Cinta Kita Telah Usai

Sekar Anindyah Lamase | e. kusuma .n
Cinta Kita Telah Usai
ilustrasi perpisahan (Pexels/Vlada Fadeeva)

Aku tak pernah benar-benar siap kehilanganmu meski tanda-tanda itu sudah datang padaku, jauh-jauh hari

***

Aku pikir aku sudah siap kehilanganmu. Aku pikir perpisahan adalah sesuatu yang bisa dilatih, seperti menahan napas di bawah air, semakin sering dilakukan, semakin kuat paru-paru menahannya. Ternyata aku salah. Kehilangan tidak pernah patuh pada logika latihan. Ia datang seperti ombak yang tiba-tiba meninggi, menghantam tanpa aba-aba, menyeret apa pun yang masih tersisa dari harapan.

Malam itu, aku duduk sendirian di kamar, mematikan lampu, membiarkan gelap menjadi satu-satunya saksi. Ponselku tergeletak di samping bantal, bisu, seperti tahu bahwa satu pesan darimu saja bisa menghancurkan semua usaha untuk baik-baik saja. Aku menatap langit-langit, menghitung detik, mencoba memahami bagaimana seseorang bisa begitu hadir dalam hidupku, lalu tiba-tiba harus menjadi masa lalu.

Aku teringat caramu tertawa, tidak pernah sepenuhnya tertahan, selalu jujur. Aku teringat caramu memanggil namaku, seolah itu adalah rumah yang selalu ingin kamu datangi. Semua kenangan itu berputar tanpa izin, seperti film yang menolak berhenti meski layar sudah lama kosong.

Aku bertanya pada diri sendiri, 'apakah cinta bisa benar-benar berakhir jika tidak pernah benar-benar ingin usai?'

Hari pernikahanmu tiba tanpa undangan untukku. Dan mungkin memang seharusnya begitu. Tidak semua luka perlu disaksikan langsung untuk terasa nyata. Namun anehnya, aku tahu. Sejak pagi, dadaku terasa sesak, seolah ada sesuatu yang sedang diambil dariku. Perlahan, tapi pasti.

Aku membayangkanmu berdiri di pelaminan, mengenakan pakaian terbaikmu, tersenyum kepada seseorang yang bukan aku. Aku membayangkan tanganmu menggenggam tangan lain, mengucap janji yang dulu diam-diam kita rangkai dalam percakapan tengah malam. Setiap bayangan itu menusuk, bukan dengan keras, melainkan dengan ketepatan yang kejam.

Aku menangis tanpa suara. Tangisku bukan ledakan, melainkan hujan yang turun diam-diam, membasahi seluruh isi dadaku. Aku tidak menangisi pernikahanmu. Aku menangisi semua kemungkinan yang mati sebelum sempat dilahirkan.

Siang itu, aku keluar rumah, berjalan tanpa tujuan. Kota ini jadi terasa asing, padahal aku tahu setiap jengkal sudutnya. Semua orang terlihat sibuk dengan hidup mereka sendiri, tertawa, bercakap, mencintai, seolah tidak pernah ada dunia yang baru saja runtuh di dalam diriku.

Aku berhenti di sebuah taman kecil. Duduk di bangku kayu yang catnya mengelupas. Angin berembus pelan, membawa aroma tanah dan rumput basah. Di sana, aku menyadari satu hal yang menyakitkan, dunia tidak pernah berhenti hanya karena satu cinta berakhir.D an mungkin, itulah yang paling menyedihkan.

Aku ingin marah pada semesta. Ingin bertanya mengapa ia mempertemukan dua hati yang saling memilih, hanya untuk kemudian memisahkannya dengan alasan yang tidak pernah kami sepakati. Tapi tidak ada jawaban. Tidak pernah ada.

Malamnya, tanpa sengaja, aku menemukan pesan terakhirmu. Pesan yang dulu kubaca sambil tertawa, sekarang terasa seperti surat wasiat dari cinta yang sudah mati.

“Kalau suatu hari kita tidak bersama, aku ingin kamu tahu, kamu adalah cinta paling jujur yang pernah aku punya.”

Aku membaca kalimat itu berulang kali, sampai maknanya hancur, sampai huruf-hurufnya tidak lagi terasa nyata. Aku ingin membalas, ingin mengatakan banyak hal. Bahwa aku masih mencintaimu, bahwa aku belum benar-benar melepaskan, bahwa sebagian diriku akan selalu menunggumu. Tapi aku tidak mengirim apa pun.

Karena cinta, kupelajari, tidak selalu harus diperjuangkan sampai akhir. Kadang, cinta adalah keberanian untuk tidak mengganggu kebahagiaan yang tidak lagi melibatkan kita.

Aku mulai belajar hidup tanpamu. Tidak langsung, dan pastinya tidak mudah buatku. Ada hari-hari ketika aku merasa kuat, dan ada malam-malam ketika namamu kembali menjelma doa yang tidak pernah terkabul. Aku belajar menerima bahwa beberapa kehilangan tidak akan pernah terasa ringan, hanya bisa dibiasakan.

Waktu berjalan. Luka berubah bentuk. Tidak lagi berdarah, tapi masih terasa saat tersentuh. Aku tidak lagi mencari-cari bayanganmu di keramaian. Aku tidak lagi berharap semesta berbaik hati mengembalikanmu. Tapi aku juga tidak memaksa diriku untuk melupakan.

Karena melupakanmu sepenuhnya berarti mengkhianati bagian dari diriku yang pernah hidup paling jujur saat bersamamu.

Kini, ketika aku mencintai lagi, atau setidaknya mencoba, aku membawa sisa-sisa kita dalam diam. Bukan sebagai beban, melainkan pengingat bahwa aku pernah mencintai seseorang dengan seluruh keberanianku, meski akhirnya kalah oleh keadaan.

Jika suatu hari takdir mempertemukan kita lagi, aku tidak tahu apakah aku akan tersenyum atau menangis. Mungkin keduanya. Tapi satu hal yang pasti, aku tidak akan menyesal pernah mencintaimu. Karena meski cinta ini dipaksa usai, ia tidak pernah sia-sia.

Ia mengajariku bahwa tidak semua cerita harus berakhir bersama untuk menjadi berarti. Bahwa ada cinta yang tugasnya bukan untuk dimiliki, melainkan untuk mengubah kita menjadi manusia yang lebih dalam, lebih lembut, dan lebih berani menerima kehilangan.

Dan jika semesta mendengarku malam ini, aku hanya ingin mengatakan satu hal, terima kasih telah mempertemukanku denganmu, meski akhirnya harus dengan cara yang paling menyakitkan.

Aku melepaskanmu sekarang. Bukan karena aku berhenti mencintai, tapi karena aku cukup mencintai untuk tahu ada perpisahan yang tidak boleh dilawan.

Dan di sanalah aku berdiri, di antara kenangan dan masa depan, membawa luka yang tidak lagi kupeluk, tapi juga tidak aku kutuk.

***

Cinta kita telah usai.

Namun jejaknya akan tinggal

selama aku masih bernapas,

dan selama hatiku masih mampu mengingat.

CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak