'Coffe At Midnight' Stand Atlantic: Pertahankan Cinta di Ambang Perpisahan

Hernawan | Rosetiara Sahara
'Coffe At Midnight' Stand Atlantic: Pertahankan Cinta di Ambang Perpisahan
Stand Atlantic (instagram/standatlantic)

Stand Atlantic adalah band Pop Punk asal Sydney, Australia yang terdiri dari Bonnie Fraser (vokalis/gitaris ritme), David Potter (gitaris), Mikki Rich (bassis) serta Jonno Panichi (drummer).

Stand Atlantic dikenal dengan gaya musik yang energik, melodi catchy, dan lirik yang sangat relatable. Mereka berhasil menciptakan suara yang segar di genre pop punk dengan sentuhan modern yang memikat.

Sejak berdirinya pada tahun 2012, mereka telah merilis beberapa EP dan album yang menerima sambutan positif di kalangan penggemar.

Album debut mereka, Skinny Dipping (2018), album kedua Pink Elephant (2020), album ketiga F.E.A.R (2022), serta album keempat Was Here (2024) yang menunjukkan evolusi musik mereka yang khas dengan perpaduan melodi catchy dan suara gitar yang kuat.

Salah satu lagu mereka yang menarik menurut saya, adalah 'Coffe At Midnight' yang merupakan bagian EP Sidewinder. Lagu ini menonjolkan kombinasi vokal kuat Bonnie Fraser dengan aransemen musik yang energik.

Dirilis dari Songtell pada Sabtu (5/10/2024) 'Coffe At Midnight' mengisahkan tentang seseorang yang berusaha untuk mempertahankan cinta dan hubungannya dengan sang kekasih, yang tengah berada di ambang perpisahan.

Lagu ini mencerminkan keinginan untuk tidak mengucapkan selamat tinggal kepada kekasihnya, melainkan menginginkan pembicaraan yang mendalam di tengah malam sambil menikmati kopi, agar pasangannya tersebut berubah pikiran untuk tidak meninggalkannya.

Hal tersebut terisirat jelas dalam bait pertama lagu yang berbunyi "I don't wanna say goodbye. Can we just say goodnight? Tell me how to change your mind. Over coffee at midnight" (Aku tidak ingin mengucapkan selamat tinggal. Bisakah kita hanya mengucapkan selamat malam? Beritahu aku bagaimana cara mengubah pikiranmu. Sembari ngopi di tengah malam)

Pada penggalan lirik "Sink into my trust again, keep me uncomposed.Teach me how to love again. Thinking of yourself '. Cause patience is poison just watching you come and go I guess there's no use in hanging around" (Jatuhkan lagi ke dalam kepercayaanku. Biarkan aku tetap tenang. Ajari aku untuk mencintai lagi. Memikirkan dirimu sendiri. Karena kesabaran itu racun hanya dengan melihatmu datang dan pergi. Kurasa tidak ada gunanya menunggu di sini) Karakter dalam lagu ini merasa frustrasi dengan hubungan yang tidak jelas. Dia ingin kembali dipercaya dan diajari cara mencintai lagi, tapi sadar bahwa kekasihnya terlalu fokus pada dirinya sendiri.

Kesabarannya sudah habis karena terus menerus melihat kekasihnya datang dan pergi tanpa kejelasan. Pada akhirnya, dia mulai merasa tak ada gunanya lagi untuk terus bertahan di situasi seperti ini.

Lebih lanjut penggalan lirik "Words you're spitting out. Something I can live without. At least you can be happy now" (Kata-kata yang kau ucapkan adalah sesuatu yang bisa kutinggalkan. Setidaknya kau bisa bahagia sekarang) Dalam penggalan tersebut, dia merasa kata-kata yang diucapkan oleh kekasihnya tak lagi berarti dan bukan sesuatu yang dia butuhkan dalam hidupnya.

Namun, meski ia merasa frustasi dengan hubungan yang ia jalani, dia tetap memilik keinginan untuk mempertahankan hubungan tersebut. Hal itu digambarkan dalam bagain chorus yang dinyanyikan secara berulang - ulang, yang berbunyi "I don't wanna say goodbye. Can we just say goodnight? Tell me how to change your mind. Over coffee at midnight If you're gonna say goodbye. Would it be alright? If only I could change your mind. Over coffee at midnight"  (Aku tidak ingin mengucapkan selamat tinggal. Bisakah kita hanya mengucapkan selamat malam? Beritahu aku bagaimana cara mengubah pikiranmu. Sembari ngopi tengah malam. Jika kau akan mengucapkan selamat tinggal. Apakah itu baik-baik saja? Seandainya aku bisa mengubah pikiranmu. Sembari ngopi tengah malam)

Penggalan lirik "If you feel that lonely now. Tell me that you don't I didn't put my feet to concrete just for you to call me home.Not sorry if you miss me now. It's not my fault that we hit the ground If you're no damn good for my mental health. There's no use in hanging around" (Jika kamu merasa kesepian sekarang, katakan bahwa kamu tidak, aku tidak menginjakkan kaki di sini hanya agar kamu memanggilku pulang. Tidak merasa menyesal jika kamu merindukanku sekarang. Bukan salahku jika kita jatuh. Jika kamu tidak baik untuk kesehatan mentalku. Tidak ada gunanya aku bertahan)

Ia meminta kekasihnya untuk jujur tentang perasaannya, terutama jika merasa kesepian. Dia menyiratkan bahwa dia tidak akan berkompromi dengan kebahagiaannya hanya untuk mempertahankan hubungan ini.

Saat dia mengatakan, "I didn't put my feet to concrete just for you to call me home," hal itu menunjukkan bahwa dia tidak ingin disakiti lebih jauh. Selain itu, dia menyadari bahwa jika hubungan ini berdampak buruk pada kesehatan mentalnya, mungkin sudah saatnya untuk pergi. Ini menekankan pentingnya mencintai diri sendiri dan tidak terjebak dalam hubungan yang tidak sehat.

Penggalan lirik "So I'll keep pretending like everything's fine. Like we're saying goodnight and not our goodbyes. Now it's too late, too late I don't wanna walk away. But I'm not just gonna sit and wait"

Pada bagian ini, dia menyampaikan rasa frustrasi dan kesedihan yang mendalam. Dia berusaha untuk berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja, meskipun mereka sedang diambang perpisahan.

Namun, dia juga menyadari bahwa sudah terlambat untuk memperbaiki hubungan ini. Meskipun tak ingin pergi, dia menegaskan bahwa tidak ada gunanya menunggu tanpa kepastian.

Pada intinya, lagu 'Coffee At Midnight' menggambarkan dilema emosional yang dialami seseorang dalam sebuah hubungan yang tidak sehat. Meskipun ada rasa frustrasi dan keinginan untuk menyelamatkan hubungan, karakter dalam lagu ini menyadari pentingnya kesehatan mental dan kebahagiaan diri sendiri.

Dengan kombinasi melodi pop yang catchy dengan riff gitar bertempo cepat, khas dari genre pop punk modern, ditambah dengan temanya yang relatable, lagu ini sukses menciptakan koneksi yang kuat dengan pendengarnya, menjadikannya refleksi yang mengena tentang cinta dan hubungan.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak