CERPEN: Kapal Karam yang Belajar Berlayar

Hayuning Ratri Hapsari | Sherly Azizah
CERPEN: Kapal Karam yang Belajar Berlayar
Kapal Karam yang Belajar Berlayar (Nano Banana/Gemini AI)

Nova menatap layar laptopnya yang retak, jarinya membeku di atas keyboard. "Skripsi ini seperti monster yang tak pernah puas," gumamnya dalam hati, sementara angin malam menyusup melalui jendela rumah tua mereka yang bocor.

Di ruang tamu yang sempit, suara batuk Ibu Elara bergema seperti gema badai yang tak kunjung reda. "Nova, tolong ambilkan air panas," seru Elara dengan suara serak, tapi Nova tahu itu bukan sekadar permintaan—itu sinyal darurat. Keluarga ini seperti kapal karam yang saling bertopang, tapi malam ini, ombaknya terlalu ganas.

"Bu, obatnya habis lagi?" tanya Nova sambil bangun, matahari terbenam di balik atap seng yang berkarat.

Elara, wanita 60 tahun yang tubuhnya seperti pohon kering tapi semangatnya masih membara, menggeleng lemah. "Nggak apa-apa, Nak. Besok aja. Zephyrine bilang dia kirim uang minggu depan." Nova menghela napas.

Zephyrine, kakak sulungnya yang kini hidup mewah di kota besar, dengan dua anak laki-laki, Kai dan Jax, yang foto-fotonya selalu banjiri Instagram. "Tajir melintir, tapi kirimannya kayak tetes hujan di musim kemarau," pikir Nova, tapi dia tak berani ucapkan.

Tiba-tiba, pintu depan terbuka dengan kasar. Thorne, kakak laki-lakinya yang berusia 24, masuk sambil membanting tas laptop.

"Sialan, kuliah ini bikin gue gila! Dosen bilang gue hampir kena DO kalau nggak lulus semester ini. Padahal gue udah kerja di IT, ngoding sampe mata bengkak!" geram Thorne, wajahnya merah padam seperti kode error yang tak terselesaikan.

Nova memandangnya, hati teriris. Thorne, mahasiswa angkatan tua yang terjebak di jurusan teknik, selalu bilang dia "hampir" sukses, tapi realitanya, gajinya dari freelance coding cuma cukup buat bayar kos-kosan.

"Lo diem aja, Va? Lo, kan, semester 7, skripsian sambil jadi asdos. Pasti enak, dapet duit tambahan dari dosen," sindir Thorne, nada suaranya seperti pisau tumpul yang menggores.

Nova menelan ludah. Ya, dia bekerja sebagai asisten dosen, tapi honornya cuma recehan—cukup buat beli kuota internet, bukan obat ibu. "Gue nggak diem, Kak. Gue cuma... capek. Kita semua capek," balas Nova pelan, suaranya seperti angin sepoi yang hampir padam. Dia selalu begitu—si bungsu yang lemah, yang lebih suka diam daripada bertarung, takut jadi beban di keluarga yang sudah rapuh ini.

Malam itu, konflik meledak seperti api yang tersulut. Telepon berdering—Liora, kakak kedua berusia 29, yang belum menikah dan sibuk dengan usaha daycare sekaligus bimbel sempoa miliknya.

"Nova, gue denger Ibu sakit lagi. Zephyrine nggak bisa kirim uang bulan ini, katanya bisnis suaminya lagi goyah. Gue sendiri lagi defisit, anak-anak daycare pada mundur gara-gara pandemi sisaan. Lo bisa pinjem duit dari dosen lo?" suara Liora di ujung sana terdengar tegang, seperti senar gitar yang hampir putus.

Nova merasa dunia berputar. "Pinjem? Kak, gue cuma asdos, bukan bank! Dan skripsi gue lagi mentok, dosen gue marah-marah tadi." Air mata Nova mengalir diam-diam.

Keluarga ini, dari ekonomi rendah yang tak pernah lepas dari jerat hutang, sekarang seperti pusaran yang menariknya ke dasar. Elara mendengar dari kamar, bangun dengan susah payah. "Sudah, jangan ribut. Kita ini keluarga, harus saling bantu. Nova, kamu yang paling muda, tapi kamu pintar. Cari jalan, Nak."

Kata-kata itu seperti cambuk. Nova merasa lemah, tapi sesuatu di dalamnya mulai berdenyut. Malam itu, dia tak tidur. Di kamar sempit yang dia bagi dengan Thorne, Nova membuka laptop lagi. Bukan untuk skripsi, tapi untuk mencari peluang.

