alexametrics

Filosofi Semar Menurut Dr. Fahruddin Faiz

Mohammad Azharudin
Filosofi Semar Menurut Dr. Fahruddin Faiz
Ilustrasi Semar.(gambar-wayang.blogspot.com)

Tokoh Semar dalam pewayangan adalah salah satu tokoh yang cukup nyentrik dan menarik perhatian. Hampir semua orang pasti tahu seperti apa fisik Semar. Ada sebuah cerita unik yang menyangkut asal-usul fisik Semar seperti yang sering kita lihat saat ini.

Saat itu, 3 bersaudara yang terdiri dari Togog, Semar, dan Batara Guru mengadakan kompetisi untuk menentukan siapa yang paling pantas menggantikan posisi Sang Hyang Tunggal.

Mereka bertiga menyepakati bagi siapa saja yang berhasil makan gunung, maka dialah yang pantas menggantikan posisi Sang Hyang Tunggal. Togog maju pertama kali, ia makan gunung dengan cara langsung melahapnya. Karena tidak muat, hal tersebut membuat bibir Togog robek.

Semar yang telah melihat hal tersebut kemudian sadar bahwa gunung tidak bisa dilahap mentah-mentah. Semar lantas menggunakan cara lain, ia memakan gunung sedikit demi sedikit.

Hal tersebut kemudian berakibat pada perut Semar yang menggemuk. Saat Batara Guru hendak memakan gunung, mereka bertiga akhirnya ketahuan oleh ayah mereka. Mereka pun dimarahi lalu diusir ke bumi.

Ini merupakan cerita versi naskah Purwacarita seperti yang diungkapkan oleh Dr. H. Fahruddin Faiz, S.Ag., M.Ag. Melalui cerita tersebutlah akhirnya kita tahu mengapa Togog dalam pewayangan digambarkan mulutnya begitu besar, dan mengapa Semar bertubuh gemuk.

Terlepas dari cerita tersebut ternyata Semar memiliki banyak filosofi. Filosofi di sini bukan tentang apa yang diajarkan Semar, melainkan apa yang ada pada diri Semar itu sendiri. Berikut filosofi Semar menurut Dr. H. Fahruddin Faiz, S.Ag., M.Ag.

1. Filosofi Nama

Semar memiliki nama asli Ismaya, artinya maya atau samar. Semar, bila hanya dilihat dengan mata telanjang, ia nampak tidak jelas/semu secara ilmu dan kebijaksanaan. Namun, bila diselami ternyata Semar menyimpan banyak mutiara pengetahuan yang sangat berharga.

Berbanding terbalik dengan Batara Guru, ia mempunyai nama asli Manikmaya, di mana nama tersebut bermakna mutiara yang semu. Secara lahiriah, Batara Guru tampak seperti mutiara.

Namun, bila diselami lebih dalam, Batara Guru tidak bisa mengimbangi mutiara pengetahuan yang tersimpan dalam diri Semar. Oleh sebab itulah, bila terjadi perdebatan antara keduanya, Semar selalu menjadi pemenang.

Semar juga memiliki nama lain, yakni Badranaya. Nama Badranaya tersebut mengacu pada fungsi atau peran Semar. Bila dikupas, nama Badranaya berasal dari kata Badra/Bebadra (artinya membangun dari bawah) dan Naya (artinya utusan dari atas).

Sederhananya, Semar ini adalah utusan tapi juga orang biasa. Dalam proses mencari pengetahuan, Semar melakukan dengan upayanya sendiri sekaligus mendapat bantuan dari atas.

Pak Fahruddin Faiz mengungkapkan bahwa para wali biasanya ‘Naya’, maksudnya mereka sering mendapat pengetahuan yang berasal dari ilham yang diberikan oleh Allah swt. Sementara itu masyarakat awam pada umumnya ‘Badra’, mereka belajar dan mencari hikmah sendiri.

2. Filosofi Fisik

Ada beberapa hal menarik dari gambaran fisik tokoh Semar yakni.

a. Semar itu bukan laki-laki, juga bukan perempuan. Masyarakat selama ini menganggap bahwa Semar adalah laki-laki. Sebenarnya, secara tidak sadar hal tersebut merupakan kesan yang ditimbulkan oleh kentalnya budaya patriarki.

b. Tangan kanan ke atas, tangan kiri ke bawah. Hal seperti ini mirip dengan yang ada pada tarian sufi Jalaluddin Rumi (disebut juga dengan Whirling Dervishes). Makna dari simbolisme tersebut adalah menunggu anugerah dari yang di atas, dan ketika sudah dapat maka jangan lupa untuk membaginya pada yang di bawah. Secara tidak langsung ini merupakan ajaran supaya kita semua tidak menjadi pribadi yang egois, supaya kita menjadi pribadi yang selalu berkenan berbagi.

c. Memiliki kuncung rambut seperti anak-anak, tetapi berwajah tua. Ini merupakan syarat yang harus dimiliki oleh ‘insan kamil’ (manusia sempurna). Maksudnya, untuk mencapai derajat ‘insan kamil’, seseorang harus memiliki sisi kejernihan (seperti yang dimiliki anak-anak) sekaligus sisi kematangan (seperti yang dimiliki orang tua).

Matanya digambarkan seolah menangis, tapi bibirnya menyiratkan tawa. Ini merupakan gambaran isi kehidupan, yakni momen duka dan momen suka. Semua itu pasti terjadi pada setiap orang, dan itu tak terhindarkan.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak