarkan sebagai sosok yang lihai bertarung, terbiasa dengan kesendirian, bahkan memiliki peran sentral dalam menyelamatkan dunia (wilayahnya). Hal ini tampaknya merupakan upaya mengubah persepsi penonton bahwa perempuan tak selamanya identik dengan sosok yang lemah.

Beberapa pengisi suara dalam film “Raya and The Last Dragon” ternyata merupakan aktor dan aktris MCU. Hal ini bisa kita lihat dari nama-nama seperti Benedict Wong, Gemma Chan, juga Awkwafina. Film ini mengambil latar cerita Asia Tenggara. Kita bisa melihatnya dari narasi flashback dalam pembuka film yang menggunakan ilustrasi mirip wayang kulit. Apa yang tersaji tersebut rasanya bisa dibaca sebagai upaya Disney untuk menjangkau penonton yang lebih luas. Selain itu, mungkin Disney juga berusaha mencegah kejenuhan penonton akibat cerita, karakter, dan budaya yang disajikan hanya itu-itu saja.

Film “Raya and The Last Dragon” bercerita tentang sebuah wilayah bernama Kumandra yang mulanya memiliki gambaran kehidupan layaknya surga. Namun, semua itu berubah sejak negara api wabah Druun menyerang. Kehadiran Druun membuat banyak manusia berubah menjadi batu. Para naga pun turun tangan untuk mengatasi wabah Druun. Namun, banyak di antara mereka yang lantas juga menjadi batu. Naga-naga yang tersisa kemudian menyatukan sihirnya dalam sebuah permata (yang menyerupai bola) dan akhirnya berhasil menghilangkan wabah Druun. Upaya itu juga berhasil mengembalikan manusia yang telah menjadi batu, tapi sayangnya, hal tersebut tak berlaku bagi para naga yang menjadi batu.

Di kemudian hari, permata naga tadi lantas diperebutkan oleh banyak orang di Kumandra. Akibat hal tersebut, Kumandra pun terpecah menjadi 5 wilayah yang meluputi Fang (taring), Heart (hati), Spint (tulang), Tail (ekor), dan Talon (cakar). Saat Raya telah dewasa, ia dan teman-temannya yang merupakan perwakilan dari masing-masing wilayah, juga dibantu oleh seekor naga yang bernama Sisudatu, akhirnya berhasil menyatukan Kumandra seperti sedia kala. Selain menampilkan budaya Asia Tenggara sebagai tema utama, film “Raya and The Last Dragon” juga menyajikan narasi yang sarat akan moral kemanusiaan. Setidaknya, terdapat dua moral kemanusiaan yang menjadi sajian khusus dalam film ini.

1. Urgensi Mengikis Ego dalam Kehidupan Bersama

Kita tahu bahwa penyebab Kumandra terpecah adalah ambisi tiap orang untuk memiliki permata naga. Masing-masing dari mereka enggan mengalah. Bahkan dalam film termaktub dituturkan dengan gamblang bahwa tamak merupakan salah satu sifat dasar manusia. Ketamakan membuat manusia tak pernah puas meski telah merengkuh banyak hal. Dalam beberapa kasus, ketamakan menjadikan orang menghalalkan segala cara demi apa yang diinginkannya. Tentu hal tersebut tak akan membawa hal baik. Dalam film “Raya and The Last Dragon” pun demikian. Ketamakan manusia akhirnya mengundang wabah Druun kembali muncul dan membuat banyak orang menjadi batu.

Narasi di atas saya rasa sangat relevan dengan realita kehidupan, khususnya lagi di negara kita yang memang penuh keberagaman. Saat kita cenderung mengedepankan ketamakan dan ego masing-masing, konflik jelas akan bermunculan di mana-mana. Alih-alih hidup dalam ketenangan, kita malah akan terkungkung dalam perdebatan dan permusuhan. Supaya hal semacam itu tak terjadi, kita mesti berupaya untuk mengikis ego. Kita mesti ingat bahwa kadang-kadang kita memerlukan bantuan orang lain, misalnya saat kita meninggal dunia. Jadi, jangan sampai kita menjadi pribadi yang semena-mena dan sama sekali tak menaruh perhatian pada orang lain. Bisa-bisa kita wafat dalam kesendirian dan kesepian nanti. Masing-masing kita tentu tak menginginkan hal tersebut.

Oh, iya! Tentang menaruh perhatian pada orang lain, itu bukan bermakna kita senantiasa mengintervensi masalah orang lain, lho ya! Bukan juga bermakna kita selalu memantau gerak-gerik orang lain. Tidak, bukan seperti itu! Justru hal demikian akan membuat orang lain membenci kita. Di sisi lain, kita hanya mendapat lelah. Menaruh perhatian pada orang lain di sini maksudnya kita bersedia membantu saat mereka butuh bantuan, bukan malah berpura-pura menutup mata dan telinga.

Yah, begitulah! Faktanya hidup bersama merupakan sesuatu yang kompleks. Kita tidak bisa membuat regulasi sepihak tanpa persetujuan orang lain. Sebuah regulasi dalam kehidupan bersama harus disepakati oleh semua pihak. Hidup bersama mungkin terkesan kompleks sebab terdapat banyak aturan yang kadang tak selaras dengan ego diri. Namun, bukankah ada banyak hal dalam kehidupan yang hanya bisa kita lakukan bersama orang lain?Jadi, mari kita coba kurangi kadar tamak dan ego!.

2. Harga Mahal Sebuah Kepecayaan

Saat kecil, Raya tidak begitu percaya dengan orang-orang di luar wilayah Heart (hati). Namun, sang ayah mengajarkan bahwa Kumandra dapat tercipta kembali apabila masing-masing wilayah saling mempercayai. Raya kemudian mengambil langkah pertama dari nasihat ayahnya tersebut. Orang yang pertama dipercaya oleh Raya adalah Namaari, seorang anak seumuran dengannya dari wilayah Fang (taring). Namaari pun demikian, ia juga percaya pada Raya. Bahkan, Namaari memberikan kalung Sisu miliknya pada Raya. Namun, ketika Raya menunjukkan permata naga pada Namaari, teman barunya tersebut justru berkhianat.

Hal tersebut lantas membuat keadaan kian kacau. Perebutan permata naga kembali terjadi, Druun muncul lagi dan sempat membuat ayah Raya menjadi batu. Selepas kejadian itu, Raya mengalami krisis kepercayaan. Ia menjadi pribadi yang sangat sulit percaya pada orang-orang baru. Alasannya jelas. Terakhir kali ia percaya pada orang baru, ayahnya berakhir menjadi batu. Raya tentu tak mau tragedi yang sama terulang kembali. Merujuk pada apa yang terjadi pada Raya, kita pun tahu bahwa sebuah kepercayaan itu  sangat mahal harganya. Pertanyaannya, seberapa penting sih kepercayaan orang lain bagi hidup kita?

Kita ambil contoh dalam pemilu. Apabila kita mencalonkan diri dalam pemilu sementara masyarakat tak percaya, jelas jumlah suara yang kita peroleh akan anjlok. Serangan fajar pun tak akan berarti apa-apa. Sebab, dalam kasus ini saya rasa masyarakat memiliki prinsip, “Ambil isi amplopnya. Pilih yang bisa dipercaya”. Lha apa gunanya juga memilih orang yang tak dapat dipercaya? Bisa-bisa malah berujung bikin rugi masyarakat dan negara. Jadi, bila kita diberi kepercayaan, jangan sampai berkhianat. Kendati orang yang kita khianati mungkin suatu saat akan memaafkan kita, tapi tetap saja rasa percaya mereka telah sirna.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak