Veda Ega Pratama atau lebih dikenal Veda Pratama resmi masuk babak baru dalam karier balapnya. Pembalap muda Indonesia kelahiran 2008 ini dipastikan debut di kelas Moto3 musim 2026 bersama Honda Team Asia. Sebuah pencapaian besar yang menegaskan statusnya sebagai salah satu talenta paling menjanjikan dari Asia Tenggara saat ini.
Veda akan menjadi rookie di musim tersebut, menggunakan perlengkapan balap Arai dan Alpinestars, serta mendapat dukungan besar sebagai Red Bull Athlete sebuah sinyal kuat bahwa ia tidak diproyeksikan sebagai pembalap “coba-coba”.
Veda memang bukan nama baru di jalur pembinaan pembalap dunia. Ia tampil impresif di Asia Talent Cup, bahkan mencatatkan kemenangan lebih dari satu kali, yang kemudian membawanya ke Red Bull Rookies Cup, kompetisi yang dikenal sebagai “pabrik” pembalap MotoGP. Sebagian besar rider papan atas MotoGP hari ini pernah melewati jalur ini, mulai dari Marc Márquez, Jorge Martín, hingga Pedro Acosta.
Keputusan menaikkan Veda ke Moto3 2026 juga terasa masuk akal secara timing. Secara usia, ia memang sempat dianggap “terlalu muda” untuk langsung ke Moto3. Karena itu, Red Bull Rookies Cup menjadi jembatan ideal mulai dari kompetisi keras, motor identik, dan fokus pada skill murni. Di sinilah Veda menunjukkan bahwa ia bukan sekadar cepat, tetapi konsisten dan matang secara balap.
Hasil pre-season Moto3 yang ia jalani pun disebut-sebut cukup menjanjikan. Adaptasinya tergolong cepat, race pace terlihat stabil, dan mentalnya tidak tampak ciut meski harus berbagi lintasan dengan pembalap yang lebih berpengalaman. Ini penting, karena Moto3 bukan hanya soal kecepatan, tetapi ketahanan mental, posisi, dan kecerdasan membaca situasi balap.
Dari sisi tim, Honda Team Asia adalah lingkungan yang relatif ideal untuk rookie Asia. Tim ini memang didesain sebagai jalur pengembangan, bukan sekadar tim pengisi grid. Banyak pembalap Asia sebelumnya tumbuh di sini, meski tak semuanya berhasil naik kelas. Perbedaannya, Veda datang dengan modal prestasi dan ekosistem sponsor yang sangat kuat.
Pemain Muda Potensial Indonesia

Dukungan Red Bull, Alpinestars, dan Arai bukan sponsor sembarangan. Ini menunjukkan bahwa secara finansial dan struktural, Veda relatif aman. Masalah klasik yang sering membuat karier pembalap Indonesia “surut” di tengah jalan. Dengan sponsor sebesar ini, fokus Veda seharusnya bisa penuh pada performa, bukan sekadar bertahan hidup.
Lalu pertanyaan besarnya, apakah Veda punya peluang naik ke Moto2, bahkan MotoGP? Jawabannya mungkin, dan realistis namun dengan catatan khusus.
Secara jalur, Veda sudah berada di trek yang benar. Moto3 ke Moto2 lalu MotoGP adalah jalur standar. Masuk Red Bull Rookies Cup saja sudah menyaring talenta tingkat dunia. Debut Moto3 dengan tim yang tepat dan dukungan besar adalah fondasi kuat.
Namun, MotoGP bukan hanya soal bakat. Ia menuntut konsistensi jangka panjang, kemampuan berkembang tiap musim, serta kecerdasan memilih timing naik kelas. Banyak pembalap cepat yang gagal karena naik terlalu cepat atau stagnan di Moto3. Veda masih sangat muda—ini justru keuntungannya. Ia punya waktu untuk belajar, jatuh, dan bangkit tanpa tekanan usia.
Jika Veda mampu:
- Konsisten top 10 atau podium di Moto3.
- Menunjukkan perkembangan racecraft, bukan hanya lap time.
- Menjaga fokus dan disiplin di luar lintasan.
Maka peluang naik ke Moto2 terbuka lebar dalam 2–3 musim. MotoGP? Itu level yang lebih brutal. Tapi dengan jalur Red Bull, prestasi solid, dan dukungan finansial yang stabil, Veda Ega Pratama adalah salah satu pembalap Indonesia paling realistis untuk bermimpi sejauh itu.
Singkatnya, potensinya nyata, jalurnya benar, sponsornya kuat. Sekarang tinggal satu hal yaitu konsistensi dan kesabaran. Dan untuk pertama kalinya dalam waktu lama, publik balap Indonesia punya alasan untuk benar-benar berharap.