"Kenapa gue nggak bikin app pendidikan online? Thorne kan ahli IT, Liora punya pengalaman bimbel," gumamnya. Ide itu muncul seperti bintang jatuh di langit gelap—modern, inovatif, tapi penuh risiko.

Keesokan harinya, Nova mendekati Thorne di meja makan yang reyot.

"Kak Thorn, gue punya ide gila. Kita bikin startup app buat bimbel online, gabungin skill lo di coding sama pengalaman Kak Liora. Gue bisa handle konten dari pengalaman asdos gue." Thorne tertawa sinis. "Lo gila? Kita miskin, Va. Investor mana yang mau liat kita? Lo kan selalu mundur kalau ada masalah."

Dialog itu menyakitkan, seperti jarum yang menusuk. "Gue nggak mundur lagi! Ibu sakit, Kak Zeph nggak bisa diandelin selamanya. Kita harus mandiri!" balas Nova, suaranya naik oktav, untuk pertama kalinya dia tak gentar.

Liora datang sore itu, membawa makanan sisa dari daycare. "Nova, ide lo bagus, tapi gue sibuk. Usaha gue lagi goyah, anak-anak sempoa pada drop out." Nova tak menyerah. "Kak, bayangin kalau app ini jadi. Kita bisa integrasikan daycare virtual, sempoa interaktif. Gue akan pitch ke dosen gue, minta bantuan network."

Elara, yang mendengar dari kursi goyangnya, tersenyum lemah. "Itu baru anak Ibu. Jangan takut gagal, Nak. Keluarga ini pernah jatuh lebih dalam, tapi kita bangkit karena satu: kebersamaan."

Tapi ketegangan memuncak saat pitch pertama. Nova, dengan skripsi yang masih mentok, mempresentasikan ide di depan dosennya—seorang profesor tech-savvy.

"Miss Nova, ide bagus, tapi kamu terlihat ragu. Investor butuh keyakinan," kata dosen itu. Nova pulang dengan hati hancur, tapi malam itu, Thorne datang. "Gue bantu, Va. Gue liat lo berubah. Gue coding prototype-nya malam ini."

"Lo tambahin fitur AI buat sempoa, Kak?"

"Sip, dan lo handle UI-nya, biar modern kayak app TikTok."

Bulan berikutnya, badai datang. Investor pertama menolak: "Tim kalian terlalu 'keluarga', kurang profesional." Nova hampir menyerah, tapi Elara memanggil rapat keluarga.

"Zephyrine, kamu yang kaya, investasi dong. Liora, bagi pengalamanmu. Thorne, jangan cuma ngoding, percaya diri. Nova, kamu pemimpinnya sekarang." Zephyrine, via video call, terkejut. "Aku kirim seed money, tapi kalian harus buktiin."

"Kak, gue nggak mau jadi beban lagi," kata Nova. "Kamu nggak pernah beban, Va. Kamu cahaya kami," balas Zephyrine.

Dengan prototype siap, Nova pitch lagi—kali ini di kompetisi startup kampus. Jantungnya berdegup seperti drum perang. Saat presentasi, suaranya mantap: "App kami, Ignis Edu, bukan sekadar bisnis. Ini tentang keluarga yang bangkit dari kemiskinan, tentang pendidikan yang accessible untuk semua."

Penonton bertepuk tangan. Mereka menang seed funding! Tapi, tiba-tiba sakit yang diderita Elara kambuh dan semakin parah. Nova harus pilih: lanjut startup atau rawat ibu. "Gue nggak bisa tinggalin Ibu," kata Nova pada Thorne. "Kita lakuin bareng. Ini ujian kita," jawab Thorne.

Dalam seminggu yang tegang, Nova menyulap skripsi, asdos, dan startup. Dia jadi kuat—bukan lemah lagi. App launching, user membanjir. Liora integrasikan daycare-nya, Thorne lulus kuliah berkat proyek ini, Zephyrine bangga. Elara sembuh, mataharinya bersinar lagi.

"Kamu ubah kami semua, Nak," kata Elara, memeluk Nova.

Nova kini berdiri tegak, seperti bintang yang meledak dari kegelapan. Keluarga ini tak lagi rapuh; mereka merupakan pusaran kekuatan. Mereka percaya bahwa ketangguhan lahir dari kerentanan, keluarga adalah fondasi, dan kekuatan sejati datang saat kita berani melangkah dari bayang-bayang.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak