Kehilangan merupakan hal yang lekat dengan kehidupan manusia. Namun, cara seseorang menerima kehilangan akan menjadi jalan untuk menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga. Dalam novel Sendiri, Tere Liye mengisahkan perjalanan hidup seorang manusia yang tidak mampu menerima kehilangan pasangannya dan berusaha mencari segala cara untuk mendapatkannya kembali, bahkan dengan mencari mesin waktu sekalipun.
Cerita bermula ketika seorang wanita bernama Susi meninggal dunia pada usia 70 tahun pada 2050. Ia meninggal saat tidur dengan tenang. Namun, keanehan demi keanehan muncul dan disaksikan para pelayat, mulai dari iring-iringan burung bangau, rusa-rusa yang turun dari gunung menuju rumah duka, hingga kehadiran kucing oren, burung beo, dan kura-kura peliharaan Susi yang telah berusia lebih dari 50 tahun. Hampir seluruh isi kota, murid-murid SMA, teman semasa kuliah, serta sanak famili merasakan kehilangan sosok Ibu Susi.
Namun, yang paling terluka sebenarnya bukanlah mereka semua, melainkan Bambang, suami Susi. Pascakepergian Susi, Bambang terpuruk dan tidak mampu melanjutkan hidup. Hari-harinya hanya dihabiskan dengan menatap bebukitan dari kamar. Hingga suatu hari, mimpi-mimpi aneh mendatanginya berkali-kali—mimpi tentang Susi yang jatuh ke sumur hitam yang gelap dan dalam. Anak-anak Bambang pun mulai khawatir karena Bambang menunjukkan gejala-gejala stres.
Bambang menyadari bahwa semua itu bukanlah imajinasi biasa, melainkan petunjuk yang telah Susi siapkan. Ia kemudian menuju suatu tempat untuk mencari pintu menuju mesin waktu yang akan membawanya kembali ke masa saat Susi masih hidup. Tempat itu akhirnya ditemukan, yaitu jembatan merah, tempat mereka pertama kali bertemu. Teka-teki pun terpecahkan. Bambang terseret masuk ke dalam lubang bercahaya dan terdampar di suatu tempat yang dipenuhi ular sebesar betis, nyamuk-nyamuk sekepalan tangan, serta tangan burung bangau yang bisa berbicara. Petualangan besar pun dimulai.
Bambang bertemu dengan penguasa hutan, seorang bocah perempuan berusia sembilan tahun bernama Puteri Rosa, yang memiliki kekuatan untuk mengendalikan daun, akar, dan air layaknya dunia fantasi. Takdir berkata lain. Alih-alih menemukan mesin waktu, Bambang justru harus mengikuti pertarungan demi pertarungan melawan pasukan kegelapan. Berpacu dengan waktu, sang penguasa hutan memutuskan membantu Bambang menemukan pintu mesin waktu yang telah disegel, sembari menyelamatkan Hutan Utama dari invasi pasukan kegelapan.
Pertarungan demi pertarungan dilewati dengan penuh kehilangan. Tuan Bangau gugur dalam pertempuran awal, disusul Tuan Boe dalam permainan catur asli. Permainan semakin epik ketika pintu keluar tak kunjung ditemukan, hingga akhirnya disadari bahwa permainan tersebut memang didesain tak akan selesai sebelum para pemain memahami nasihat lama: sesungguhnya kita telah berkali-kali menemukan jalan keluar selama kita mau kehilangan.
Permainan terakhir dipimpin oleh Panglima Kat, yang menjadi tantangan paling sulit bagi Bambang maupun Puteri Rosa karena menyentuh kehilangan masa kanak-kanak mereka. Permainannya sederhana, yaitu permainan rumah-rumahan, tetapi mereka dipaksa memainkannya hingga mati, sampai tubuh mengering. Kabar baiknya, Panglima Kur—yang terakhir menemani mereka—menyadari kepalsuan permainan tersebut dan mengorbankan dirinya untuk menghentikannya. Dari sini, Bambang menyadari bahwa demi ambisinya mendapatkan kembali Susi, banyak orang baik harus kehilangan orang-orang terbaik mereka.
Permainan pun selesai dan pintu mesin waktu akhirnya ditemukan, bersamaan dengan masuknya Raja Kegelapan yang menyerang Hutan Utama. Bambang diliputi keraguan untuk melanjutkan perjalanan, padahal tujuannya telah berada tepat di depan mata. Pada saat yang sama, Puteri Rosa sedang mati-matian melawan Raja Kegelapan. Bambang memutuskan untuk membantu Puteri Rosa. Ia memiliki kelebihan, yaitu tidak dapat dilukai oleh senjata apa pun karena dilindungi Kesatria Cahaya, kecuali oleh sentuhan maut Raja Kegelapan.
Setelah lima detik terkena sentuhan maut tersebut, Bambang kembali ke usia 70 tahun, dan muncullah empat Kesatria Cahaya yang menghanguskan kekuatan Raja Kegelapan. Pada bagian akhir, rahasia tentang Puteri Rosa pun terungkap melalui detail-detail kecil yang disisipkan di awal, tengah, dan akhir cerita. Penemuan rahasia tersebut terasa sungguh melegakan. Bambang pun pulang dengan kesadaran baru dan penerimaan atas kehilangan yang telah dialaminya.
Kelebihan dan Kekurangan Novel
Dari segi gaya penceritaan, visual digambarkan dengan sangat baik, seperti bukti-bukti, Ngarai Seribu Pelangi, naga, hutan-hutan, dan danau sejauh mata memandang. Gambaran suara pun disajikan secara hidup melalui onomatope seperti ctar, bum, buk, splash, ptak, dan sebagainya. Meskipun bergenre fantasi, novel ini layak dibaca oleh pembaca dewasa yang sedang menghadapi fase kehilangan, karena menawarkan perspektif penerimaan yang humanis.
Kekurangan novel ini hanya satu, yaitu banyaknya spam peringatan keras dari Tere Liye untuk tidak membeli ataupun menyebarkan buku bajakan. Bagi sebagian pembaca yang membeli buku asli, hal ini mungkin terasa sedikit mengganggu. Namun, hal tersebut tidak mengurangi keindahan nilai dan pesan dari buku ini.
Identitas Buku
- Judul: Sendiri
- Penulis: Tere Liye
- Penerbit: Sabak Grip
- Tahun Terbit: 2024
- Tebal: 320 halaman
- ISBN: 9786238882281