Penyulut Api Tanpa Wajah

Bimo Aria Fundrika | Sherly Azizah
Penyulut Api Tanpa Wajah
Penyulut Api Tanpa Wajah (Nano Banana/Gemini AI)

"Tiga menit lagi menuju jam tayang utama. Pastikan narasi 'Korupsi Dana Desa' sudah masuk ke semua grup WhatsApp bapak-bapak. Gunakan video yang sudah kita potong bagian penjelasannya. Biarkan mereka dulu marah, urusan benar atau salah itu belakangan."

Bento memberikan instruksi dengan suara dingin melalui headset. Di hadapannya, tiga puluh monitor menyala terang, menampilkan ribuan akun bot yang siap bergerak dalam satu komando.

Bento bukan tentara, tapi ia adalah panglima perang di dunia siber. Ia adalah direktur sebuah "Agensi Reputasi" yang bekerja untuk siapa pun yang mampu membayar miliaran rupiah.

Target malam ini adalah seorang Kepala Desa teladan bernama Pak Yono, yang baru saja dianugerahi penghargaan integritas tingkat nasional. Namun, bagi klien Bento, seorang pengusaha properti yang ingin memanfaatkan lahan desa tersebut, Pak Yono adalah penghalang yang harus dilenyapkan secara sosial.

"Bos, target mulai melakukan klarifikasi lewat akun Instagram pribadinya," lapor salah satu operator muda di pojok ruangan.

Bento memutar. "Bagus. Itu yang kita tunggu. Serang kolom komentarnya dengan narasi 'Pencitraan' dan 'Main Korban'. Kirim lima ribu komentar dalam sepuluh menit. Buat seolah-olah seluruh rakyat membencinya. Jangan biarkan dia bernapas."

Bento menyaksikan dengan puas bagaimana algoritma ciptaannya mulai bekerja. Tagar #YonoTukangTipu naik menjadi trending topic nomor satu dalam hitungan menit.

Di layar monitor, ia melihat video Pak Yono yang sedang menangis mencoba menjelaskan fakta yang sebenarnya, namun komentar-komentar keji merendahkan suaranya.

Dunia digital adalah rimba, dan Bento adalah pemangsanya.

Namun, ketenangan Bento terusik ketika sebuah pesan masuk ke komputer pribadinya melalui jalur terenkripsi yang seharusnya tidak diketahui siapa pun. Isinya hanya sebuah tautan video pendek.

Bento mengklik video tersebut. Jantungnya seperti berhenti berdetak.

Video itu menampilkan ibunya yang tinggal di desa terpencil, sedang dikepung oleh warga yang marah. Warga-warga itu membawa ponsel, berteriak-teriak menggunakan kata-kata tajam seperti yang Bento tulis di kantornya.

Mereka menuduh ibunya menyimpan uang korupsi milik Pak Yono, sebuah narasi palsu yang Bento buat hanya untuk "bumbu" tambahan agar berita itu lebih pedas.

"Bos, ada apa?" tanya stafnya melihat wajah Bento yang pucat pasi.

Bento tidak menjawab. Dia gemetar. Ia menyadari satu hal yang mengerikan: ia telah menciptakan monster yang kini berputar memakan dirinya sendiri. Ia lupa bahwa kebencian tidak memiliki mata. Begitu dibiarkan, ia akan menyebar seperti wabah, menyerang siapa saja yang berada di jalurnya.

Tiba-tiba, lampu kantor padam total.

Suara langkah kaki berat terdengar dari lorong apartemen tempat mereka beroperasi. Pintu besi depan didobrak paksa. Bento mengira itu adalah polisi, namun ketika sekelompok pria berseragam hitam masuk, ia menyadari mereka bukan dari kepolisian.

Mereka adalah "Tim Pembersih" milik kliennya sendiri.

“Klien tidak suka orang yang punya keterikatan emosional dengan target,” ujar seorang pria bertubuh kekar yang kini menodongkan pistol ke arah Bento.

"Kami tahu ibumu adalah tetangga Pak Yono. Dan kami tahu kau mencoba menghapus data serangannya sepuluh detik yang lalu."

Bento mengangkat tangan. "Aku bisa memperbaiki! Aku bisa membuat narasi baru!"

"Sudah terlambat. Kebohongan ini sudah cukup besar untuk menghancurkan desa itu. Sekarang, kami hanya perlu satu tumbal untuk menyalahkan jika nanti ada yang menyelidiki siber. Seorang buzzer yang 'depresi' dan melakukan tindakan kriminal sendirian. Itu narasi yang bagus untuk menutup kasus ini, bukan?"

Pria itu menarik pelatuknya—namun hanya terdengar suara klik yang kosong.

Bento tidak menunggu lama. Ia menendang meja monitornya hingga jatuh menimpa kaki pria itu dan berlari menuju balkon.

Di lantai 15, angin Jakarta menderu kencang. Ia tahu tidak ada jalan keluar melalui pintu depan.

Sambil terengah-engah, Gibran mengeluarkan ponsel rahasia dari saku celana dalamnya. Ia melakukan satu hal yang paling ditakuti oleh setiap buzzer: ia mengunggah wajahnya sendiri, lokasinya saat ini, dan seluruh daftar transaksi bank milik kliennya ke sebuah server publik yang terhubung dengan ribuan portal berita.

"Jika aku mati malam ini, seluruh negeri akan tahu siapa yang membayar untuk setiap tagar kebencian selama lima tahun terakhir!" teriak Bento ke arah para pria berseragam itu.

Salah satu pria itu tertawa sinis.

"Kau pikir rakyat peduli pada kebenaran? Kami punya sepuluh agensi lain seperti milikmu yang siap membungkus kematianmu sebagai 'Hoaks' dalam waktu lima menit setelah kau jatuh dari sini. Tidak akan ada yang mempercayaimu, Bento. Kau sendiri yang menghancurkan nilai kebenaran di negeri ini, ingat?"

Gibran menatap layar ponselnya. Progres unggahan data mencapai 99 persen. 

Tiba-tiba, ia mendengar suara ibunya di seberang telepon yang masih tersambung. Ibunya menangis, namun bukan karena takut pada warga.

"Bento, Nak... pulanglah. Jangan beri makan mereka dengan kebencian lagi. Ibu tidak butuh uangmu jika itu berasal dari air mata orang lain..."

Suara tembakan kedua meletus. Kali ini bukan peluru kosong. Bahu Bento tersentak. Ponselnya terlepas dari genggamannya, melayang jatuh ke kegelapan kota Jakarta.

Bento tersungkur di tepi balkon. Ia melihat ponselnya jatuh, namun ia tidak tahu apakah angka 99 persen itu sempat berubah menjadi 100% atau justru hancur sebelum data terkirim.

Para pria berbaju hitam itu mendekat, berdiri di atas tubuh Bento yang bersimbah darah. Salah satu dari mereka mengambil ponsel milik Bento yang lain di meja dan mulai mengetik sesuatu.

"Mari kita buat cuitan terakhirmu, Bento," bisik pria itu. "Sesuatu yang puitis tentang penyesalan seorang pendosa, sebelum kau... terpeleset."

Bento mencoba bicara, namun mulutnya penuh darah. Mata menatap ke langit malam yang penuh dengan kabut polusi.

Di perbincangan, ia melihat layar LED raksasa di sebuah gedung tinggi yang masih menampilkan tagar #YonoTukangTipu. Ia mati oleh pedang yang ia asah sendiri.

Namun, tepat saat pria itu hendak mendorong Bento keluar balkon, suara sirene puluhan polisi menggema dari bawah gedung. Bukan hanya polisi, tapi ribuan warga yang entah bagaimana mendapatkan koordinat lokasi kantor rahasia tersebut melalui sebuah pesan massal.

Bento tersenyum tipis di sisa kesadarannya. Ingat, ia tidak hanya mengunggah data ke server berita.

Ia telah memprogram sebuah "Pesan Terakhir" yang akan dikirim ke setiap nomor WhatsApp di database yang ia miliki—database yang berisi jutaan rakyat Indonesia.

"Aku adalah orang yang membohongi kalian. Inilah lokasiku. Datanglah sebelum mereka melenyapkanku."

Pria berseragam hitam itu panik. "Sial! Cepat pergi lewat atap!"

Bento ditinggalkan sendirian di balkon, terkapar lemas. Ia tidak tahu apakah ia akan selamat atau tidak. Ia melihat cahaya lampu polisi merah-biru memantul di kaca jendela. Di bawah sana, massa mulai merangsek masuk ke lobi gedung.

Lalu, sebuah notifikasi muncul di jam tangan pintar milik Bento yang masih melingkar di pergelangan tangannya. Sebuah pesan singkat dari nomor yang tak dikenal.

"Data diterima. Tapi permainan baru saja dimulai. Kau bukan satu-satunya yang punya kunci server ini."

Siapa pengirim pesan misterius itu? Apakah ia sekutu yang ingin membantu Bento, atau faksi buzzer lain yang ingin mengambil alih tahtanya?

Dan apa yang akan terjadi ketika rakyat menyadari bahwa selama ini emosi mereka hanyalah mainan di layar monitor seorang pemuda?

Dalam dunia yang penuh manipulasi, kebenaran adalah barang mewah yang paling mudah dihancurkan.

Namun, sepandai-pandainya seseorang menyulut api fitnah, ia harus siap jika angin berbalik dan membawa api itu ke rumahnya sendiri. Kita seringkali menjadi budak dari narasi yang kita ciptakan sendiri.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak