Film Die My Love (2025) merupakan adaptasi dari novel Ariana Harwicz yang kontroversial, disutradarai oleh Lynne Ramsay, sineas Skotlandia yang dikenal dengan gaya visual intens seperti dalam We Need to Talk About Kevin.
Dibintangi Jennifer Lawrence sebagai protagonis utama, seorang ibu rumah tangga di pedesaan yang bergulat dengan depresi pascapersalinan, serta Robert Pattinson sebagai suaminya yang pasif-agresif.
Skenario ditulis Ramsay bersama Enda Walsh, memadukan elemen psikologis dengan nuansa horor domestik. Durasi 119 menit, film ini dirilis oleh MUBI di AS pada 7 November 2025, dan menjadi film Ramsay dengan pendapatan tertinggi hingga Desember 2025.
Sinopsis: Kegilaan Seorang Ibu di Pedesaan Terpencil

Plot berpusat pada Grace (Lawrence), wanita yang tinggal di daerah terpencil, didorong ke ambang kegilaan oleh rutinitas pernikahan dan keibuan. K
isahnya menggambarkan perjuangan internal melawan depresi postpartum, di mana realitas dan halusinasi bercampur. Ramsay menghindari narasi linier, memilih fragmen-fragmen frenetik yang mencerminkan pikiran rusak Grace.
Elemen romansa antara Grace dan suaminya (Pattinson) terasa endearing sekaligus horrifying, absurd tapi autentik, menantang penonton untuk mempertanyakan dinamika hubungan toksik.
Tema utama adalah beban perempuan dalam masyarakat patriarkal, khususnya bahaya kesehatan mental pasca-melahirkan, meski dikritik karena kurang mendalami aspek medis.
Review Film Die My Love

Jennifer Lawrence tampil luar biasa, menyajikan performa feral dan raw yang menangkap esensi penderitaan. Ekspresinya penuh intensitas, dari ledakan amarah hingga keheningan hancur, membuat penonton merasakan kegilaan karakternya.
Ini mungkin peran terbaiknya sejak Mother!, di mana ia mengeksplorasi kegelapan maternal dengan keberanian. Robert Pattinson, sebagai pasangan yang clueless, memberikan kontras sempurna—nuansa pasif yang membuat frustrasi penonton.
Chemistry mereka autentik, meski hubungan digambarkan sebagai siklus destruktif. Pendukung seperti LaKeith Stanfield sebagai psikiater menambah kedalaman, meski perannya terbatas.
Secara visual, film ini memukau. Sinematografi oleh Seamus McGarvey menghadirkan palet warna dingin, dengan malam bercahaya keperakan yang gelap tapi tak sepenuhnya hitam—menciptakan suasana unsettling tanpa keindahan romantis.
Ramsay menggunakan teknik mannered, seperti close-up ekstrem dan editing cepat, untuk menggambarkan kekacauan mental.
Sound design juga brilian, dengan suara bayi menangis dan angin pedesaan yang memperkuat isolasi. Namun, gaya ini terlalu stylistik, membuat film sulit terhubung secara emosional kepadaku penonton.
Musik oleh Jonny Greenwood (Radiohead) menambah lapisan disturbing, dengan skor minimalis yang membangun ketegangan.
Kelebihan film terletak pada kejujuran potret depresi. Ramsay berhasil mengungkap pengalaman umum tapi jarang dibahas: beban perempuan dalam rumah tangga.
Ini seperti bitch-slap bagi narasi romansa ideal di film lain, mendorong penonton muda menolak bullshit tentang relasi. Potret postpartum terasa autentik, meski manik, menyoroti penderitaan perempuan yang sering diabaikan. Namun, kekurangannya sendiri muncul dari narasi yang terlalu kecil dari kehidupan nyata—kurang eksplorasi medis membuatnya seperti versi membosankan depresi yang hanya ada di film.
Aku menyebut ini sebagai disservice terhadap topik kesehatan mental, karena fokus pada drama daripada solusi. Selain itu, pacing frenetik bisa melelahkan, dan akhir ambigu mungkin frustrasikan penonton yang mencari resolusi.
Secara keseluruhan, Die My Love adalah film disturbing brilliance, meski tak sempurna. Skor Rotten Tomatoes 78%, dengan konsensus bahwa ia frenzied tapi mannered.
Cocok bagi penggemar sinema arthouse yang menyukai eksplorasi psikologis, tapi mungkin terlalu intens untuk penonton kasual. Ramsay membuktikan dirinya sebagai sutradara berani, dan Lawrence-Pattinson duo layak Oscar buzz. Kalau kamu suka film seperti The Babadook atau Hereditary, ini wajib tonton.
Di Indonesia, film tayang mulai pada bulan November 2025 lalu, melalui Cinépolis Cinemas dan jaringan lain, setelah diputar di Jakarta World Cinema 2025. Sejak rilis, ia mendapat sambutan hangat, meski kontroversial karena tema gelapnya.
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS