Warisan Wedhus Gembel

M. Reza Sulaiman | Sherly Azizah
Warisan Wedhus Gembel
Warisan Wedhus Gembel (Nano Banana/Gemini AI)

Di lereng Gunung Merapi yang hijau, tetapi keras, di sebuah kampung kumuh bernama Dusun Kaliurang, hidup Mbok Siti dengan keempat anaknya. Keluarga ini seperti daun talas yang licin, selalu tergelincir dalam kemiskinan. Mbok Siti, seorang janda tua dengan tangan kapalan karena mengolah sawah orang lain, berjuang menghidupi anak-anaknya.

Anak sulungnya, Mbak Ratih, adalah perempuan tangguh berusia 25 tahun yang bekerja sebagai buruh cuci di rumah orang kaya. Mbak Dewi, anak kedua yang pintar, tetapi sinis, berusia 22 tahun dan bekerja menjahit pakaian lusuh untuk dijual di pasar. Mas Joko, anak ketiga laki-laki berusia 20 tahun, merupakan petualang ceroboh yang sering bolos kerja di tambang batu; ia malah suka mengembara ke hutan mencari kayu bakar.

Dan yang bungsu adalah Adik Sinta, gadis berusia 16 tahun yang rapuh seperti ranting kering. Tubuhnya lemah karena sering kelaparan, dan ia lebih suka menyendiri, menggambar mimpi-mimpi aneh di tanah liat dengan jari-jarinya yang kurus.

Sinta selalu merasa seperti beban. "Aku tidak bisa apa-apa," gumamnya setiap malam saat keluarga tidur di atas tikar usang. Mbok Siti sering memarahinya karena Sinta tidak bisa membantu seperti kakak-kakaknya. "Kamu seperti hantu, Sinta. Tidak berguna!" kata Mbok Siti suatu hari, membuat air mata Sinta jatuh diam-diam.

Namun, di balik kelemahannya, Sinta memiliki imajinasi liar. Ia sering bermimpi tentang leluhur Jawa yang punya kekuatan gaib, seperti yang diceritakan Mbok Siti saat kecil—cerita tentang bayang-bayang yang hidup dan melindungi keluarga.

Suatu petang saat hujan deras dan keluarga kelaparan karena panen gagal, Sinta dikirim ke hutan terlarang di belakang dusun untuk mencari ubi liar. "Jangan lama-lama, hutan itu angker!" pesan Mbok Siti. Namun, Sinta tersesat. Di tengah pepohonan tinggi, ia menemukan sebuah gua kecil yang tersembunyi di balik akar beringin raksasa. Di dalamnya, ada sebuah batu prasasti kuno berukir aksara Jawa. Saat Sinta menyentuhnya, batu itu bergetar.

Sebuah bayangan hitam muncul, berbentuk seperti siluet manusia tua. "Keturunan Wedhus Gembel," bisik bayangan itu, menggunakan julukan lama keluarga mereka yang berarti "kambing hitam" karena nasib sial mereka. "Kau punya darahku. Bangkitkan bayang-bayang leluhur, tetapi ingat, ikatan darah adalah kuncinya."

Sinta pingsan. Saat sadar, ia merasa aneh. Di rumah, ketika Mbak Ratih memarahinya karena pulang tangan kosong, Sinta tanpa sengaja membayangkan kakaknya sebagai prajurit kuat. Tiba-tiba, bayangan Mbak Ratih muncul dari dinding—sebuah sosok gelap yang mengangkat batu berat di halaman dengan mudah. Keluarga terkejut. "Apa ini, Sinta?" tanya Mas Joko dengan mata melebar.

Sinta menyadari kekuatannya: ia bisa memanggil "bayang-bayang" keluarganya sebagai sekutu gaib. Bayangan Mbak Ratih tangguh seperti prajurit, bayangan Mbak Dewi pintar menyelesaikan teka-teki, bayangan Mas Joko lincah seperti monyet hutan, dan bahkan bayangan Mbok Siti yang bijak memberikan nasihat gaib.

Awalnya, kekuatan ini membuat Sinta semakin lemah. Setiap pemanggilan menyedot tenaganya, membuatnya sakit parah. "Ini kutukan, bukan berkah," keluh Sinta. Keluarga mulai curiga. Mbak Dewi menuduh Sinta gila, sementara Mas Joko diam-diam membantu Sinta berlatih di hutan. "Kau harus kuat, Dik. Ini bisa mengubah nasib kita," katanya.

Namun, alur cerita tidak semudah itu. Dusun mereka terancam oleh seorang dukun jahat bernama Ki Gendruwo yang ingin merebut tanah dusun untuk ritual gelapnya. Ki Gendruwo, dengan roh-roh hantu pengikutnya, mulai menyerang warga; rumah-rumah terbakar dan anak-anak hilang. Sinta mencoba melawan. Pertama kali, ia memanggil bayangan Mbak Ratih untuk melindungi Mbok Siti dari serangan hantu. Bayangan itu berhasil, tetapi Sinta jatuh koma selama sehari penuh.

Keluarga bersatu untuk merawatnya, dan inilah kejutan pertama: saat Sinta sadar, ia mendengar Mbok Siti berbisik pada Mbak Dewi, "Ini darah ayahnya. Aku sembunyikan karena takut." Ternyata, ayah mereka adalah keturunan penyihir Jawa yang diusir desa karena kekuatannya. Ikatan keluarga yang rapuh karena rahasia ini membuat bayangan Sinta lemah.

Konflik memuncak saat Ki Gendruwo menyerang rumah mereka secara langsung. Mas Joko terluka parah oleh roh-roh itu. Sinta, dalam keputusasaan, memanggil semua bayangan sekaligus. Namun, alih-alih menang dengan mudah, bayangan-bayangan itu berbalik menyerang keluarga sendiri.

Kekuatan Sinta ternyata memiliki sisi gelap—jika ikatan emosional keluarga retak, bayangan bisa lepas kendali dan menjadi musuh. Mbak Ratih, yang diam-diam iri pada Sinta, menyebabkan bayangannya memberontak. "Aku benci kamu, Sinta! Kenapa kau yang mendapat kekuatan?" jerit Mbak Ratih.

Dalam kekacauan itu, Sinta harus memilih: melepaskan kekuatan atau memperbaiki ikatan. Ia memeluk Mbak Ratih, meminta maaf atas kelemahannya dulu. Air mata mereka menyatukan bayangan kembali. Dengan kekuatan penuh, Sinta memimpin bayangan-bayangan melawan Ki Gendruwo.

Bayangan Mas Joko melompat lincah menghindari serangan, bayangan Mbak Dewi memecahkan mantra dukun, dan bayangan Mbok Siti menyegel roh-roh itu ke dalam batu prasasti. Ki Gendruwo kalah, lenyap dalam asap hitam.

Dusun pun selamat. Keluarga Sinta kini hidup makmur—bayangan mereka membantu menanam padi yang subur, membuat mereka tidak lagi miskin. Sinta berubah dari gadis lemah menjadi pahlawan dusun yang dihormati, tetapi tetap rendah hati. "Ini bukan milikku saja," katanya pada keluarga.

Namun, saat malam tiba, ketika Sinta menyentuh batu prasasti lagi, bayangan leluhur muncul kembali. "Ini baru awal, Keturunan. Ada musuh lebih besar di balik gunung—rahasia ayahmu yang sebenarnya." Sinta tersentak. Apa rahasia itu? Apakah ayah mereka masih hidup? Keluarga menatapnya dengan cemas, tetapi cerita belum berakhir. Bayang-bayang mulai bergerak sendiri, seolah memanggil sesuatu dari kegelapan.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak