Bertemu Sosok Berbusana Merah di Malam Tahun Baru

Lintang Siltya Utami | Tika Maya Sari
Bertemu Sosok Berbusana Merah di Malam Tahun Baru
Ilustrasi malam gelap (Pixabay/Pexels)

"Lho, bukannya perempuan berkerudung?”

“Matamu nggak lihat? Atasnya nyeprok (mekar). Kain atasnya nyeprok!”

“Mas, aku merinding!”

Malam tahun baru harusnya identik dengan kembang api, hari libur, dan berbagai event meriah. Dan ya memang, ada satu event pagelaran cek sound horeg di desa B, Jawa Timur. Namun, gimana kalau sepulang event, justru bertemu sosok berbusana merah yang menyeramkan? Cerita ini kudengar dari ibuku, dari penuturan adikku sepulang menonton sound horeg. Begini kronologinya.

“Iya, aku mau nonton cek sound sama Angga, dan adiknya,” kata Enrico.

“Ndek mana?” tanya ibuku.

“Ndek desa B, Buk.”

Aku yang sedang ngemil kacang rebus pun tertarik. “Malam tahun baru kok cek sound toh?”

Enrico meraih segenggam kacang rebus. “Yo nggak tahu, Mbak. Aku saja dapat info dari Angga.”

Setelah kami menghabiskan setengah baskom kacang rebus, deru motor bebek Angga terdengar. Enrico pun bergegas membuka pintu hanya untuk mendapati rekannya itu cengengesan.

“Co, aku tak beli bensin dulu yo. Nanti tak ampiri ke sini lagi.”

“Oke siap.”

Angga kemudian melesat pergi, sedangkan Enrico bergabung dengan kami untuk menghabiskan stok kacang rebus. Beberapa saat kemudian, Angga kembali dengan adiknya yaitu, Nanda, dan Enrico segera meluncur bersama mereka.

Sebetulnya setelah itu aku sendiri ketiduran meski masih jam delapan malam. Capek dan lelah. Seharian bekerja dan menikmati kemacetan jalan atas euforia tahun baru. Tahu-tahu, aku terbangun karena mendengar suara kembang api. Lalu saat menengok jam dinding, oh pukul dua belas lebih seperempat.

Tanggal di hape otomatis menjadi 1 Januari 2026.

Bertepatan dengan kepulangan Enrico yang membawa batagor untuk dinikmati serumah. Setelahnya, aku kembali tidur karena besok ada shift kerja. Nah, barulah keesokan harinya saat rutinitas ngopi pagi dengan ibu, kejadian itu diceritakan.

“Mbak, adikmu semalam ketemu demit sepulang nonton sound horeg.”

“Demit apa, Buk? Wujudnya apa?” tanyaku kepo.

Ibu kemudian menceritakan kronologi Enrico bertemu sosok itu.

***

“Nggak apa-apa toh nggak pakai helm? Bukannya lewat jalan raya?” tanya Enrico sebelum pergi.

Angga mengibaskan tangannya santai. “Lho kita kan lewat jalan-jalan kampung. Aman pokoknya.”

“Yowes.”

Angga yang berboncengan dengan Nanda, dan Enrico pun melesat dengan motor bebek masing-masing. Masih jam delapan malam. Masih ramai akan hiruk pikuk warga di malam tahun baru.

Mereka melewati jalan-jalan kampung yang memang menghubungkan beberapa kecamatan. Namanya anak laki-laki, mana kenal takut. Pun saat harus melewati lapangan desa T, yang memiliki pohon beringin, dan reputasi horor, gas saja. Hingga sampailah mereka di tanah pagelaran cek sound horeg yang diterangi lampu aneka warna.

Beberapa saat kemudian, Enrico mengajak kawannya untuk pulang, meski cek sound belum sepenuhnya selesai.

“Pulang, yok! Dah mau kelar itu,” ajak Enrico.

Angga dan Nanda setuju. Mereka pun kompak pulang begitu jam setengah dua belas, setelah membeli batagor.

Menjelang tengah malam, kesunyian mulai terasa. Hawa dingin berhasil ditepis oleh jaket dan hoodie ketiga anak laki-laki tadi. Pun saat harus melintasi lapangan desa T yang diapit luasnya tanah persawahan, nggak ada rasa takut. Namun, jarak 25 meter setelah sukses melewati lapangan, mereka saling bicara dengan napas hampir habis. Hampir nggak bersuara. Namun, gas tetap ditarik agar segera sampai rumah.

“Co, kamu lihat nggak tadi?!” tanya Angga. Suaranya terdengar panik.

Enrico mencoba cengengesan, berusaha tetap tenang. “Perempuan berkerudung, kan? Bergamis merah?”

“Pocong, Co!”

Enrico setengah menganga. Apa dia tadi salah lihat ya? “Lho, bukannya perempuan berkerudung?”

“Matamu nggak lihat?! Atasnya nyeprok (mekar), kain atasnya nyeprok!” Pekik Angga panik sekaligus emosi.

“Mas, aku merinding,” imbuh Nanda. Bocah laki-laki itu tampak ketakutan.

“Tadi dari jauh kayaknya nggak ada apa-apa,” kata Enrico lagi. “Kok tiba-tiba di situ?”

Angga melirik dari spion, kemudian memekik. “Co, udah hilang. Nggak ada lagi!!”

Angga dan Enrico lantas melajukan kecepatan motor. Rasa takut masih menggerayangi mereka. Aneh. Tiba-tiba ada, tiba-tiba menghilang. Hingga mereka kemudian berpisah di pertigaan kampung, dan menimbulkan segenap tanda tanya di kepala Enrico.

“Yang merah tadi, perempuan berkerudung atau balon terbang ya?”

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak